Sisi Lain Pemain Persib Kim Jeffrey Kurniawan

Bandung - TemanBaik, terutama penggemar sepak bola Indonesia, tentu tak asing dengan nama Kim Jeffrey Kurniawan. Ya, pria 30 tahun ini adalah gelandang Persib Bandung. Ia pun sempat jadi bagian dari Tim Nasional Indonesia.

Kim sendiri merupakan pemain naturalisasi keturunan Jerman. Di sepak bola Indonesia, karirnya bermula di Persema Malang pada 2011 hingga 2013. Sejak awal kedatangannya, Kim menjadi idola bagi publik Malang.

Namun, ia sempat tak memiliki klub dan memilih berkarir sebagai pemain futsal di klub Electric Cosmo PLN pada 2013. Ia kemudian kembali berkiprah di kompetisi sepak bola nasional dengan bergabung bersama Pelita Bandung Raya (PBR) dari 2013 hingga 2015.

Performa apik Kim bersama rekan setimnya saat itu berhasil membawa PBR menembus semifinal ISL 2014. Berkat penampilannya, Persib Bandung kemudian memboyong Kim. Tercatat sejak 2015 hingga kini, ia jadi bagian klub berjuluk 'Maung Bandung' tersebut.

Namun, ada sisi lain yang cukup menarik untuk diulas dari sosok Kim. Selain pesepakbola, Kim merupakan seorang pebisnis. Pria 30 tahun itu bahkan tak hanya menggeluti satu bisnis saja loh.

Sejak masih memperkuat PBR, ia sudah mulai menjajaki bisnis di bidang clothing atau pakaian. Ia menjualnya secara daring dengan nama produk "Kim Kurniawan 23 Limited'. Hingga akhirnya, ia membuka toko offline di kawasan Sulanjana, Kota Bandung, sejak 2019. Clothing itu diberi nama 'Total Football' dan menghadirkan aneka produk fesyen.

Baca Ini Juga Yuk: Kisah Nara dan Ribuan Foto Keluarga yang Diabadikannya

Tak cukup dengan satu bisnis, tak lama berselang ia kemudian merambah bisnis lain. Masih di area yang sama, ia membuka bisnis barunya, yaitu barbershop dengan nama Kim Barber Passion.

Bahkan, baru-baru ini, ia juga memiliki koleksi baru di clothing-nya, yaitu sepatu. Untuk produk ini, ia bekerjasama dengan salah seorang rekannya. Sehingga, sepatu ini menjadi deretan baru dari bisnisnya.

Masih belum cukup dengan bisnis yang ada. Kim kini sedang merambah dunia bisnis lainnya. Apa lagi yang digarap?

"Sekarang lagi ingin terjun ke arah dunia kuliner, proyek (bisnis) berikutnya akan di kuliner," kata Kim.

Ia berencana membuka kafe di area yang sama di dekat clothing dan barbershop-nya. Saat ini, tempat usaha barunya itu masih dalam proses pengerjaan. Pada pertengahan atau akhir Oktober 2020 ini, kafenya ditargetkan bisa segera beroperasi.

Ada alasan tersendiri kenapa ia memilih ikut bergerak bisnis kuliner. Sebab, Bandung adalah surganya makanan enak. Sehingga, ia ingin menjadi bagian dari hal itu. Di sisi lain, bisnis kuliner dianggap sebagai hal menjanjikan.

Sebab, makanan akan dicari oleh konsumen. Apalagi jika makanan yang disajikan dapat memanjakan lidah, maka pelanggan akan terus berdatangan. Hal itu akan sejalan dengan keuntungan yang didapat.

Hal yang tak kalah menarik, bisnis kulinernya itu justru akan mulai berjalan di masa pandemi COVID-19. Ini justru jadi tantangan tersendiri. Sebab, banyak pebisnis yang justru kelimpungan di tengah pandemi. Sebaliknya, ia justru membuka usaha baru.

Bagi Kim, rencananya harus tetap dijalankan. Kondisi akibat pandemi tak menyurutkan semangatnya membuka bisnis baru. Sebab, ia berprinsip harus melangkah daripada diam di tempat. Justru, langkah awalnya di tengah pandemi ini diharapkan jadi pondasi kuat untuk perkembangan bisnisnya.

"Kalau kita diam di tempat, enggak akan maju. Kita hidup seperti ini mau sampai kapan? Kita harus tetap hidup (berusaha) dan pelan-pelan bisa jalan," ujar Kim.


                                                                                          Foto: dok. Persib Official

Ide dan Modal Bisnis
Menjalankan bisnis tentu bukan hal mudah. Apalagi, Kim memiliki latar belakang sebagai pesepakbola. Namun, kata kuncinya adalah semangat dan kemauan belajar. Sehingga, bisnis Kim tetap berjalan konsisten hingga sekarang.

Hal yang memacunya terjun berbisnis adalah penghentian kompetisi pada 2015. Saat itu, orang-orang yang menggantungkan hidup dari dunia sepak bola dibuat pusing. Sebab, kompetisi adalah cara mereka mendapatkan uang dari klub.

Beberapa tahun kemudian, liga kembali dihentikan oleh federasi. Hal itu jadi tamparan kedua bagi insan sepak bola. Bahkan, beberapa pesepakbola sampai ada yang beralih profesi dan hidup memprihatinkan karena tak punya pemasukan dari klub.

Kondisi di sepak bola Indonesia itulah yang membuat Kim memantapkan diri berbisnis. Sebab, ia sadar betul tak selamanya bisa hidup dari dunia sepak bola. Saat di usia produktif dan kemampuan masih mumpuni, pesepakbola bisa hidup dari sepak bola. Namun, setelah pensiun, seorang pesepakbola harus berpikir keras mencari pemasukan.

Apalagi, kompetisi sekarang juga kembali terhenti akibat pandemi. Selama sekitar setengah tahun kompetisi ditunda. Bahkan, rencana kompetisi dilanjutkan kembali pada Oktober ini juga akhirnya urung dilakukan.

Karena itulah ia menjalankan bisnis sejak masih aktif sebagai pesepakbola. Harapannya, setelah pensiun sebagai pesepakbola, bisnisnya sudah kuat dan ia bisa memiliki pendapatan untuk menghidupi keluarganya.

"Kalau sepak bola begini terus, masa depan saya sulit, apalagi kalau sudah punya keluarga," ungkap Kim.

Kondisi dunia sepak bola di Indonesia sendiri memang berbeda jika dibandingkan dengan di Eropa. Di Eropa, pemain top seperti Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, hingga Kylian Mbappe, memiliki pemasukan fantastis. Ketika kelak pensiun pun mereka sudah memiliki kekayaan yang lebih dari cukup untuk menopang masa tua.

Namun, di Indonesia tentu berbeda. Gaji yang didapatkan dari klub tak sebesar dari klub Eropa. Bahkan, tak sedikit mantan pesepakbola profesional yang hidupnya justru memprihatinkan setelah pensiun.

Hal itu yang tak ingin dirasakan Kim. Apalagi, sang istri kini sedang mengandung anak pertama. Ia tentu ingin menghidupi dan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka. Sehingga, ia harus menyiapkan masa depannya sebaik mungkin agar tak menggantungkan diri hanya pada dunia sepak bola.

Untuk membangun bisnisnya, Kim memang memanfaatkan uang dari profesinya sebagai pesepakbola. Selain bermodal kegigihan, ia juga punya modal lain. Ia kebetulan pernah kuliah di bidang bisnis di Jerman.

"Dulu kan saya kuliah di Jerman, itu ke arah bisnis dan ekonomi. Cuma memang enggak sampai selesai, hanya jalan 4-5 semester. Habis itu saya pindah ke Indonesia," tutur Kim.

Ilmu dari perkuliahan itu pun dirasa jadi modal berarti untuk bisnisnya. Meski kadang ada yang tidak sesuai atau tidak bisa dijalankan, hal itu dianggap sebagai hal biasa. Selain itu, ia juga menimba pelajaran dan melakukan evaluasi dari naik-turun bisnis yang dijalani.

Ia pun menganggap naik-turun dalam dunia bisnis sebagai hal wajar. Yang terpenting, ia bisa mengambil pelajaran untuk membuat roda bisnisnya berjalan lebih baik dari waktu ke waktu.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler