Cerita Erwan Setiawan, Pemandu Museum yang Piawai Bahasa Isyarat

Bandung - TemanBaik, Museum Geologi di Kota Bandung punya beberapa tour guide alias pemandu wisata yang mahir menggunakan bahasa isyarat. Salah seorang di antaranya adalah Erwan Setiawan (38).

Pria kelahiran Cianjur, 16 Maret 1983 itu, sudah sekitar 10 tahun menjadi pemandu di Museum Geologi. Sesuai tugasnya, ia kerap menjelaskan berbagai hal di Museum Geologi kepada para pengunjung.

Dulu, sebelum punya kemampuan berbahasa isyarat, ia cukup kebingungan menjelaskan beragam hal di museum kepada disabilitas, khususnya teman Tuli alias tunarungu. Sehingga, ia kerap mengandalkan guru atau pendamping teman Tuli sebagai perantara ketika ia menjelaskan.

Erwan sendiri punya ketertarikan belajar bahasa isyarat sejak lama, bahkan sebelum jadi pemandu. Sebab, ia ingin bisa berinteraksi langsung dengan teman Tuli tanpa perantara. Bak gayung bersambut, keinginan ayah dua anak itu belajar bahasa isyarat akhirnya terwujud.

Beberapa tahun lalu, manajemen Museum Geologi memberikan pembekalan bagi beberapa pemandu. Mereka 'disekolahkan' ke SLBN Cicendo. Di sana, mereka diberi pelatihan dasar sekitar sebulan untuk belajar bahasa isyarat.

Erwan mengaku pembelajaran yang dilakukan memang singkat. Sehingga, ia enggak mahir-mahir amat berbahasa isyarat. Namun, apa yang didapatkannya sangat berharga. Setidaknya, ia bisa mempraktikkan bahasa isyarat dasar bagi teman Tuli.



Baca Ini Juga Yuk: Kenalan Sama Galih, Peramu ‘Bazingga Metzger’ yang Senang Berbagi

Dengan kemampuan itu, ia akhirnya bisa berbincang langsung dengan teman Tuli. Ia pun bisa menjelaskan berbagai informasi yang ada di Museum Geologi langsung kepada mereka.

"Sebelum dan sesudah dilatih bahasa isyarat, ada perbedaan. Setelah dilatih, minimal ketika ada disabilitas (teman Tuli) kita paham dan bisa menjelaskan langsung ke mereka," kata Erwan.

Namun, diakuinya, sesekali ia juga meminta bantuan guru atau pendamping teman Tuli jika ada kosakata yang tak diketahui atau justru ia lupa kosakatanya. Sebab, kemampuan bahasa isyarat sama seperti bahasa lain. Saat lama tak digunakan, ia bisa saja lupa dengan beberapa kosakata yang dikuasai.

Apalagi, tak setiap hari teman Tuli datang ke Museum Geologi. Bahkan, dalam sebulan pun belum tentu ada teman Tuli yang berkunjung ke lokasi. Terlebih, selama pandemi ini, otomatis kemampuan bahasa isyarat Erwan kurang terlatih karena museum ditutup bagi pengunjung.

"Selama pandemi ini (bahasa isyarat) full enggak dipakai. Paling buat berlatih, buka-buka kamus. Karena banyak yang lupa kalau lama enggak dipakai," tutur Erwan.

Apa yang Ditanyakan Teman Tuli di Museum?
Kamu mungkin penasaran apa sih yang ditanyakan teman Tuli ketika datang ke Museum Geologi? Sama seperti pengunjung pada umumnya, mereka juga kerap bertanya seputar berbagai hal di sana, terutama soal benda koleksi berupa fosil atau batuan.

"Selama ini paling seputar geologi pertanyaannya," ujar Erwan.

Namun, pertanyaan yang dilontarkan mereka kadang sulit dijawab dengan bahasa isyarat. Sebab, ada beberapa istilah geologi yang ia sendiri tak tahu bagaimana gerakan tangannya. Meski begitu, hal ini bukan masalah. Ia punya trik sendiri untuk menjelaskannya.

"Bahasa geologi kalau enggak ada di kamus (bahasa isyarat) kita jelaskan dengan spelling (huruf per huru hingga membentuk kata). Misalnya istilah ametis, kita enggak pakai bahasa isyarat, tapi lebih huruf per huruf," tuturnya.

Namun, diakui Erwan, terkadang ada pertanyaan yang dilontarkan teman Tuli di luar dunia kegeologian. Bahkan, ada yang bertanya soal perasaan pribadi.

"Pernah ada yang nanya 'kalau pengunjungnya seperti kita, kesal enggak?'," ungkapnya.

Ia justru memberi jawaban sedih. Sebab, ia sadar betul kemampuannya berbahasa isyarat masih belum sempurna. Sehingga, kadang ada kesulitan tersendiri untuk menyampaikan sesuatu yang ia tak tahu kosakatanya dalam bahasa isyarat.

Kadang, ada juga pertanyaan mulai dari berapa lama bekerja, berapa gaji yang didapat sebagai pemandu, hingga bisakah teman Tuli jadi ahli geologi. Ia pun kerap menjawab sesuai kapasitasnya. Penyampaiannya pun diramu sesederhana mungkin agar mudah dipahami mereka.

Perbincangan seperti itu memberi kepuasan tersendiri baginya. Sebab, bisa berkomunikasi dengan mereka dulu hanya menjadi angan-angan.

Berbagai pertanyaan pun kerap membuat Erwan kagum pada teman Tuli. Sebab, setelah bisa berbahasa isyarat, ia tahu banyak di antara mereka yang tertarik dunia geologi, bahkan ada yang ingin belajar lebih dalam.

"Kalau sudah kenal dan kita bisa komunikasi, mereka justru kayak bukan orang disabilitas. Kita malah jadi kagum sama mereka," ucap Erwan.

Tularkan Kemampuan pada Pemandu Lain
Erwan dan pemandu lain tak hanya menyimpan sendiri kemampuan berbahasa isyaratnya. Ia justru membagikan kemampuan pada mereka.

Harapannya, setiap pemandu bisa memahami cara berkomunikasi dengan teman Tuli. Namun, keterbatasan waktu membuat Erwan tak bisa mengajari mereka hingga benar-benar mahir. Meski begitu, minimal pemandu lain sudah bisa menguasai huruf atau abjad dalam bahasa isyarat.

"Minimal kalau abjad sudah bisa. Tapi enggak tahu juga sekarang bagaimana kondisinya karena sudah hampir setahun enggak dipakai," tutur Erwan sambil tersenyum.

Selain bahasa isyarat, ia juga membagi pengetahuannya soal cara menghadapi dan melayani berbagai disabilitas. Saat menghadapi tunanetra misalnya, sebisa mungkin pemandu harus bisa menjelaskan informasi sedetail mungkin. Sehingga, teman netra bisa membayangkan dalam pikirannya soal benda yang dimaksud.

Kadang, untuk benda koleksi yang boleh disentuh, pemandu akan mengarahkan mereka untuk menyentuhnya. Dengan begitu, mereka akan tahu bagaimana bentuknya.

Begitu juga ketika bertemu disabilitas tunagrahita atau tunadaksa, pemandu harus paham bagaimana memperlakukan mereka senyaman mungkin agar tak tersinggung. Salah satu tantangan paling besar adalah ketika menghadapi anak yang mengidap autisme.

Berkaca dari pengalamannya selama ini, menghadapi anak autis tak semudah melayani disabilitas lainnya. Sebab, emosi mereka kadang meledak-ledak. Bahkan, tak jarang ada yang baru masuk ke museum berteriak-teriak hingga berlarian karena merasa takut.

Dalam kondisi seperti itu, pemandu harus bisa bersikap tenang agar membuat anak autis bisa nyaman berada di museum. Tak jarang, Erwan dan pemandu lain berusaha bersikap dengan gaya dan bicara seperti anak kecil. Itu jadi jurus jitu agar mereka merasa nyaman di museum.

Foto: Dok. Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler