Cerita Ujang, Di Balik Lilin Raksasa & Keindahan Toleransi

Selama 33 tahun, Herman (48) sudah menjalani rutininasnya di Vihara Dharma Ramsi, Kota Bandung. Ia bekerja di sana sejak 1987. Salah satu tugasnya adalah menjadi orang paling sibuk untuk membuat lilin raksasa.

Lilin berukuran besar itu biasanya dipakai untuk perayaan Imlek. Setiap tahunnya, Ujang membuat ratusan lilin yang merupakan pesanan umat di Vihara Dharma Ramsi dan juga dari tempat lain di Bandung.

Pembuatan lilin itu biasanya dimulai jauh-jauh hari sebelum Imlek. Untuk pesanan Imlek tahun ini, ia bahkan sudah mulai mengerjakan pembuatan lilin sejak sekitar enam bulan lalu.

Mahir Membuat Lilin Sejak Kecil
Kemampuan pria yang akrab disapa Ujang itu tentu tak datang begitu saja. Ia mengaku sudah belajar membuat lilin sejak kelas 2 SD. Saat itu, ia masih berusia antara 8-9 tahunan.

Sang kakek yang bekerja di salah satu kelenteng di Jalan Pagarsih, Kota Bandung, kerap mengajaknya bekerja. Dari situlah ia mulai belajar bagaimana cara membuat lilin raksasa.

"Jadi saya mulai belajar bikin lilin itu dari kelas 2 SD. Kalau kerja di sini (Vihara Dharma Ramsi) dari tahun 1987," kata Ujang.

Sejak bekerja di sana, ayah dua anak itu sangat diandalkan membuat lilin raksasa. Karena biasanya pesanan cukup banyak, ia kerap dibantu tenaga tambahan yang khusus dipekerjakan untuk membuat lilin. Untuk membuat pesanan lilin raksasa tahun ini misalnya, ia dibantu lima pekerja tambahan.



Baca Ini Juga Yuk: Ni Nengah Widiasih, Tularkan Semangat dengan Prestasi

Proses Pembuatan Lilin
Lilin raksasa yang buatan Ujang punya beragam ukuran, ada yang tingginya kurang dari satu meter hingga sekitar dua meter. Untuk membuat lilin raksasa, rata-rata setiap lilin butuh waktu pengerjaan sekitar tiga hari.

Bahan dasarnya berupa lilin 'mentah' yang dikemas dalam karung. Bahan itu kemudian akan dicairkan dan diberi pewarna merah. Selanjutnya, bahan lilin akan dicetak dalam cetakan khusus. Tak lupa sumbu pun bakal dipasang.

Setelah lilin dikeringkan, proses berikutnya adalah memasang plastik berisi huruf Mandarin. Huruf-huruf itu berisi doa dari para pemesan. Lilin inilah yang kemudian biasanya dinyalakan pada saat malam Imlek. Lilin ini melambangkan harapan sekaligus doa agar kehidupan pemesannya selalu dinaungi 'terang' untuk setahun ke depan.

Rasakan Indahnya Toleransi
Hal yang cukup menarik, Ujang adalah seorang muslim. Tak ada rasa canggung bekerja di vihara karena ia sudah terbiasa sejak kecil ikut kakeknya bekerja di kelenteng. Sehingga, bergaul di lingkungan non muslim adalah hal biasa baginya.

Apalagi, ia merasakan betul indahnya toleransi di Vihara Dharma Ramsi yang jadi tempatnya bekerja. Meski jadi 'minoritas' di vihara, ia tak mendapat perlakuan berbeda, apalagi diskriminasi.

Ujang merasa sudah dianggap sebagai keluarga oleh pengurus dan umat vihara setempat. Bahkan, ia mengaku mendapar keleluasaan untuk beribadah sesuai keyakinannya sebagai muslim.



Salah satu ruangan di vihara pun bisa dipakai untuk salat. Pengurus vihara pun mempersilakan jika Ujang ingin menggunakannya untuk salat. Namun, ia mengaku lebih suka nyaman di masjid. Sehingga, jika ingin salat, ia akan meninggalkan vihara dan menuju masjid terdekat. Pengurus vihara pun tak pernah melarang.

"Kalau salat mah saya suka ke masjid," ungkapnya.

Bentuk toleransi lain yang dirasakannya adalah ketika Ramadan. Sebagai muslim, ia tentu selalu menjalankan puasa. Di saat yang sama, para pengurus vihara berusaha menghargai ibadah yang dilakukan Ujang.

"Kalau bulan puasa, yang di sini (pengurus) sembunyi-sembunyi kalau makan. Mereka menghargai kita yang puasa," tutur Ujang.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler