Ivan Junianto, Guru Serba Bisa yang Mengabdi di Desa Terpencil

Bandung - TemanBaik, menjadi guru bukan hanya sekadar profesi yang dijalankan Ivan Ar Junianto. Baginya, menjadi guru adalah sebuah pengabdian. Ia ingin membantu para siswa menjadi sosok yang pintar untuk bekal menggapai masa depan.

Ivan sudah menjadi guru sejak 2007. Ia ditugaskan mengajar di SDN Cibungur Kelas Jauh Cijuhung. Sekolah ini berada di daerah terpencil dekat Bendungan Cirata, tepatnya di Desa Bojongmekar, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Namanya juga daerah terpencil. Tak ada transportasi umum untuk menuju lokasi. Sehingga, menggunakan kendaraan pribadi jadi solusi jika ingin pergi ke sini. Satu-satunya andalan transportasi warga di daerah ini adalah perahu dan rakit atau getek.

Ivan sendiri tinggal di Kampung Ciwaru. Jarak antara rumah dengan sekolah tempatnya mengajar cukup jauh. Ia sendiri mengaku tak pernah tahu berapa jaraknya. Sebab, ia hanya fokus pada satu tujuan, yaitu mengajar tanpa berpikir panjang soal jarak tempuh.

Sebagai gambaran, jika berjalan kaki, dari rumah menuju sekolah butuh waktu sekitar satu jam. Itu jika kondisi jalan dalam keadaan kering. Jika basah karena hujan atau saat hujan, perjalanan bisa jauh lebih lama.

"Kalau jalan kaki sejam lebih. Perjalanannya naik-turun tiga gunung," kata Ivan.

Perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki dilakukan pria dua anak tersebut dalam kurun 2007-2009. Terbayang enggak melelahkannya berjalan kaki dengan durasi satu jam? Ia pun tak bisa berleha-leha karena khawatir siswanya menunggu lama.



Baca Ini Juga Yuk: Zalnando, Pesepak Bola yang Nyambi Jualan Rendang

Namun, meski terbiasa, rasa lelah kerap mendera. Bahkan, tak jarang ketika tiba di sekolah, ia mengaku ingin istirahat karena letih. Hanya sesekali ia beristirahat ketika tiba di sekolah, itu pun tak lama. Setelah itu, ia akan langsung mengajar dalam kondisi badan yang lelah.

Pada 2009, pergi ke sekolah menggunakan perahu jadi pilihan. Setidaknya, rasa lelahnya tidak sedahsyat dibanding jalan kaki ketika harus pergi dan pulang dari sekolah. Namun, ada biaya yang harus dikeluarkan. Selain itu, waktu tempuh jadi lebih lama karena perahu harus digunakan untuk mengantar penumpang lain lebih dulu dan beberapa kali berhenti.

Ia kemudian memilih beralih menggunakan transportasi darat. Sejak 2010, Ivan menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang mengajar. Ia menggunakan motor bebek milik sang ayah. Namun, karena medan yang ditempuh cukup berat, sepeda motor itu kerap mengalami kerusakan pada berbagai komponennya. Bahkan, sepeda motor itu sampai harus dimodifikasi agar lebih nyaman dipakai.

Maklum, daerah yang dilintasi menuju sekolah adalah perkebunan. Sehingga, jalan yang dilalui kurang ramah. Materialnya berupa tanah dan bebatuan. Tak hati-hati saat melintas, siapapun bisa tumbang dengan sepeda motornya di jalanan. Ivan pun beberapa kali sempat terjatuh. Beruntung, ia mengaku tak pernah mengalami cedera serius yang memerlukan perawatan di rumah sakit.

"Kalau ke Cijuhung mah sering jatuh, apalagi kalau hujan, jalannya licin. Tapi alhamdulillah enggak pernah luka parah, paling nyeri cangkeng (sakit pinggang)," tutur pria 31 tahun tersebut.

Meski menggunakan sepeda motor, bukan berarti waktu tempuh menurun drastis. Ia butuh waktu minimal 45 menit dari rumah ke sekolah. Itu karena ia tak bisa memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi.

Belakangan, ia mendapatkan hadiah sepeda motor trail dari komunitas yang peduli terhadapnya. Keteguhan dan kegigihan mengajar membuat motor itu 'dijodohkan' dengan Ivan agar membuat perjalanannya lebih nyaman.

Namun, hal ini juga enggak serta-merta membuat beban Ivan ringan. Sebab, karena sering dipakai 'touring' ke sekolah, kerap ada kerusakan yang dialami. Sehingga, ia cukup sering membawa sepeda motornya ke bengkel untuk 'dioperasi'.

Guru Serba Bisa
Pria kelahiran Subang, 3 Juni 1989 itu ternyata memiliki banyak keahlian dalam mengajar. Sebab, ia merupakan guru kelas yang harus serba bisa. Meski ia berlatar belakang pendidikan Bahasa Indonesia, ia harus terampil mengajar mata pelajaran lain di luar bahasa Indonesia.

Di SDN Cibungur Kelas Jauh sendiri hanya ada tiga guru yang mengajar. Semuanya menempuh perjalanan melelahkan seperti Ivan karena rumah mereka pun jauh. Namun, semua bahu-membahu agar pendidikan di sana bisa tetap berjalan sesuai harapan.

Selain mengajar di SD, ia juga mengajar SMP kelas jauh yang ada di lokasi. Berbeda dengan di SD, di SMP ia mengajar beberapa mata pelajaran saja. Sehingga, dalam sehari, ia tak hanya mengajar siswa SD. Siswa SMP juga diajarnya.

"Kalau SMP saya ngajar bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sama komputer," ungkapnya.

Lalu, bagaimana dengan para siswanya? Mereka mayoritas adalah anak dari para pendatang yang bekerja di kawasan perkebunan. Untuk datang ke sekolah, mereka juga harus menempuh perjalanan cukup jauh. Jika berjalan kaki, mereka butuh waktu minimal 30 menit.

Sedangkan jika menggunakan perahu, waktu tempuh lebih ringan, tapi biaya yang dikeluarkan cukup besar. Untuk sekali perjalanan, biaya menggunakan perahu sekitar Rp25 ribu. Artinya, untuk bolak-balik mereka harus mengeluarkan Rp50 ribu hanya untuk transportasi saja. Sehingga, lebih banyak yang memilih jalan kaki. Jadi, guru dan murid di Cijuhung ini sama-sama perlu perjuangan besar untuk belajar.

Sementara sejak adanya pandemi COVID-19, Ivan tetap menempuh perjalanan ke Cijuhung beberapa hari sekali. Ia akan ke sana dan berkeliling ke rumah siswa untuk mengambil tugas yang diberikan secara daring.

Cara mengajar seperti itu dirasa kurang maksimal. Ia lebih nyaman mengajar secara tatap muka, begitu juga siswa. Sebab, belajar tatap muka jauh lebih efektif. Sementara belajar daring cukup terkendala dengan sinyal di lokasi yang tergolong buruk.

Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengajar dengan cara seperti itu sesuai instruksi dari instansi terkait. Sebab, mengajar tatap buka belum diperbolehkan sampai sekarang.

Status Honorer dengan Motivasi Tinggi
Jika dibandingkan antara pemasukan dan perjuangan mengajar, apa yang didapatkan Ivan bisa dikatakan tak seimbang. Ivan masih berstatus sebagai guru honorer dengan gaji sekitar Rp500 ribu per bulan.

Untuk biaya bahan bakar sepeda motor saja minimal ia harus mengeluarkan Rp20 ribu untuk pergi dan pulang mengajar. Bisa TemanBaik bayangkan betapa melelahkannya perjuangan Ivan jika dibandingkan nominal yang didapat?

Namun, ia tak berkecil hati. Gaji yang kecil tak pernah sekalipun menyurutkan langkah dalam mengajar. Sebab, kembali pada motivasi dan cara pandangnya melihat profesi guru.

"Motivasi yang membuat saya tetap bertahan adalah anak-anak, para siswa di sana. Karena bagaimanapun kondisinya, mereka juga tetap semangat belajar," ungkap Ivan.

Harapan besarnya, ia ingin anak-anak itu memiliki pendidikan yang bakal jadi bekal masa depan. Di saat yang sama, mengajar jadi jalan baginya untuk beribadah dan berbuat baik bagi sesama.

Beruntung, ia punya istri yang selalu memberi dukungan atas perjuangannya. Apalagi, sang istri juga merupakan guru PAUD. Sehingga, tahu betul rasanya berjuang dan kenikmatan mengajar.

Untuk mengatasi kebutuhan keuangan, Ivan memiliki usaha sampingan. Ia berjualan gorengan di rumahnya. Ini jadi cara agar ia bisa mendapatkan uang tambahan dengan cara halal. Berapapun hasilnya, rasa syukur dan jeli memanfaatkan uang menjadi senjata Ivan dan keluarganya.

Ivan bukan tak mau menjadi PNS. Bahkan, usaha menjadi PNS tak sekali dilakukannya setelah 13 tahun menjadi guru honorer. "Saya sudah dua kali ikut tes CPNS. Tapi belum rezekinya," tuturnya.

Menjadi PNS pun jelas jadi harapan yang selalu dipupuk Ivan. Ia tak akan lelah berusaha dan berdoa. Sehingga, ia bisa mendapat gaji yang lebih layak. Ia pun secara khusus menyampaikan doa sekaligus harapannya pada Momentum Hari Guru Nasional 2020.

"Kalau secara pribadi, saya berharap pemerintah itu ada perhatian lebih atau khusus kepada guru honorer, apalagi guru kategori dua yang sudah lama ngajar, minimal mereka diangkat. Harapannya kesejahteraan guru juga lebih diperhatikan," harap Ivan.

TemanBaik, jika kamu ingin lebih mengetahui perjuangan dan kegiatan Ivan dalam mengajar, ia juga memiliki kanal YouTube dengan nama Ivan Ar Junianto. Melalui akun tersebut Ia kerap berbagi pengalaman dan aktivitasnya saat menembus perjalanan yang berat untuk bertemu murid-muridnya.  

Foto: Istimewa/dok.pribadi

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler