Kisah Nara dan Ribuan Foto Keluarga yang Diabadikannya

Bandung - Momen kebersamaan dengan keluarga saat berlibur akan terasa lengkap saat kita memiliki potret kebersamaan tersebut. Sebetulnya di tempat wisata, ada seseorang yang pekerjaan sehari-harinya mengabadikan kebersamaanmu bersama keluarga, namun perannya kadang terlupakan oleh ribuan pengunjung. Ya, dialah fotografer keliling!

Salah satu fotografer keliling yang kami jumpai kali ini bernama Nara. Pria kelahiran 1979 dan merupakan warga asli Cihampelas Bandung ini sudah terbiasa memotret kebersamaan keluarga yang sedang mengunjungi tempat wisata. Beritabaik.id punya kesempatan berbincang dengannya selepas Nara bekerja di Kebun Binatang, Bandung. Kendati mengaku lupa detailnya, Nara menyebut dirinya sudah menjalankan profesi ini sejak tahun 2003.

Perkenalannya dengan dunia fotografi berawal dari pergaulannya bersama teman sebaya dan senior saat masa muda dulu. Ia mengaku terkagum-kagum saat melihat kamera milik orang tua temannya. Dengan modal meminjam kamera dan menjadi asisten fotografer untuk beberapa acara "nikahan kampung" hingga wisudaan, Nara mempelajari fotografi secara otodidak.

Tak disangka, kegemaran itulah yang akhirnya jadi sumber penghidupan Nara. Ia tidak punya pekerjaan lain selain memotret.

"Udah lama banget kalo belajar motret. Saya reguler motret begini (di Kebun Binatang) aja mungkin udah ada 10 tahun. Di dekat tempat tinggal saya dulu banyak orang yang bisa motret. Jadi saya belajar dari mereka," ujarnya.


Setelah belajar otodidak, Nara langsung memotret di beberapa acara wisuda. Setelah lama memotret di acara wisuda, ia juga banyak motret di acara-acara perpisahan, atau acara keramaian yang monumental. Gaya foto yang digunakannya kebanyakan candid, alias memotret diam-diam, lalu mencetak foto dan menjual hasil cetakannya.

Meski bisa saja menimbulkan ketidaksukaan seseorang yang dipotret, namun nyatanya hasil foto candid para fotografer tempat wisata masih diminati oleh pengunjung dengan jumlah yang tak sedikit. Nara sendiri mengaku, meski tidak semua hasil cetakan fotonya terjual, namun dalam sehari, setidaknya setengah dari jumlah foto yang ia cetak bisa terjual.

Baca Ini Juga Yuk: Rini Rajani, Tak Sekadar Mengajar Teman Tuli

Dalam sehari, ia membawa 4 hingga 5 kartu memori. Ia menghitung dalam satu jam, foto yang selesai dijepretnya harus sudah tercetak. Sebab, jika ia membiarkan foto tersebut seharian, maka foto tersebut sulit untuk terjual karena boleh jadi orang yang masuk ke dalam bingkai foto sudah pulang dan ia tidak bisa menawarkan hasilnya.

Hasil cetakan foto yang ditawarkannya kepada pengunjung berkisar di angka Rp25 ribu hingga Rp 30ribu untuk dua bingkai foto. Jumlah tersebut masih sering ditawar dengan harga yang jauh lebih murah oleh pelanggan.

Selain rendahnya harga tawar, hal yang dianggap tantangan pekerjaan oleh Nara adalah risiko dirinya dimarahi oleh pengunjung yang tak suka dipotret. Namun, biasanya jika sampai ditegur, dirinya akan meminta maaf dan menjelaskan kalau ia hanya mencoba mengabadikan kebersamaan orang tersebut dengan keluarganya.

"Ya kalau mau dibeli syukur, tapi kalau enggak juga enggak apa-apa. Namanya juga fotografer spekulasi," katanya.

Dari satu kali proses cetak, biasanya ada 100 bingkai foto yang dicetak Nara. Seperti tadi disebutkan, ada setengahnya atau ada sekitar 50 hingga 60 bingkai foto yang terjual. Ia juga mengaku tak masalah dengan kehadiran kamera ponsel sebagai alat foto bagi para pengunjung. Menurutnya, rejeki sudah ada yang mengatur, sehingga ia hanya menjalankan pekerjaan yang ia senangi saja. Namun di sisi lain ia menilai keunikan foto-foto yang dijual oleh fotografer dadakan di tempat wisata akan jadi daya tarik tersendiri para pembeli.



Sebab biasanya dalam potret satu keluarga, di sana akan tercantum keterangan bahwa keluarga ini mengunjungi tempat wisata tertentu, rinci hingga ke tanggal dan jamnya. Nah, kenangan inilah yang jadi daya tarik untuk kemudian jadi bahan perbincangan di masa yang akan datang. Kamu pernah mengalaminya di keluarga enggak, TemanBaik?

Di Kebun Binatang Bandung, Nara bekerjasama dengan tim cetak dan tim penjual bingkai foto. Jadi, setelah satu jam memotret tadi, ia akan memberikan kartu memori kepada tim cetak. Lalu kemudian foto tersebut dicetak dan siap dijual di salah satu titik pintu keluar Kebun Binatang Bandung.

Sebelum masa pandemi, ada dua tim foto dadakan di Kebun Binatang Bandung. Namun karena beroperasi di masa pandemi yang mengakibatkan beberapa akses keluar-masuk ditutup, akhirnya dua tim itu dibagi waktu kerjanya secara bergiliran. Satu pekan untuk Nara dan timnya, satu pekan lagi untuk tim kedua.

Dalam sehari, ia mengaku mendapat untung yang fluktuatif. Ia merata-ratakan penghasilan hariannya berkisar Rp70 ribu hingga Rp100 ribu. Penghasilan tersebutlah yang digunakannya menghidupi keluarga kecilnya. Sebagai informasi, saat ini Nara punya dua orang putra dan tinggal di Gang Bangunan, Cihampelas, Bandung.

Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, biasanya Nara juga bakal datang ke acara wisuda untuk memotret. Begitu ada kabar wisuda di sebuah kampus dan mengetahui lokasinya, ia langsung berangkat dan mejeng dari pagi sampai siang, bahkan sore hari. Saban ada orang turun dari mobil atau menemukan momen kebersamaan, maka "jepret!", ia akan memotretnya.

"Kalau wisudaan sepi mah, saya di sini aja di Kebun Binatang. Ibaratnya regulerannya di sini, buat nambah-nambah atau freelance-nya di acara nu saharitaeun (satu kali itu terjadinya) kayak wisudaan," ujar Nara.

Beberapa kali juga ia mengerjakan proyek foto nikahan. Namun, ia tak ragu menyebut foto nikahan yang digarapnya sebagai foto "nikahan kampung" yang biasa digelar di gang-gang kecil. Ia menyebut biasanya akan berdiskusi soal tarif dengan "klien"-nya. Proyek memotret nikahan ini juga diakuinya menjadi penghasilan tambahan, kalau-kalau penghasilan dari memotret di Kebun Binatang dirasa masih kurang.

Belasan tahun memotret, Nara menyebut punya banyak kenangan dan suka duka. Bahkan ia pernah sampai mengalami kecelakaan di tengah pekerjaannya. Jadi, satu ketika saat Nara memotret rombongan studi wisata, ia tak menyadari kalau kunjungan rombongan tersebut berlangsung singkat. Nara yang terlambat mencetak foto kemudian mengejar rombongan tersebut. Saat mengejar rombongan itulah, ia mengalami kecelakaan.

"Kamera dan motor diservis. Begitu pula kaki saya. Tapi, ya seru-seru aja sih. Itu bagian dari kerjaan yang saya anggap menyenangkan," kenangnya.

Dampak dari pandemi korona yang mengakibatkan berkurangnya interaksi sosial di keramaian juga dirasakan langsung oleh Nara. Kunjungan ke tempat wisata yang jumlah pengunjungnya tak semasif dulu, acara wisuda yang kini digelar virtual, dan masih banyak lahan Nara mencari penghasilan yang kini masih belum pulih dan dalam masa adaptasi. Nara kemudian berharap keadaan yang terjadi saat ini bisa segera pulih, agar ia bisa memotret lebih banyak momen kebersamaan dan interaksi sosial lagi.

Ia juga berharap kesehatan fisiknya tetap terjaga. Sebab menurutnya, jika ia sampai sakit, maka boleh jadi yang terkena dampaknya bukan hanya dirinya seorang, namun juga keluarganya di rumah.

"Karena untuk anak istri mah, walaupun cari uang susah, tapi tetep enggak bisa enggak punya uang. Kebutuhan harus terpenuhi," pungkasnya.

TemanBaik, rupanya dalam kegiatan berlibur atau momen bahagia kita, enggak jarang ada orang yang berniat baik namun tidak kita sadari keberadaannya. Contohnya seperti Nara dan rutinitasnya. Di balik tampilannya yang kadang membuat bingung orang karena tiba-tiba memotret, rupanya ada cerita seru juga di baliknya. Nah, lalu apakah kamu masih punya potret kebersamaan dengan keluarga di tempat wisata? Apa yang kamu ingat tentang foto tersebut?

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler