Belajar Konsistensi dari Atlet Blind Judo Miftahul Jannah

Bandung - TemanBaik, sudah kenal dengan sosok Miftahul Jannah? Perempuan 21 tahun itu pernah mencuri perhatian publik pada perhelatan Asian Paragames 2018 di Jakarta. Ia didiskualifikasi karena tak mau melepas hijab saat akan berlaga di pertandingan cabang olahraga blind judo alias judo tunanetra.

Miftah, sapaan akrabnya, pun berbagi cerita dengan BeritaBaik.id soal peristiwa tersebut. Seperti apa kisahnya?

Berlatih Keras Hampir Setahun
Untuk bisa tampil di Asian Paragames, butuh perjuangan panjang dan berjenjang yang dilalui perempuan asal Aceh tersebut. Bahkan, ia harus menjalani pemusatan latihan selama hampir setahun.

Seperti pemuasatan latihan atlet pada umumnya, Miftah juga digembleng ekstra keras. Hal itu dilaluinya dengan penuh semangat karena berharap bisa menuai prestasi dan mengharumkan nama bangsa.

"Saya juga meninggalkan keluarga, kuliah ditinggalkan, hal-hal lain ditinggalkan," ungkap Miftah.

Namun, semua pengorbanannya pada akhirnya seolah menjadi sia-sia. Sebab, sore sehari sebelum bertanding di Asian Paragames, ia justru baru tahu soal aturan internasional bahwa atlet judo tak boleh berhijab.

Hal itu sama sekali tak diketahuinya. Sebab, selama menjalani berbagai pertandingan judo diikutinya, mulai dari tingkat lokal, regional, dan nasional, penggunaan hijab diperbolehkan.
Didesak Banyak Pihak
Adanya aturan internasional itu membuat berbagai pihak mendesak Miftah untuk mau melepas hijab agar bisa bertanding. Sebab, momentum yang ada di depan mata sangat besar, yaitu event olahraga sekelas Asian Paragames.

Namun, ia bersikukuh dengan pendiriannya bahwa hijab harus terus melekat di kepalanya meski sedang bertanding. Baginya, keputusan hijab harus dijalankan dengan komitmen tegas. Meski pada akhirnya, ia harus merelakan memupus asa berprestasi di ajang sekelas Asian Paragames.

Miftah merasa melepas hijab sama saja dengan mengumbar auratnya di hadpaan umum. Keyakinan ini sama sekali tak bisa digoyahkan dalam benaknya meski mendapat beragam bujuk-rayu.

Di tengah desakan yang ada, Miftah merasa sangat minim dukungan. Hanya satu yang menurutnya memberi dukungan penuh atas komitmennya berhijab, yaitu sang pelatih.

Namun, karena sudah kadung terdaftar, mau enggak mau Miftah harus turun gelanggang. Meski ia sadar betul, keputusannya ngotot memakai hijab akan membuatnya didiskualifikasi, ia berusaha menghadapinya.

"Saat itu saya berkomitmen, oke saya akan konsisten, saya akan menyelesaikan tugas saya sampai di matras apapun risikonya," ungkap mahasiswi Universitas Pasundan Bandung tersebut.

Seperti yang dibayangkan, Miftah akhirnya benar-benar didiskualifikasi. Momen itu begitu emosional baginya meski sudah tahu diskualifikasi memang akan diterimanya. Momentum itu seolah jadi runtuhnya harapan dan cita-cita meraih prestasi di bidang judo yang selama ini dibangun. Semuanya hancur seketika demi mempertahankan komitmen dirinya berhijab.



Dijauhi Banyak Orang
Di tengah runtuhnya semangat dan harapan Miftah, kondisi itu diperburuk dengan menjauhnya orang-orang di sekitarnya. Sebab, apa yang dilakukan Miftah dianggap sebagian orang membuat kans Indonesia meraih medali emas melalui dirinya justru hancur sia-sia.

Selama berbulan-bulan, ia sempat merasa sendirian menanggung beban dan anggapan negatif dari orang-orang sekitarnya. Bahkan, sempat berkembang isu yang membuat Indonesia tak mengirim atlet blind judo ke sebuah kejuaraan di Filipina adalah karena tindakan ngototnya tak mau melepas hijab saat di Asian Paragames.

Hingga pada satu momen, Miftah bertemu Imam Nahrawi yang saat itu menjabat sebagai Menpora. Di sana, ia sempat mempertanyakan kebenaran isu tersebut. Ia berharap Indonesia tetap mengirim atlet blind judo ke kejuaraan di Filipina.

"Saya bilang (kepada Menpora) jangan hanya karena gara-gara saya blind judo dibubarkan. Banyak orang yang butuh dan menjadikan lahan pencariannya di situ (menjadi atlet blind judo)," tutur Miftah.

Ia pun akhirnya merasa lega. Sebab, isu yang berhembus ternyata tidak benar. Indonesia tidak mengirim atlet blind judo lebih karena kurangnya kesiapan atlet, bukan gara-gara Miftah. Semangat Miftah pun kembali bangkit. Ia secara perlahan memupuk semangatnya dan melalui hari-hari dengan biasa.

Ia menjadikan momentum didiskualifikasi di Asian Paragames sebagai bagian cerita menarik dalam hidupnya. Ia memetik pelajaran penting bahwa komitmennya berhijab harus lebih tinggi dari tujuan hidupnya dalam memburu prestasi.

Apalagi, meski mengalami berbagai hal pahit, Miftah juga ternyata mendapat banyak dukungan dari rakyat Indonesia. Banyak yang salut dan kagum dengan komitmennya berhijab. Hal itu cukup melecutnya untuk bangkit dari keterpurukan.

"Biarlah orang beranggapan negatif, itu jadi sebuah pemicu buat saya untuk terus bangkit," tegasnya.

Lelang Baju untuk Warga Terdampak COVID-19
Didiskualifikasi dari pertandingan besar memang memberi dampak tersendiri. Ia tak akan pernah melupakan momentum tersebut.

Salah satu kenangan dari peristiwa itu adalah baju yang dipakainya saat masuk ke gelanggang pertandingan. Baju itu jadi saksi bisu momentum emosional Miftah yang akan dikenang banyak orang.

Ia memandang tak ada nominal yang mampu mengukur harga dari baju berwarna putih tersebut. Namun, pada akhirnya, ia justru menjual baju tersebut. Ia melelangnya pada 2020 lalu. Hasil lelang kemudian dipakai untuk membantu korban terdampak COVID-19 saat awal-awal pandemi.

"Memang berat melepas baju itu. Tapi, memang saat itu saya ingin banget berbagi, cuma kondisi (keuangan) saya terbatas," ungkap Miftah.

Bagi Miftah, baju itu sebenarnya bisa saja disimpan sebagai bagian dari sejarah hidupnya. Baju itu bisa jadi saksi bisu atas keteguhannya memakai hijab, dijauhi banyak orang, terpuruk, hingga mendapat dukungan dari banyak orang di saat bersamaan.

Namun, hasrat untuk melakukan #AksiBaik jauh lebih besar ketimbang mempertahankan baju bersejarah tersebut. Hingga akhirnya, ia pun mantap melelangnya. Saat itu, baju tersebut terjual dengan harga Rp20 juta dengan rincian Rp10 juta untuk baju dan Rp10 juga diberikan untuk pribadi Miftah.

Foto: dok. Istimewa
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler