Rini Rajani, Tak Sekadar Mengajar Teman Tuli

Bandung - TemanBaik, di momentum Hari Tunarungu pada 28 September 2020 ini, kita bahas soal #SosokBaik, yuk! Namanya Rini Rajani (55), seorang guru di SLBN Cicendo Kota Bandung.

Ia sudah 5 tahun mengajar di sana, tepatnya sejak 2015. Namun, jauh sebelumnya, ia mengajar selama 15 tahun di SLB B Prima Bhakti Mulia. Itu artinya, sudah 20 tahun ia berkarier sebagai guru SLB. Jelas waktu yang tak sebentar.

Dari perjalanan yang dilalui, tentu ada banyak pengalaman menarik dan sulit dilupakan. Bahkan, saking banyaknya, sulit jika harus menyebutkannya satu per satu.

Namun, yang paling berkesan tentu adalah hubungan antara Rini dan para muridnya, yang terjalin bukan semata-mata hubungan antara guru dan murid. Lebih dari itu, ia menjadi ibu bagi para muridnya.

"Banyak hal yang sangat berbeda (antara guru sekolah umum dan SLB). Hubungannya lebih personal, tidak hanya sebagai murid dan guru saja," kata Rini kepada BeritaBaik.id.

Sebagai guru, ia jelas bertugas mengajarkan berbagai mata pelajaran sesuai bidang dan keahliannya. Namun, di luar itu, menjadi guru SLB membuat perannya bertambah. Ia harus menerapkan pengasuhan kepada muridnya.

Hal itu bukan sesuatu yang mudah. Sebab, menangani tunarungu atau teman Tuli butuh kesabaran ekstra. Bahkan, terkadang ada yang emosinya meledak-ledak.

Baca Ini Juga Yuk: 'Terapi Holistik' ala Prinska Damara Sastri

Namun, hal itu dihadapi dengan penuh kesabaran. Sebab, baginya menjadi guru bukan sekadar bertugas mengajar. Ia berusaha membimbing murid-muridnya agar jadi pribadi yang lebih baik.

"Makanya menghadapi anak-anak ini bukan hanya sebagai guru, tapi kita jadi pengasuh," tuturnya.

Bercita-cita Jadi Dokter
Rini sendiri menikmati profesinya sebagai guru. Namun, menjadi guru ternyata bukan cita-citanya. Ia justru sangat berkeinginan menjadi dokter. Namun, ada kendala yang membuatnya tak bisa mewujudkan cita-citanya.

Ia lalu memutuskan berkuliah di bidang pendidikan khusus. Namun, di sana justru ia menemukan hal yang disukainya dan berkaitan dengan dunia kedokteran.

"Ternyata di semester satu-dua di tahun pertama itu ada banyak mata kuliah yang ilmunya ilmu kedokteran. Dosennya juga banyak yang dokter," ujar Rini.

Dari sana, ia mendapatkan banyak ilmu. Singkat cerita, ia pun akhirnya mengajar di SLB. Namun, ia mengaku tak terlalu kaget ketika mengajar anak-anak di SLB.

"Enggak kaget sih karena sebelum ngajar kan pernah mengalami praktik lapangan. Waktu kuliah semester tujuh itu kita ngajar selama tiga bulan," tuturnya.

Pengalaman itu membuatnya cukup memiliki pengetahuan bagaimana cara efektif mengajar di SLB. Yang paling penting selain kemampuan mengajar adalah kemauan menjadi pengasuh. Selain itu, pendekatan perlu terus dilakukan, bukan hanya di awal pertemuan saja.

Disinggung soal rasa kesal, ia mengaku sesekali memang ada. Namun, hal itu bukan dijadikan alasan untuk melunturkan semangat. Ia menekan ego dan rasa kesalnya.

Sehingga, ia selalu berusaha menjadi pribadi yang ramah dan menempatkan diri sebagai orang tua bagi siswa. Sebab, salah sikap saja akan berdampak fatal. Siswa bisa jadi tak mau belajar akibat perilaku guru yang tak bisa menahan kesabaran.

"Contohnya kalau kita marah, jangan sampai membuat mereka takut. Ekspresi kita harus dijaga, mata jangan sampai melotot, karena hal-hal seperti itu bisa membuat anak takut," tutur Rini.

Lalu, jika murid susah memahami apa yang diajarkannya, ia justru tak menyalahkan mereka. Rini lebih memilih introspeksi. Ia justru berpikir jangan-jangan cara mengajarnya yang salah atau sulit dipahami siswa.

"Kalau saya, anak susah ngerti itu bukan kesel, tapi malah berpikir jangan-jangan kita yang salah," ungkapnya.

Kepuasan Sederhana
Selama 20 tahun mengajar, tentu ada banyak kepuasan yang dialaminya. Yang paling sederhana adalah siswa bisa memahami apa yang diajarkannya. Yang lebih jauh, kepuasannya adalah ketika siswanya bisa mandiri.

Kepuasan lainnya adalah ketika siswanya tak melupakannya. Ketika sudah tak lagi jadi murid, mereka tetap dekat dengan Rini dan menjaga komunikasi.

"Alhamdulillah, selama ini anak-anak yang sukses (sudah mandiri) tidak pernah lupa, masih komunikasi, masih suka ada yang main ke rumah," tutur Rini.

Salah satu yang berkesan baginya adalah ada beberapa muridnya yang sudah bekerja. Ketika menerima gaji pertama, mereka mengingat Rini dan sengaja datang membawakan sesuatu. Meski yang dibawa adalah hal sederhana, misalnya kue, itu sangat bermakna baginya dan tak ternilai dengan nominal uang berapapun.

Ia sendiri tak pernah berharap mendapat balas jasa apapun dari muridnya. Sebab, mengajar dan mengasuh mereka jadi sebuah pengabdian dan #AksiBaik.

Faktor kedekatan yang dibangun bertahun-tahun selama mengajar itulah kuncinya. Sehingga, siswa begitu lulus tak menganggap hubungan dengan gurunya 'berakhir'.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler