Cerita Euis Fitri, dari Polio hingga Jadi Atlet Angkat Berat

Bandung - TemanBaik, kali ini kita akan mengangkat seorang sosok atlet disabilitas. Namanya adalah Euis Fitri Nuraeni, anak bungsu dari tujuh bersaudara asal Bandung. Simak cerita perjalanan Euis, yuk!

Perempuan berusia 38 tahun ini diketahui mengidap polio sejak usia 2 tahun. Saat itu, ia kesulitan berdiri. Berobat pun sudah dilakukan ke sana-ke mari, tapi hal itu tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, ia harus menerima kenyataan tak bisa berjalan biasa dengan kedua kakinya seperti orang lain.

Sejak usia 7 tahun, ia pun mulai membiasakan diri berjalan dengan alat bantu berupa tongkat. Hal itu terus dilakukannya hingga saat ini. Dalam beragam aktivitas, tongkat yang jadi penyangga di kedua lengannya jadi tumpuan untuk membantunya berjalan.

Namun, ia bersyukur. Sebab, meski kedua kakinya tak bisa digunakan berjalan seperti orang lain pada umumnya, ia tak mendapat perlakuan negatif atau diskriminasi. Ia mengaku memiliki keluarga dan teman-teman yang mengerti dengan keadaannya.

"Alhamdulillah, dari keluarga sampai teman-teman enggak ada yang bullying, saya juga enggak pernah minder. Mereka mengerti kondisi saya," kata Euis kepada BeritaBaik.id.
Senang Tantangan
Singkat cerita, Euis mengenal dunia angkat berat. Ia kemudian tertarik untuk terjun menjadi atlet angkat berat. Sejak 2015, ia akhirnya serius menekuni profesi sebagai atlet.

Salah satu alasannya menjadi atlet angkat berat adalah besarnya tantangan. Sebab, dalam angkat berat, ada berbagai tahapan yang perlu dilalui, jumlah berat angkatan pun bakal terus bertambah.

"Tetariknya gitu, tantangannya besar dan olahraga ini enggak mainstream (bagi perempuan). Saya juga senang menjalaninya," ucap Euis.

Di saat yang sama, ia juga menjadikan profesinya sebagai pembuktian diri. Meski seorang disabilitas, ia ingin membuktikan bisa meraih prestasi membanggakan melalui olahraga.

"Ini jadi pembuktian buat keluarga dan teman-teman saya," ungkapnya.

Euis pun sudah mengikuti beberapa kejuaraan, mulai dari Pekan Olahraga Daerah (Porda), Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas), hingga kejuaraan nasional (kejurnas). Semuanya dilakukan sejak 2016.

Prestasi yang pernah diraih di antaranya medali emas Porda 2018 dan medali perak 2019. Itu jelas jadi hal membanggakan di tengah ragam usaha kerasnya dalam berlatih dan bertanding.

Kini, ia sedang membidik medali emas di cabang olahraga angkat berat pada Peparnas 2021 yang bakal digelar di Papua. Ia pun berusaha keras berlatih dengan konsisten.

"Saya ingin dapat medali emas di Peparnas. Sekarang sering-sering berdoa dan latihan biar bisa mewujudkan impian itu," tutur Euis.

Selain meraih medali emas, ia juga punya target tersendiri. Tahun depan, ia ingin bisa mengangkat beban hingga menembus angka 100 kilogram.

Dengan berat badan saat ini 57 kilogram, Euis sendiri sudah mampu mengangkat beban hingga 80 kilogram. Sehingga, ia optimistis secara bertahap akan bisa mewujudkan target mengangkat beban hingga 100 kilogram.

"Targetnya tahun depan harus bisa lebih dari 100 kilogram. Tapi memang perlu proses dan latihan. Kalau latihannya sering, proses naik (beban angkatannya) juga bisa cepat," ucapnya.

Pesan Bagi Disabilitas
Tanpa bermaksud menggurui, Euis memberi pesan khusus bagi sesama disabilitas. Memiliki kondisi fisik atau fungsi tubuh tak seperti orang lain jangan dijadikan hambatan untuk maju dan berprestasi.

Ia memandang siapapun bisa melakukan apapun meski dengan kondisi fisik berbeda. Kata kuncinya adalah membangun rasa percaya diri.

"Pesan saya juga jangan malu dengan kondisi fisik kita, harus percaya diri, harus semangat berjuang. Karena mau jadi apapun bisa," ajak Euis.

Bukan asal bicara. Euis sendiri sudah membuktikannya. Meski secara fisik ia kesulitan berjalan dengan kedua kakinya, prestasi bisa diraih. Namun, kerja keras tentu harus dilakukan. Sebab, impian tanpa kerja keras akan sulit diwujudkan.

Foto: Euis Fitri Nuraeni/Oris Riswan Budiana/BeritaBaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler