Usdi Permana, Pencetak Atlet Angkat Berat Kelas Dunia

Bandung - Sosoknya ramah dan murah senyum meski baru bertemu orang yang baru dikenalnya. Kesan baik ini muncul ketika BeritaBaik.id bertemu dengan sosok Usdi Permana di Gedung PABSI Jawa Barat, Kota Bandung.

Usdi adalah pelatih angkat berat. Ia menekuni profesi tersebut sejak tahun 2000 selepas pensiun sebagai atlet angkat berat profesional. Mampu menuai banyak prestasi saat menjadi atlet, hal itu berlanjut setelah ia menjadi pelatih.

Sudah tak terhitung berapa banyak atlet angkat berat hebat yang dicetaknya. Deretan prestasi juga sudah tak terhitung, dari mulai prestasi tingkat lokal, regional, nasional, hingga internasional.

Sebagai pelatih dari Kontingen Jawa Barat, di antaranya ia pernah membawa atletnya mampu meraih empat medali emas pada PON 2000 Surabaya, lima emas di PON 2004 Palembang, delapan emas di PON 2008 Kalimantan Timur, lima emas di PON 2012 Riau, dan lima emas di PON 2016 Jawa Barat.

"Semuanya juara umum (di cabor angkat berat), kecuali yang di Palembang," kata Usdi.

Untuk tingkat internasional, atlet binaannya pernah mengenyam gelar juara dunia, contohnya M Yusuf pada 2019 di Dubai. Dalam kejuaraan dunia itu, Yusuf juga memecahkan rekor dunia dengan angkatan 346 kilogram.

Ada juga Ane Veronica yang pada 2018 lalu menjadi juara Asia dalam kejuaraan di Filipina. Berikutnya ada Asep Nurdin yang menjuarai kejuaraan tingkat Asia di Hongkong pada 2019.

"Alhamdulillah, untuk pribadi saya sangat puas, sudah terpenuhi cita-cita saya ingin juara PON, juara Asia, juara dunia," ungkap Usdi.
Namun, meski bangga dan puas dengan pencapaian yang ada, ia tetap membidik banyak prestasi lain bersama para atlet binaannya. Yang terdekat, ia membidik bisa jadi juara umum di ajang PON dan Peparnas di Papua pada 2021 mendatang.

Senang Melatih Disabilitas
Usdi sendiri memang jadi spesialis pelatih angkat berat. Bahkan, ia melatih dua atlet berbeda, yaitu atlet umum dan disabilitas. Khusus untuk disabilitas, ia mengaku memiliki kesenangan dan kenikmatan tersendiri melatih mereka. Apalagi jika mereka mampu menuai prestasi manis.

"Saya senang membantu teman-teman disabilitas karena saya cukup dekat dengan mereka," ucap Usdi.

Selain ingin membuat mereka berprestasi, ia merasa tertantang melatih disabilitas agar jadi atlet angkat berat yang andal. Karena itu, ia menjalani dua kesibukan sekaligus sebagai pelatih. Di satu sisi ia melatih atlet umum, di sisi lain juga melatih atlet disabilitas.

Setiap atlet yang digemblengnya pun memiliki tantangan berbeda. Untuk atlet tunanetra misalnya, ia harus memberi pemahaman dan teknik yang mudah dipahami. Untuk tunarungu, ia cukup terkendala bahasa agar segala instruksinya bisa dimengerti dan dijalankan.

"Untuk tunadaksa, tekniknya juga beda-beda karena kondisi fisiknya beda, kita harus menyesuaikan tekniknya," ungkap Usdi.

Untuk mencari bibit atlet dari disabilitas juga tak mudah. Bahkan, ia kerap memberikan pemahaman sekaligus motivasi agar mereka tertarik dan konsisten menjadi atlet angkat berat.

Namun, meski sulit, ia selama ini bisa mendapatkan atlet angkat berat disabilitas. Ia juga merasa terbantu dengan NPCI di berbagai daerah di Jawa Barat.

"Mereka ini luar biasa, nurutnya bukan main dan pemahaman mereka biasanya lebih mudah (saat diberikan instruksi)," jelas Usdi.

Misi dan Kunci Berprestasi
Kini, Usdi sedang sibuk mempersiapkan atletnya untuk bermain di cabor angkat berat PON/Peparnas 2021 di Papua. Meski sempat terkendala pandemi COVID-19 sekitar 2,5 bulan, proses latihan secara bertahap bisa dilakukan normal.

Penerapan protokol kesehatan pun diberlakukan di sekitar tempat latihan. Tim pelatih dan atlet juga diminta menjalankan protokol kesehatan dalam keseharian di luar latihan.

Prestasi tinggi pun dikejar Usdi, yaitu juara umum PON/Peparnas 2021. Ia ingin meneruskan tradisi pribadi yang sering membawa atletnya menjadi juara umum di cabor angkat berat.

Selain itu, secara khusus ia juga ingin memenuhi target yang dibebankan NPCI Jawa Barat kepadanya. Ia merasa tertantang mewujudkannya mengingat besarnya dukungan dari NPCI dalam berbagai hal untuk membantunya dalam kelancaran melatih.

Belum pernah jadi juara umum di cabor angkat berat Peparnas juga tantangan tambahan. Sebab, hal itu belum pernah ia wujudkan sampai sekarang meski beberapa atletnya sudah berprestasi.

"Saya ingin juara umum di Peparnas tahun depan, karena bantuan dan segala macamnya dari NPCI selama ini sudah dipenuhi," tutur Usdi.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler