Irvine Jasta, Ilustrator 'Serba Bisa' Punggawa Pickers Store

Bandung - Dunia otomotif, desain, dan "kustom kultur" pada awal dekade 2000-an rasanya didominasi oleh kaum adam alias para lelaki. Namun, hal itu coba didobrak oleh Irvine Jasta. Berkat kegemaran dan konsistensinya sejak masa kuliah hingga kini, Ilustrator serba bisa ini boleh jadi contoh sosok wanita yang disegani karena skillnya.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk ngobrol dengan Irvine di markasnya, yaitu Pickers Store, Jl. Pelajar Pejuang, Bandung. Saat itu, kami berjumpa di sela-sela kegiatannya di Pickers Store dan saat ia hendak menuju tempat siarannya di Extreme Mosphit.

Kami ngobrol banyak soal bagaimana awal mula Irvine terjun di bidang kustom kultur, bagaimana ia mengelola Pickers Store, hingga bagaimana menjalani hidup dengan pasangan yang seolah merupakan cerminan dirinya. Simak obrolan kami yuk!


Halo, Teh Irvine. Lagi sibuk enggak nih?
"Enggak. Santai kok. Cuma ini jam 4 aku mau siaran di Extreme Mosphit."

Teh, kalo boleh tau, nama asli teteh itu siapa sih?
"Ha ha ha. Aduh, nama asli saya mah cewek banget, euy."

Ya, siapa dong? Terus kenapa pakai nama Jasta di belakang namanya?
"Aku mah namanya Irvina Anissa. Jadi, kemaren sempet juga dibahas sama Arian di podcastnya. Nah, sebenernya sih namanya anak 90-an kan kayanya pakai cara itu ya. Kayak Bucek, pake nama Dave dan orang tuh ngenalnya dia. Sebenarnya itu kan saya pakai nama itu waktu zaman Friendster dan MySpace. Ha ha ha. Tapi, in personal saya memang suka sama Jamey Jasta, Hatebreed.”

Wah. Intinya teteh itu memang sangat menikmati musik-musik "underground" ya?
"Iyalah. Saya emang deket dengan musik-musik underground, punk, dan lain-sebagainya. Sebetulnya itu musik yang didominasi cowok-cowok sih.”

Teh Irvine memang menyukai gambar sejak kecil kah?
"Iya. Dari kecil memang suka ngegambar. Sering ikut lomba gambar, dimuat Majalah Bobo. Ha ha ha. Terus memang saya tuh pas kuliah nyari jurusan yang enggak ada Matematikanya. Masuklah ke Widyatama jadi anak DKV angkatan 2003. Sebetulnya zaman kuliah itu saya enggak berkarya sih, karena memang ngurusin kuliah dan kerja sampingan juga.”

Kerja di mana Teh? Dan ngapain aja?
"Aku di Anonimus. Jadi ada lah distro namanya Anonimus. Di sana aku freelance, jaga toko. Dan aku juga ngurusin P-Project dan Project Pop juga di divisi wardrobe-nya.”

Oh, yang teteh jadi MuA itu bukan?
"Ih itu mah. Ha ha ha. Jadi si P Project mah kan emang mereka kostumnya yang lucu-lucu gitu ya. Jadi kita sebagai tim wardrobe nya ya bikin kostum yang macam-macam lah. Dan harus bisa kayak make up in mereka gitu. Tapi, kan saya juga punya basic face painting (lukis wajah) ya. Jadi, tuntutan melukis di atas wajah itu ya okelah saya kerjain.”

Media menggambar yang teteh anggap paling mudah sampai paling sulit apa tuh?
"Waduh, agak bingung nih. Cuma ya memang saya udah lama banget enggak menggambar di atas kertas. He he he.”

Kalau waktu bikin Pickers Store itu gimana ceritanya Teh?
"Aku bikin Pickers nih sama suami. Sekitar tahun 2011 apa 2012 ya. Jadi, kalau anak sekarang mah istilahnya trifting-an lah. Nah, kami melakukan hal yang sama 10 tahun lalu. Jadi, di sana kita jualin tuh koleksi kita, dan koleksi temen-temen juga dari mulai kaos band, sampai motor pun ada di situ. Di tahun kedua itu akhirnya kami bisa bikin toko. Dan awalnya juga di sini masih diisi oleh barang-barang bekas. Belum banyak nih clothingan temen-temen begini."

Jadi teteh bikin Pickers Store ini juga sebagai media buat teman-teman yang bikin clothing-an ya?
"Hmmm bisa dibilang gitu. Karena dulu tuh zaman kita usia masih 20-an, kayaknya ada kecenderungan kalau mau nitip jual (pakaian) di distro itu artikelnya harus banyak dulu, harus ini, harus itu, ada banyak syaratnya yang bikin anak-anak usia 20-an ini kayaknya agak susah untuk bisa punya usaha sendiri tuh. Kalau sekarang kan relatif lebih gampanglah karena ada marketplace ya. Akhirnya kita bikin di sini, yuk teman-teman yang punya brand, dan akhirnya lama-lama kebentuklah distro yang apparelnya tuh anak-anak motor.”



Baca Ini Juga Yuk: Sugiyanto Utomo, 'Oemar Bakri' dari Antapani

Oh, berarti kedekatan sama kustom kultur itu dari sini ya Teh?
"Iya. Ditambah lagi kan karena waktu itu media buat promosi itu susah ya. Belum ada instagram. Promosi tuh masih kayak ke radio atau majalah gitu. Nah, sebagai media promosi, kita bikinlah acara Barbeque Ride. Ini tuh kayak ngumpulin semua pegiat otomotif, tapi kita kerucutin lagi ini lebih ke kustom vintage gitu. Enggak disangka memang jadinya di tahun pertama bisa ngumpulin banyak orang. Dan di sisi lain, saya baru inget kalau otomotif itu enggak bisa lepas dari art atau seni-nya. Kayak tangki motornya, helm, itu bisa jadi media lukis ternyata. Karena kalau keluaran pabrikan ya pasti sama. Akhirnya kita gali lagi si kustom kultur itu apa sih? Dan akhirnya ketemulah, kustom kultur kita ini seolah jadi signature-nya seseorang gitu.”

Lewat ajang BBQ Ride yang digagasnya bersama sang suami, ia mencoba untuk mewadahi seni kustom kultur, yang mana dalam kustom kultur ini enggak hanya sekadar membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Selain itu, hadirnya festival ini pada awalnya diharapkan bisa mendorong seniman di kustom kultur untuk nampil. Pasalnya, di awal kemunculan kustom kultur, belum banyak seniman yang muncul.

Jadi ngumpulin semuanya gitu ya Teh?
"Di barbeque ride? Oh iya. Di sana itu kayak festival yang ada musik, motor dan mobil, lapakan clothing, dan art-show. Nah, art-shownya itu di berbagai medium. Kayak di helm, atau ini nih, tutup kloset. Ha ha ha. Dan saat saya bikin festival ini tuh, senimannya ternyata sudah banyak ya. Hanya saja mereka enggak disebut seniman, tapi disebutnya tukang bengkel, tukang air brush, dan lain-lain. Dan kita kepingin gimana caranya ngeluarin si tukang-tukang ini sebagai artis, bukan lagi tukang. Nah, saya kecemplung deh jadi ngelukis di helm, di tangki motor, dan lain sebagainya. Dari situ jadi belajar lagi deh, karena enggak semudah bikin di kertas ya.”

Saat itu pelaku kustom kultur cewek banyak enggak sih Teh?
"Kalau pelukis, perupa, pematung cewek, banyak. Tapi pelaku di kustom kultur itu enggak ada. Ha ha ha, karena mungkin stigmanya itu tadi, kayak 'cewek kok main motor?' Nah, sedangkan saya sejak kecil memang sudah kenal dengan otomotif. Saya waktu itu aja kuliah pakai Suzuki TS' 94. Ha ha ha, jadi di tas bawa-bawa oli samping. Bersih ih...”

Wah, ngeri. Berarti enggak pernah ngalamin pakai Astrea Grand gitu kayak anak-anak 90-an pada umumnya ya?
"Ha ha ha. Mengalami atuh. Itu waktu SMP lah. Saya juga beli motor yang pakai keringat sendiri tuh pernah juga beli mio. Itu kan awal-awal mio keluar kalau enggak salah. Tapi kalau weekend ya saya offroad pakai si TS itu.”

Selain otomotif dan desain, kecintaan Irvine juga ada pada musik underground. Musik tegas dengan lirik yang mengusung perjuangan dan semangat kesetaraan, serta adanya nilai-nilai 'liar' membuat Irvine begitu menggemari musik underground.

Bahkan, ia berteman juga dengan beberapa pelaku di skena musiknya, sehingga enggak disangka ia menjadi pembawa acara dalam gelaran acara musik underground di Bandung era 2000-an. Kemampuannya membawakan acara itu juga lah yang membuatnya saat ini menjadi penyiar di Extreme Mosphit.


Kalau jadi penyiar tuh gimana ceritanya?
"Ya itu prinsip palugada (apa lu mau gua ada) kan. Ha ha ha. Jadi selain hobi motor, saya seringlah datang ke pertunjukkan musik underground. Nah, mereka kan bikin gig tuh, Bandung Berisik pertama kali waktu itu. Dan saya ditodong jadi pembawa acara alias MC. Waktu itu di Lapangan Persib kalau enggak salah, di Laswi. Acara itu mengantarkan saya jadi MC event-event underground.

Nah bicara soal musik underground, kenapa sih teh begitu menyukai musik underground?
"Saya menikmati banget karena musiknya bebas, lepas, dan banyak mengangkat isu kesetaraan juga. Karena saya suka baca kebetulan. Dan temen saya tukar pikiran soal buku itu Almarhum Ivan Scumbag.”

Balik lagi nih. Seberapa besar buku yang teteh baca terhadap kesukaan teteh sama hal-hal berbau maskulin?
"Sebetulnya kalau seneng baca itu dari kecil. Seneng baca komik karena ada grafisnya. Ada satu novel judulnya 'Atheis' dari Ahdiat Kartamihardja, kalau enggak salah ya. Dan kalau ada kosakata baru yang saya enggak ngerti, saya tanya ke Ivan biasanya. Karena dia bisa dibilang abang-abangannya anak-anak.”

Kalau gaya desain sendiri lebih ke mana sih Teh? Sejauh mana pengaruh latin ini ke gaya desain teteh?
"Balik lagi sih ya, karena masa keemasannya ada di era 90-an, aduh. He he he. Jadi saya memang menganggap pengaruh latin kayak Amerika di musik maupun gaya apapun, itu gede banget. Lagian memang kan kustom kultur itu sendiri kan memang berkembangnya di sana. Amerika atau Jepanglah gitu.”

Apakah gaya mereka itu bisa dibilang sama kayak kita?
"Yang saya liat sih kayak ada kesamaan ya antara mereka (kustom kultur di Amerika atau Jepang) sama orang kita, khususnya Bandung ya. Kekeluargaannya lekat banget, julid-julidnya juga sama. Ha ha ha. Terus kayak ngumpul tuh ya istilahnya barudak keneh (masih satu tongkrongan) lah. Makanya saya kepikiran kenapa enggak sih di kita tuh bikin hal yang sama juga kayak mereka? Dan menyenangkannya lagi, saya baru sadar kalau produk kustom kultur kita tuh diminati dan diapresiasi pasar Internasional. Itu ketahuannya pas saya, bareng suami, Pickers Store dan Barbeque Ride, itu diundang ke Yokohama Hotroad Custom Show. Itu naek hajinya pegiat kustom kultur lah, karena ketemu sama pegiatnya di seluruh dunia.”

Belum habis. Setelah otomotif dan musik underground, sosok Irvine juga identik dengan karya muralnya. Ia pernah diperbincangkan dan mendapat banyak apresiasi saat menyulap area SLB di Kota Bandung menjadi lebih artsy, setelah sebelumnya area tersebut menjadi tempat vandalisme anarki dalam sebuah aksi publik.

Irvine mengaku lebih menyukai mural ketimbang graffiti. Ia menyukai teknik melukis yang lebih bersih dan mengandalkan tarikan kuas. Berkat kegemaran yang dibarengi dengan semangat berkarya itulah, Irvine kerap mendapat job mural untuk kafe, resto, dan rumah pribadi.


Saat bikin mural, lebih suka gaya tertentu enggak?
"Enggak. Semua aja dihajar, gimana request. Ha ha ha. Jadi, ini bedanya saya sama seniman. Saya enggak pernah menganggap diri saya seorang seniman. Karena saya kerja sesuai pesanan. Kayak kemarin tuh, saya baru aja ngerjain mural untuk rumah di Jakarta.”

Ada mural yang paling menantang enggak?
"Beberapa ada sih. Kadang si pemesan itu enggak detail saat diskusi, atau ada beberapa pemesan yang ngasih revisi yang agak ribet. Tapi ah, ya enggak ada yang terlalu menantang sih ya.”

Keseharian Irvine saat ini sebagai illustrator di dunia kustom kultur dan entertainer untuk beberapa acara musik underground dan otomotif boleh jadi enggak bisa dilepaskan dari sosok suaminya. Irvine menceritakan bagaimana keterkaitan dan chemistry-nya bersama pasangan dalam mengerjakan beberapa proyek kreatif bersama-sama.

Memang satu selera ya Teh sama Suami?
"Ha ha ha. Aduh. Jadi suami saya teh dulunya temen offroad saya. Pacaran juga cuma tiga bulan.”

Seru enggak sih menghabiskan waktu sama pasangan yang seolah kayak cerminan diri itu?
"Hmm gimana ya? Jadi memang kalo orang lain mah pillow talk sama pasangannya tuh ngobrolin apa gitu ya, kalau aku sama suami mah ngobrolinnya teh ini toko gimana? Dan proyek bareng aja 24 hours gitu yah.”

Saat ini lagi ngegarap apa?
"Ada nih garapan bareng sama suami, kita lagi nge-kustom salah satu brand yang disesuaikan biar 'Pickers banget'. Jadi beberapa bulan ini tuh ngebahasnya itu aja.”

Kalau lagi brainstorming lebih ke mesra-mesraan atau berantem?
"Guntreng (berantem). Ha ha ha. Jadi, saya itu jarang kalau ngedesain buat Pickers, malah buat orang. Dan si suami suka nanya 'kenapa kamu ngedesainin buat orang mah bagus?' terus saya jawab aja 'keun bae weh' (enggak apa-apa dong), kan sama suami mah kekeluargaan. Ha ha ha."

Ketika nyebutin Pickers Store nih, orang-orang identiknya sama sosok Teh Irvine. Padahal ada juga sosok suami. Apa emang Pickers itu mau diidentikkan dengan wanita yang gemar motoran?
"Sebetulnya kalau di kalangan dedek-dedek followers Instagram taunya aku. Tapi kalau secara lebih luas lagi, justru nama suami. Saya itu ibarat ambassador buat brand sendiri lah. Kalau ngobrolnya udah Barbeque Ride nah, baru tuh nama Chandra yang muncul.”

Dalam keseharian teteh, apa sih yang enggak banyak orang tau?
"Drama admin medsos. Hahaha, kan emang si Pickers ini kan dipasang di marketplace. Ya, biasalah itu mah ya.”

Kayak gimana tuh?
"Iya, pelanggan yang tiba-tiba komplain tanpa baca dulu keterangan di barang dagangan lah, apa lah, wah, drama aja pokoknya.”

Dengar-dengar, teteh juga buka jasa les privat menggambar ya? Gimana ceritanya?
"Oh itu pas tahun 2013, pas mulai punya anak lah. Saya tuh bikin art club lah, yang mana saya bisa kenalan sama Ibu-ibu, karena temen cewek saya kan sedikit. Saya kerja sama sama kafe-kafe, kayak ngumpulin orang tua, jadi orang tuanya makan siang, anaknya saya asuh. He he he. Dan sekalian juga saya ngajarin anak saya. Jadi sebetulnya itu sih enak aja ke semuanya. Kafenya dapet pengunjung, karena itu kafe teman kan. Saya dapet klien, dan klien saya selain anaknya belajar gambar, juga dapet momen ngumpul. Win-win solution kan? Nah, kalau sekarang sih saya ngajar privat menggambar, tapi muridnya cuma ada tiga nih.”

Menjadi wanita di bidang kreatif yang didominasi oleh pria membuat Irvine sedikit merasa bangga. Namun, di sisi lain ia mengakui kalau dirinya hanyalah melakukan apa yang ia gemari. Enggak lebih dari itu.

Sebagai seorang perempuan, ada di lingkungan yang didominasi laki-laki, gimana tanggapan teteh?
"Kalau baperan mah kayaknya enggak mungkin deh orang itu bisa tahan di lingkungan cowok. Tau sendirilah ya bercandaan cowok kayak gimana. Dan lama-kelamaan nih, orang mulai sadar sama skill cewek-cewek di bidang ini. Misalnya di otomotif aja, saya nyoba ngajak temen-temen cewek buat keluar yuk, jangan malu sama ketertarikan terhadap motor. Akhirnya, makin ke sini, peranan cewek di lingkungan maskulin ini enggak sekadar jadi pemanis doang, tapi juga sebagai pelakunya.”

Makna kesetaraan menurut teteh itu apa?
"Bukan berarti kita membenci atau bahkan menyaingi laki-laki ya. Kesetaraan itu kayak kalau di pekerjaan, perempuan bisa ambil cuti hamil atau hak-nya, tanpa perlu dijulidin bosnya. Dan perempuan enggak dibeda-bedain lagi.”

Makna perempuan berdaya buat teteh itu apa sih?
"Perempuan yang bangga sama dirinya. Dia dandan cantik buat dirinya, bukan buat menarik orang lain. Selain itu, penting juga buat perempuan supaya punya pemasukan sendiri, buat memenuhi apa yang jadi kesenangannya.”

Nah, buat temen-temen atau adik-adik kreatif nih, teteh punya pesan enggak?
"Yang terpenting tuh jaga attitude! Jangan sesekali memulai chat di WhatsApp dengan pesan berisi 'P' ya, karena masih banyak kata sapaan yang bisa kamu gunakan. Ha ha ha. Kalau udah attitude bener mah, ke depannya gampang.”

Wah, Oke deh. Kalau gitu ini pertanyaan terakhir ya: dari berbagai kegiatan yang banyak, selain seorang Ibu, Teh Irvine senang disebut sebagai apa?
"Apa atuh ya? Hahaha, illustrator aja lah ya. Eh nanti fotonya kirimin ya. Aku minta."

Di balik kegemarannya yang lekat dengan dunia maskulin, Irvine tetap berlaku lembut layaknya wanita dengan sisi keibuannya. Namun, pesan yang mungkin jadi garis besar dari obrolan kami adalah dengan menampilkan prestasi dan terus konsisten ketimbang bikin sensasi, seorang perempuan dengan sendirinya akan menjadi setara dengan laki-laki.

Jadi, untuk TemanBaik yang masih merasa ragu mau membuat sesuatu dari apa yang kamu gemari, mulai tinggalkan ragunya ya. Yuk, mulai hari ini bangkit dan dikerjakan satu persatu mimpi-mimpinya. Selamat berakhir pekan!

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler