Hinhin Agung Daryana, Sang Doktor Metal dari Bandung

Bandung - Separuh hidupnya dihabiskan untuk bermusik. Distorsi, musik keras, dan teriakan adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Belakangan, ia merasa begitu mendapat kehormatan saat musik yang ia gemari, Metal, berhasil dibawanya sebagai salah satu penelitian doktoral, yang mana penelitian tersebut membuatnya kini punya julukan baru: Doktor Metal.

Banyak orang mengenalnya di atas panggung sebagai gitaris band-band metal kenamaan seperti Beside, Nectura, dan beberapa proyek musik bersama ‘tokoh’ metal di Bandung. Namun, rasanya enggak ada yang menyangka kalau pertemuan Hinhin dengan musik diawali dengan kisah unik dan musik dangdut. Perjalanan seperempat abad gitaris Nectura dan Dosen Institut Seni Budaya Indonesia ini kami coba rangkum. Simak obrolan kami ya!

Hinhin biasa dikenal dengan nama Akew, kayaknya sekarang mulai melunturkan nama itu ya?

“Iya, ini nama dari Paman. Waktu kecil dulu. Paman juga yang mengenalkan saya main musik. Akhir-akhir ini saya emang lebih sering nonjolin nama Hinhin aja sih karena lebih nyaman.”

Oh, gimana tuh ceritanya yang sama Paman dulu main musik?

“Paman saya punya grup musik dangdut. Itu tahun 1995 deh seinget saya. Jadi waktu itu, Ibu saya pernah ngomong: ‘Duh, kepingin deh punya anak yang bisa berkesenian..’ dan di situlah saya mulai sering ikut-ikutan Paman bermusik. Belajar gitar, dan ikut sama grup musik dangdut tadi.”

Wah. Hinhin main dangdut?

“Iya. Ini belum pernah saya bahas di manapun loh. Hahaha, abisnya enggak pernah ada yang nanya begini juga ke saya. Selain itu sih ya gonjreng gonjreng tongkrongan lah.”

Mainin lagu apa aja waktu itu?

“Kebetulan mainin Rhoma Irama. Eh, jangan salah. Riff gitar dangdut itu rumit juga loh.”

 Sempet main juga dong di orkes dangdut si Paman waktu itu?

“Sempet. Karena saya dianggap cepet bisa waktu itu. Keinginan untuk belajarnya tinggi. Jadi diajakinlah gabung. Dan enggak lama dari situ, saya diajakin juga untuk mengunjungi orkes-orkes dangdut lain. Terus, ada lagi nih Paman saya yang satunya lagi. Jadi ada dua paman lah, yang satu mah tadi main dangdut, yang satu lagi memang dia main musik rock Indonesia tahun 90-an. Di situlah saya ngembangin lagi kemampuan main gitar.”

Pada tahun 1997 saat dirinya kelas 3 SMP adalah momen awal Hinhin mencoba untuk bermain band. Saat itu, untuk pertama kalinya ia menjajal latihan band. Fase itu juga menjadi awal mula Hinhin manggung dan ditonton oleh teman-temannya. Ia bersama bandnya kala itu membawakan lagu Nirvana, atau lagu rock 90-an seperti White Lions.

Untuk memperdalam kemampuannya bergitar, Hinhin belajar secara otodidak selama masa sekolah. Bisa dikatakan, ia belajar gitar dari tongkrongan. Namun, setelah lulus SMA, karena hendak melanjutkan pendidikan ke jurusan Seni Musik di Universitas Pendidikan Indonesia, akhirnya Hinhin mengambil les gitar klasik di Yamaha. Namun sayangnya dia enggak lolos seleksi di jurusan tersebut.

Belajar gitar klasik karena mau masuk UPI, bener enggak?

“Bener. Dulu kepingin banget sekolah musik formal, kuliah lah. Tapi karena tes di UPI dengan kemampuan seadanya, akhirnya ya, sakit hatilah. Hahaha, dan belajarlah main gitar klasik di Yamaha. Waktu itu tujuan les klasik karena saya kepingin serius aja tahu seluk beluk musik. Kepingin bisa baca not balok, dan disiplin musik formal lah. Dan ternyata itu yang jadi sumber mata pencaharian saya kan.”

Nah, kalau menemukan metal sebagai musik yang Hinhin geluti tuh awalnya gimana?

“Sebenernya itu udah terjadi pas SMA awal. Saya ketemu sama Andri Infamy. Dia tuh sekolahnya di kota. Hahaha, ya intinya dia sekolah di Bandung, dan banyak ngasih saya pengaruh. Kata-katanya sih kurang lebih: ‘Kew, mawakeun mah nu kieu! (bawain musik tuh yang begini!)’ gitu deh. Dan dari sana, mulai deh. Ya, transisinya lumayan jomplang sih. Dari dangdut, rock, heavy metal, terus ngulik black metal. Dari situ baru kepincut untuk main metal. Ya kalau dihubungin sama keadaan sekarang sih ya memang saya di sini (tempatnya). Saya seolah dipertemukan dengan musik, yang mana saya bisa mengeluarkan ekspresi saya kala itu.”

Band pertama yang Hinhin jalanin tuh apa?

“Ababil. Hahaha, itu bareng sama si Andri Infamy. Anggotanya tuh, salah satunya ada namanya Diki, mantan anggota Beside juga tuh si Diki. Drummernya pernah sama drummer Infamy dulu, gitarisnya sempet sama Chad (Jeruji). Tapi karena terlalu banyak nongkrong lah, dan temen-temen mulai sadar nih kalau si Akew ini serius main gitarnya, enggak lama dari situ saya diajakin sama Bedebah.”

Band ini jadi band pertama Hinhin berkarya kah?

“Pertama ngerilis album itu justru waktu sama Bedebah. Di Ababil saya pernah ngerilis single satu, buat ngajuin demo. Karena terlalu repot sama kegiatan, eh, kegiatan apa ya? Hahaha ya pokoknya enggak berlanjut lah, dan akhirnya ketemu sama si Bedebah ini. Dan mulai bareng Bedebah itu mulai lah saya tahu teknis rekaman gimana, teknologinya apa aja. Nah, setelah albumnya rilis, di situ deh memproklamirkan diri kalau saya anak metal.”

Itu semua berbarengan dengan kuliah atau gimana? Karena kan Hinhin juga kayaknya serius banget kuliah ya?

“Iya nih. Kalau kuliah mah saya serius dari dulu. S1 itu saya di STSI, sekarang ISBI. Ambil seni karawitan. Saya juga ngambil spesialisasi alat kacapi, ya karena bersenar sih. Hahaha. Dan, tapi kegiatan sebagai metalhead sih terus jalan semasa kuliah juga. Waktu itu saya bareng sama Bedebah.”

Kenapa ngambil Karawitan waktu itu?

“Saya ngerasa enggak mungkin kalau saya ngambil kuliah di luar musik, kayaknya enggak akan bener. Karena saya ngerasa passion saya di musik.”

Betul enggak sih pertemanan dengan Gebeg membawa Hinhin ke ‘kota’ lah katakanlah?

“Betul. Gebeg ngenalin saya sama temen-temen di ‘kota’. Hahaha istilah temen-temen di Ujungberung kalau nyuruh main ke Bandung tuh kayak: ‘lu maen ke kota lah’. Hahaha. Di situ ketemu sama Andre Soldier Fight. Ngebandlah bareng sama Soldier Fight.”

Bareng Soldier Fight, apa aja yang dirilis?

“Album dan video klip. Edan euy, itu video klip pertama saya dalam karir musik. Hahahaha, sebel sih. Tapi ya memang pada waktu itu sih ngerasa udah keren banget lah. Dan dikerjain sendiri lah, sama anak-anak lagi. Dibikin di atas hotel, pinggirnya gereja. Mantap lah. Hahaha.”

Bersama Soldier Fight, Hinhin menjajal beberapa panggung skena musik era itu seperti misalnya acara di Saparua. Momen-momen manggung di sanalah yang jadi titik di mana Hinhin merasa dirinya semakin ingin serius menekuni bidang musik. Di skena itulah kemudian ia bertemu dengan Beside. Salah satu generasi awal metal di Ujungberung bersama Burgerkill, Forgotten, dan beberapa band lainnya kala itu.

Hinhin Akew dikenal sebagai gitaris Beside. Itu gabung sama Beside gimana sih?

“Itu dari momen awal bareng Soldier Fight. Manggung di Saparua, dan akhirnya ketemu Beside, yang waktu itu lagi vakum. Tahun 2004-an mungkin, si Beside ini kepingin hidup lagi. Dan geng yang mau ngehidupin si Beside itu tuh gengnya yang ngeband sama Gebeg di Global Unity. Hahaha. Si Owank (eks-vokalis Beside) tuh dulunya Global Unity. Antik memang di sini mah, lingkaran pertemanan tuh dia lagi dia lagi.”

Berarti bisa dibilang di Beside itu Hinhin dari penggemar ke anggota?

“Iya. Saya tuh dari followers awalnya, dan akhirnya bisa ikut masuk di dalamnya.”

Bersama Beside, Hinhin merilis sebuah album berjudul ‘Against Ourselves’ pada tahun 2007. Setelah itu, sebagian besar dari kita tahu, pesta rilis album tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan besar karena harus berujung tragedi. Kami juga sempat mengulas bagaimana keberadaan Hinhin dalam peristiwa besar di gedung De Majestic, Februari 2008 silam.

Kita kepingin bahas tentang tragedi AACC. Hinhin bersedia?

“Iya. Kejadian itu adalah salah satu catatan besar dalam perjalanan saya. Saya rasa enggak hanya saya aja. Enggak satupun ada orang yang menyangka ini bakal terjadi. Jadi, saat itu saya pikir memang karena apresiasi terhadap Beside yang sudah lama vakum dan mau bangkit lagi. Apresiasinya ini gede banget, dan mungkin ruang yang kita punya untuk nampung apresiasi itu enggak cukup besar.”

Bisa diceritakan ulang bagaimana keadaan malam itu?

“Itu suasananya suasana rilis. Beres manggung, kita ke atas gedunglah. Kita ya, semacam euforia. Beberapa orang nyamperin kita bilang selamat. Dan akhirnya tim dari kami itu bilang: ‘di bawah enggak kondusif. Satu lewat (meninggal).’ Abis itu dia kembali lagi dan bilang: ‘Dua lewat, tiga, empat, lima,’ dan itu suasana yang tadinya kita lagi suasana senang, party lah ya, berubah drastis jadi ‘Waduh. Ini gimana?’ asli deh.”

Apa yang terpikir dalam benak Hinhin saat itu?

“Ya bingunglah. Dan pemberitaan di luar sana juga udah enggak sesuai, banyak meleset lah. Saya dua minggu enggak bisa tidur. Masalahnya ini bukan hanya Beside doang yang kena, tapi komunitas skalanya. Dan, waduh, agak sulit saya menjelaskan dengan kata-kata. Pertanyaan besar buat saya lah: ini karir musik saya gimana ke depannya?”

Ada momentum di mana Hinhin bersuara enggak?

“Saya pernah sekali diundang ke tv. Saya jawab pertanyaan dari media. Agak kesel sih, karena salah satu dari pewawancaranya itu seolah menyudutkan kami. Tapi wawancaranya toh berlangsung lancar.”

Setelah satu dekade lebih kejadian ini berlalu, gimana Hinhin memandang peristiwa besar ini?

“Memang setelah penyelidikan itu, semua mulai kelihatan dan terintegrasi, oh di sini kesalahannya, di sini miss-nya. Dan akhirnya, saya melihat banyak hal terkait teknis pertunjukkan musik di Bandunglah ya, mulai membaik.”

Saat itu, kegiatan lain di luar Beside ngapain aja?

“Baru lulus, dan mulai kerja. Ngajar di Yamaha.”

Dampak dari itu semua untuk Hinhin pribadi apa?

“Saya rasa satu skena yang kena dampaknya. Pertunjukan musik underground kala itu jadi enggak punya izin. Ya mirip kayak pandemi sekarang lah, tapi versi lebih mikro karena berlaku hanya untuk skena kita. Dan untuk nyambung hidup akibat enggak bisa manggung itu, saya aktif ngajar.”

Memasuki tahun 2009, pria kelahiran 1983 ini kemudian mengakhiri masa lajangnya. Menyadari kalau dirinya harus tetap bertahan hidup dengan keluarga kecilnya, ia kemudian menjadi pengajar gitar di beberapa sekolah dengan kurikulum musik. Tercatat ada 3 sekolah yang menjadi tempat Hinhin bekerja sebagai pengajar: SMP Aloysius, SMK Negeri 10 Bandung, dan Yamaha Music School.

Ngajar di Yamaha saat itu ya?

“Iya. 2007 emang mulai ngajar di Yamaha. Dan karena enggak boleh ada manggung, dan 2009 ngajarlah di Aloysius. Dan saya belajar banyak tentang dunia ngajar.”

Saat di SMK Negeri 10, itu gimana ceritanya?

“Ngajar di Jurusan Musik SMK Negeri 10 itu awalnya saya dikenalin sama senior di ISBI. Di sini juga saya ikut ngeband kan, untuk nambah jejaring lah. Dikenalin waktu itu sama Ketua Jurusannya. Dan di sana itu cukup nyaman karena linier aja sama bidang saya. Sekolahnya seni pertunjukan, kayak saya masuk ke sana tuh udah memang cocok aja.”

Berbarengan dengan momentum mengajar di tiga sekolah tadi, Hinhin memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan S2 di Institut Seni Budaya Indonesia. Ia mengambil spesifikasi pengkajian seni. Saat menyelesaikan studinya, Hinhin membawa salah satu alat musik yang sedang hangat digunakan di kalangan metalhead, karinding, ke dalam penelitiannya.

Aktivitas bermusiknya juga tetap dijalankan. Apabila pada saat itu skena musik underground mengalami kendala karena keterbatasan izin, Hinhin tetap bermusik dengan mengisi beberapa band seperti Sarasvati misalnya.

Masuk S2 tahun berapa tuh? Dan gimana caranya membagi waktu antara ngajar, kuliah, dan bermusik?

“Itu emang berdarah-darah sih saya ngejalaninnya. Waktu itu memang aktif juga bareng Beside, sebelum akhirnya keluar dan bikin Nectura. Dan pada tahun 2010, saya tergabung di proyek musiknya Risa Saraswati, yang dikasih nama Sarasvati. Ya, seru sih. Benar. Manajemen waktu itu kayak jadi kunci.”

Merasa capek enggak dengan rutinitas yang mungkin kayak enggak ada habisnya saat itu?

“Iyalah. Tapi saya berpikir, ya silakan deh mau sampai mana? Ini semua pasti ada ujungnya. Jadi saya terus aja, hajar jalanan, begitu. Hahaha.”

Tapi nyaman dengan musik Sarasvati, yang mana Hinhin enggak bisa se-ngebut di Beside?

“Nyaman nyaman aja sih. Bisa dibilang, saya juga refreshing lah. Keluar dari zona saya. Waktu itu saya berbagi peran sama Egi. Jadi pemain gitarnya berdua.”

Dan gimana ceritanya Hinhin membawa Karinding ke ranah akademis?

“Karena saya berpikir saya kepingin pas risetnya, bidang itu deket sama keseharian saya. Saat saya nulis tentang Karinding, semua sumber itu sudah tersedia. Tinggal gimana kita nguliknya.”

Setelah lulus magister pada tahun 2013, Hinhin kemudian menjajal tantangan baru dengan menjadi pengajar di Universitas Pasundan. Uniknya, di sana ia mengajar gitar klasik. Disiplin yang juga dipelajarinya, namun tidak diperkenalkan terlalu jauh ke publik.

Jadi dosen tuh di ISBI dulu atau Unpas dulu?

“Di Unpas. Waktu itu ngajar gitar klasik. Dan berbarengan dengan itu, saya ikutan CPNS, karena di ISBI lagi butuh PNS untuk musik bambu. Dan saya dapet kabar kalau saya lulus. Di situ kayak jadi titik balik. Hahahaha.”

Jalan apa yang Hinhin ambil setelah jadi seorang ASN?

“Saya tinggalin tuh tiga sekolah tempat saya ngajar tadi. Karena keterbatasan waktu, ya saya harus fokus di sini lah. Hahaha. Selebihnya sih kegiatan ngeband, dan ngajar di Unpas masih saya jalanin.”

Kalau ngeband, sekarang jadinya sama siapa aja?

“Bareng Nectura. Oh ya, jadi saya mengundurkan diri dari Beside tahun 2012, dan akhirnya membentuk Nectura. Ada Owank juga di dalamnya. Dan sejauh ini sih kita sudah rilis dua album. Nah selain itu juga masih aktif sama Sarasvati, Humiliation, dan beberapa proyek musik.”

Hinhin juga ngajar di Agung Guitar Course (AGC) Music School kan?

“Iya. Saya ngajar elektrik. Bisa dibilang, saya generasi keduanya AGC lah. Di sana juga banyak temen-temen dari skena musik metal. Ada Agung, ada saya, dan ada juga Balum.”

Setelah menjadi dosen di Institut Seni Budaya Indonesia, Hinhin kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral alias S3. Ia mengambil kajian gender tentang metal, dengan melibatkan pelaku musik metal di Kota Bandung sebagai subjek dan objek penelitiannya. Dan belum lama ini, ia lulus dari jenjang tersebut.

Saat S3 ngambil kajian tentang metal. Kok bisa?

“Ini tuh kayak menjawab pertanyaan tentang apa yang saya jalani selama dua dekade. Main metal, dan musik ini tuh apa sih? Rasa ingin tahu yang gede banget, akhirnya menuntun saya ke sini. Dan saya ketemu promotor yang luar biasa baik dan keren banget waktu mau lanjut S3. Prosesnya lumayan berat, tapi setelah dijalanin dan Alhamdulillah lancer, saya rasa enggak ada alasan buat siapapun untuk bilang enggak bisa.”

Sempet diledekin orang enggak pas ketemu? Diledek Doktor metal gitu?

“Tadi pagi juga saya diledekin orang. Hahaha. Ya mungkin karena saya sudah lama di dalam metal ini, dan saya juga membawa metal ini ke jenjang pendidikan yang tinggi, ada kebanggaan luar biasa di dalam diri saya.”

Setelah ini, apa yang Hinhin mau lakuin?

“Mengejar mimpi terdekat. Sebenarnya dari dulu juga mimpi saya sih enggak pernah jauh-jauh. Kepingin ngeband, ya ngeband. Kepingin kuliah, ya kuliah. Tapi setelah satu persatu anak tangga itu dilewatin, saya mikir: ‘wah, udah jauh juga ya perjalanan saya. Lumayan lah.’ Dan saya selalu punya target dekat. Kalau sekarang sih saya kepingin post-doktoral dulu deh. Mudah-mudahan kesempatannya ada.”

Siapa orang yang Hinhin anggap paling berjasa dari pencapaian saat ini?

“Orangtua dan Istri saya. Kalau Istri, semua proses yang saya lalui, banyak titik beratnya lah, itu dijalanin bareng istri. Makanya, penting juga tuh memilih pasangan yang suportif sama karir kita. Hahahaha.”

Hinhin punya pesan buat metalhead generasi berikutnya?

“Jangan takut mimpi. Dan jalanin aja apa yang jadi mimpi kita. Apapun yang kita lakukan dan kerjakan, biasakan untuk dimulai dari yang terdekat dari diri kita aja dulu deh.”

TemanBaik, perbincangan satu jam tersebut kemudian ditutup dengan sesi bermain alat musik tradisional di ruang arumba. Perjalanan Hinhin bermusik dari tongkrongan sampai menjadi Doktor Metal dari Bandung menyadarkan kita akan pentingnya berproses sebelum menjadi seorang yang sukses. Selain itu, yang terpenting dalam proses kita adalah konsistensi. Sejak masih nongkrong hingga jadi Doktor, ia selalu membawa metal.

Pertemuan kami dengan #TemanBaik ini semoga bisa menjadi pemacu semangat buat kamu yang sedang mengejar mimpi. Tetap semangat ya!

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler