Kisah Sukardi, Setengah Abad Merawat Makam Leluhur

Bandung - TemanBaik, pernah mampir ke situs sejarah Makam Para Bupati Bandung di Kecamatan Astana Anyar? Ya, di balik ribuan pengunjung yang berziarah ke sini, ada beberapa orang yang setia menjaga dan membersihkan tempat peristirahatan terakhir dari para tokoh-tokoh Bandung masa lampau.

Ya, namanya Sukardi (71). Ia adalah kokolot atau orang yang dituakan di antara para penjaga situs Makam Para Bupati Bandung dan Pahlawan Nasional Dewi Sartika. Untuk kamu yang belum tahu, situs pemakaman ini adalah tempat peristirahatan para pemimpin Bandung era Wiranatakusumah. Bukan hanya pemimpin di Bandung saja, pahlawan nasional Dewi Sartika pun dimakamkan di situs pemakaman ini. Nah, kabarnya ada 11 orang yang aktif sebagai penjaga di pemakaman ini.

Saat dikunjungi Beritabaik.id, ia baru saja membersihkan ranting dan dedaunan yang berserakan di sekitar pemakaman. Di sela-sela waktu istirahatnya, Sukardi menceritakan kalau dirinya memang sudah menjalankan profesi ini sejak awal dekade 70-an.

"Saya asli sini, lahir di sini di sini di Kelurahan Karang Anyar. Dulunya kakek saya kerja di sini (sebagai penjaga makam) juga," terang pria kelahiran 10 Desember 1949 ini.


Penjaga makam di Makam Para Bupati Bandung dan Pahlawan Nasional Dewi Sartika ini bisa dibilang sudah turun temurun. Sejak tahun 1800-an, kakek dari Sukardi sudah menjadi penjaga makam. Lalu pekerjaan ini diturunkan kepada ayahnya, dan kini dijalani Sukardi, dan juga dengan seorang adiknya bernama Hidayat (69). Ia lahir di era Bandung Lautan Api. Saat itu, ia menceritakan saat sang Ibu mengandung dirinya, satu keluarganya baru saja mengungsi setelah peristiwa Bandung Lautan Api membuat rumahnya terbakar.

"Jadi, pas pulang ke sini setelah mengungsi itu, rumah baru dibakar," jelasnya.

Ia menjalani masa kecil dan remaja di sini. Selepas sekolah menengah dari Daya Siswa, ia sempat bekerja serabutan di beberapa tempat. Setelah menjajal test menjadi Pegawai Negeri dan selalu kandas, ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan turun temurun di silsilah keluarganya, yaitu menjaga situs pemakaman para Bupati ini.

Baca Ini Juga Yuk: Sisi Lain di Balik Pencarian Sumber Panas Bumi

Saban hari, ia datang ke area pemakaman sekitar pukul tujuh. Pekerjaan yang dilakukannya antara lain menyapu dan membersihkan makam-makam yang ada di sana. Total ada sekitar 1.500 makam yang terletak di kawasan Karang Anyar, Kelurahan Karang Anyar, Astana Anyar. Ada pula beberapa makam yang terletak di Jalan Dalem Kaum. Ia baru kembali ke rumah pada sore hari. Di situs pemakaman itu, ia juga melibatkan istri dan adiknya untuk saling membantu membersihkan makam. Setelah pekerjaan membersihkan makamnya itu selesai, Sukardi akan kembali ke rumahnya, yang masih berada di kawasan pemakaman tersebut.

Tidak hanya merawat pemakaman saja, ia juga turun tangan dan mengurusi saat ada pemakaman, atau saat ada keluarga yang hendak membangun makam. Saat berdialog dengan kami pun, ia nampak sibuk mondar-mandir karena akan ada keluarga yang hendak membangun makam leluhurnya. Proses mengurusi pemakaman ini disebutnya sebagai tantangan. Di usianya yang sudah masuk usia senja, kemampuan fisik Sukardi boleh jadi tak semaksimal saat ia masih muda dulu. Sehingga mondar-mandir mengurusi pemakaman dan pembangunan makam pun mungkin terasa melelahkan.

Selain itu, tantangan lain yang diceritakan Sukardi adalah saat ia menemui sekelompok orang yang sembarangan masuk dan mengotori area makam. Ia beberapa kali menegur pengunjung yang kedapatan buang sampah sembarangan saat berziarah, atau saat ada orang dari luar yang masuk ke area pemakaman dan tidak menjaga kebersihan.

"Ya memang sih udah ada yang kerja, udah ada yang beresin. Tapi kan bukan berarti bisa seenaknya gitu ngebuang sampah sembarangan," imbuhnya.

Pekerjaan ini kabarnya turun lagi ke salah satu putranya. Ya, Sukardi memiliki 3 orang anak. Seorang perempuan, dan dua lainnya laki-laki. Sang putri saat ini tinggal di Banjarmasin, sementara dua putranya tinggal di Bandung. Salah satu dari putranya yang kini meneruskan profesi Sukardi dulunya pernah menjajal profesi sebagai masinis Kereta Api. Namun, dikatakan Sukardi, sang putra mengalami depresi, sehingga meninggalkan profesi lama tersebut dan membantunya menjalankan pekerjaan sebagai penjaga makam. Sayangnya, saat kami berkunjung, sang putra yang dimaksud sedang tidak ada di rumah sehingga kami tidak bisa berbincang lebih jauh.

Pelajaran dari Pekerjaan
Menjalankan profesi sebagai penjaga makam, boleh jadi bukan menjadi pilihan utama. Namun, Sukardi menyebut ada banyak pelajaran dari pekerjaan yang telah ditekuninya selama hampir lima dekade ini. Salah satu pelajaran yang bisa ia ambil adalah; semua yang dimiliki oleh manusia semasa hidup itu hanya bersifat sementara. Apa yang dikatakan Sukardi nampak masuk akal karena banyak tokoh besar di masa lampau yang dimakamkan di sini. Bahkan, Sukardi merupakan salah satu orang yang turun tangan langsung memakamkannya.

"Coba kita lihat, semua yang di sini itu dulunya, mungkin, punya harta, punya kekuasaan, dan punya hal-hal lainnya yang bersifat duniawi. Tapi, setelah kehidupan di dunia selesai, enggak ada yang dibawa selain kebaikan," ujarnya. Ia menghela nafas sejenak saat menceritakan hal ini.

Berupaya untuk terus membantu sesama dan berbuat baik adalah hal yang coba diterapkan Sukardi. Ia mempercayai hal itulah yang akan menyelamatkan manusia di kehidupan berikutnya. Penghasilan yang didapatkannya dari pekerjaan menjaga makam ini boleh jadi tak seberapa, namun, ia percaya rejeki tidak akan tertukar. Beberapa penjaga makam lainnya ada yang mengaku kalau di samping penghasilan dari menjaga makam, mereka mencari penghasilan lain seperti berjualan atau bekerja serabutan lain. Namun hal itu tidak berlaku bagi Sukardi. Ia boleh dibilang full timer dalam pekerjaannya.

Dari penghasilannya menjaga makam tersebut, ia memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia mendapat penghasilan bulanan dan pemberian dari pengunjung makam sebagai wujud terima kasih karena sudah menjaga makam leluhurnya. Filosofi rejeki tak akan tertukar ia percayai karena dengan profesinya saat ini, ia bisa menyekolahkan putranya hingga sarjana. Putrinya yang kini tinggal di Banjarmasin, merupakan salah satu jebolan universitas di tanah Kalimantan.

Sebagai penutup, ia berharap dapat terus menjalankan pekerjaan ini hingga akhir hayatnya. Ia mengaku sudah nyaman berada di lingkungan ini, lingkungan sekitar yang disebutnya tak pernah berubah sejak ia kecil hingga usia senja.

"Kalau ngurus makam mah saya berharapnya bisa terus sampai saya meninggal. Ngurus makam dan ngurus mayat itu kayak kita latihan, oh nanti kita bakal kayak gitu juga," pungkasnya.

TemanBaik, ada banyak situs sejarah di Indonesia. Namun, peran para perawat sejarah itu sehari-hari tak jarang terlupakan oleh kita. Sehat selalu untuk para perawat situs sejarah yang ada di Indonesia!

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler