Dian Willyarti, Penangkap Momen Aksi Panggung Project Pop

Bandung - Jika biasanya peran fotografer dalam sebuah pertunjukan panggung didominasi oleh laki-laki, Dian Willyarti muncul sebagai salah satu pembeda. Menurut kami, Dian adalah salah satu pendobrak stigma tersebut, kendati ia menolak anggapan tersebut karena menurutnya hal tersebut merupakan sesuatu yang biasa saja. Kurang lebih sewindu waktunya dihabiskan untuk memotret salah satu band besar di Tanah Air, Project Pop.

Walau terhitung per 2021, wanita asal Jakarta yang kini banyak menghabiskan waktunya di Bandung ini enggak lagi menjadi fotografer resmi Project Pop, namun ia punya sekelumit kisah saat mengabadikan aksi panggung grup musik tersebut. Kisah yang nantinya bakal dikemas menjadi buku foto yang sedang digarap bersama Raws Publisher itu sebagian diceritakan pada kami.

Seperti apa sih perjalanan Dian dan kameranya? Simak obrolan kami yuk!


Halo, Dian. Dengar-dengar sekarang lagi bikin buku foto tentang Project Pop ya?

"Halo. Iya nih. Sekarang lagi mau cek dami. Doain ya mudah-mudahan dari dami pertama ini bisa langsung cetak beneran."

Jauh sebelum masuk ke tahap membuat buku foto, Dian kan merupakan salah seorang fotografer. Nah, gimana ceritanya tuh bisa nyemplung ke foto panggung?

"Awal belajar motret itu zaman aku sekolah SMA, itu sekitar tahun 2008 apa 2009 ya. Dan karena emang suka nonton konser, akhirnya belajarlah fotografi panggung tapi masih yang gitu lah, masih yang pakai auto.”

Pernah enggak pas motret panggung terus lampu kilat (flash)-nya nyala?

"Pernah! Hahaha. Waktu itu emang belom ngerti. Jadi saya bawa kamera kakak tuh. Dan untungnya bukan motret di konser festival. Kayak ada musisi apa gitu manggung di mal.”

Sebelum jadi fotografer panggung, pernah motret yang lain enggak sih?

"Hmmm, kayaknya enggak. Aku langsung nyebur ke fotografi panggung aja sih.”


Enggak tanggung-tanggung, pertama kali menceburkan diri ke bidang fotografi panggung, Dian langsung 'bekerja' sebagai fotografer Project Pop. Seingatnya, momen itu dimulai pada kisaran tahun 2013. Sebelum menjadi fotografer, Dian adalah seorang fan girl alias penggemar dari grup musik ini.

Seriusan langsung jadi fotografernya? Kok bisa?

"Iya. Jadi, awalnya pihak Project Pop tuh kayak bilang, 'eh ini kita lagi nyari fotografer nih. Boleh cariin enggak?’ terus saya nyeletuk, ‘ini kalo aku ambil aja kerjaannya gimana?’ eh terus saya diajakin. Modal nekat aja sih.”

Masih inget enggak panggung pertama bareng Project Pop?

“Masih inget banget. Itu tahun 2013, malam pergantian tahun ke 2014. Tempatnya di Kemang Village. Wah, itu feelnya beda banget.”

Kenapa feel-nya beda?

"Iya dong. Dari yang awalnya saya motret mereka hanya di depan panggung, fokus sama perform mereka begitu. Sekarang saya jadi bagian dari mereka. Saya diajak ke backstage. Ada perasaan yang beda aja saat menjalaninya.”

Dian emang suka Project Pop? Kenapa?

"Iya. Aku fans mereka. Enggak tau ya, menurutku, mereka itu emang bener-bener legenda aja. Mereka bener-bener bisa membawakan musik yang segar, menarik, dan, wah pokoknya seneng banget bisa jalan selama ini sama mereka.”

Salah satu lagu Project Pop yang Dian suka?

"Wah, banyak sebenarnya. Hahaha. Tapi kalau harus milih nih ya, salah satunya adalah judulnya ‘Ngancem’. Itu aku suka banget.”

Dari sekian banyak lagu Project Pop, kenapa milihnya ‘Ngancem’?

"Karena lagu ini punya sudut pandang yang unik aja. Lagu ini kan nyeritain misalnya nih, kita suka sama seseorang, tapi si seseorang ini lagi deket sama orang lain. Dan sudut pandangnya tuh jadi kita ngancam si ‘saingan kita’ ini. Kayak, ‘awas ya lu kalau nyakitin dia, lu bakal berhadapan sama gua..’ ini kan unik banget menurutku. Dan Project Pop kepikiran aja gitu ngambil sudut pandang ini.”

Ngaruh enggak sih saat kita motret band yang enggak kita sukain ke performa motret kita?

"Enggak juga sih. Karena ya aku fokus sama visual yang mereka hadirkan aja. Aku pernah motret di acara band metal gitu. Di sana aku enggak ngerti musik mereka, tapi wah, ini secara visual asyik banget ngembanginnya. Jadi aku enjoy aja. Enggak mau terkesan jadi skeptis juga sama si musiknya. Konser metal itu paling seru banget, apalagi crowd-nya.”

Kedekatan Dian dengan Project Pop enggak sebatas sebagai rekan kerja saja. Namun, ia menganggap Project Pop sebagai saudara. Bahkan, judul buku yang bakal dirilisnya nanti kurang lebih mencerminkan karakter Project Pop itu sendiri, yang kini tinggal beranggotakan lima personel, namun seolah masih memiliki enam jiwa dari lima personel tersebut.

Dari keenam personel yang dipotretnya, Dian mengaku relatif dekat dengan seluruhnya. Kalaupun enggak terlalu dekat, namun Dian begitu memahami karakteristik personelnya Project Pop masing-masing, sehingga ia bisa menempatkan diri saat berinteraksi.

Proses belajar motret Dian banyak berlangsung selama di Project Pop ya?

"Iya. Di sana tuh aku kayak nyeburin diri. Kemampuan motret itu bisa dibilang keasah pas di Project Pop. Aku gabung sama mereka tahun 2013, tapi aku baru ngerasa foto-fotoku mulai proper itu di tahun 2016-an deh.”

Kalau personel Project Pop yang paling deket sama Dian tuh siapa?

"Aku lumayan ngobrol sama Odie sih. Haha, lebih banyak ngobrolin yang receh-receh. Whatsappan random ngebahas meme lah, atau apapun hal yang receh. Ya karena mungkin Odi salah satu orang yang tipenya terbuka sama banyak orang gitu deh.”

Kalau sama Almarhum Oon, gimana?

"Wah, itu sih tempat saya banyak tuker info soal gear dulu. Jadi ya, Almarhum tuh anaknya emang gadget banget. Misalnya zaman dulu waktu mau ganti iPhone 4, dia bilang ‘jangan beli dulu, biar saya cobain dulu..’ jadi seolah-olah kalau kita mau ganti gadget itu bagusnya nungguin review dari dia dulu.”

Hal yang diungkapkan Dian saat kami berbincang seputar kedekatannya dengan personel Project Pop adalah rasa penyesalannya tidak mengabadikan gambar yang berhubungan dengan kepergian Oon. Padahal, saat itu Dian datang melayat dan mengikuti acara tahlilan.

Jadi enggak sempat motret ya?

"Iya, jadi saat Almarhum meninggal itu, mereka (anak-anak Project Pop) kabarnya nonton pemakaman itu lewat FaceTime, dan memang saat itu mereka sedang berada di Tanjung Enim. Intinya aku enggak sempat mendokumentasikan momen mereka nonton pemakaman lewat FaceTime. Dan aku putuskan untuk pergi ke Bandung buat ngelayat. Bukan sebagai rekan kerja, tapi sebagai kerabat aja. Dan karena ngerasa datang ke sana sebagai kerabat, aku ngerasa kayaknya enggak enak lah kenapa harus jeprat jepret? Kan kayak enggak etis ya. Tapi sekarang aku nyesel enggak motret saat momen itu. Entah kenapa ya, nyesel aja gitu.”

Saat tahlilan pun enggak motret?

"Pas pengajian 40 harian Almarhum Oon, anak-anak Project Pop dateng sih. Tapi aku enggak motret, karena ya aku pikir aku ke sana kan buat doain almarhum ya. Dan aku nyesel banget tau, enggak motret. Momen itu tuh kayak kepingan yang hilang aja dalam buku foto aku.”


Tujuh tahun bareng Project Pop, apa aja sih yang Dian dapetin?

"How to be a Professional, aku belajar banyak tentang ini. Mereka itu bener-bener bisa ngebedain mana waktunya kerja, mana waktunya mereka di luar jam kerja. Mereka sangat profesional dan entertainer sekali. Dan selalu baik sama orang.”

Di luar kegiatannya menjadi seorang fotografer panggung, Dian juga melanjutkan studinya di Magister Seni Rupa ITB pada tahun 2017. Ia telah mendapat gelar magister seni dari sana. Selama menempuh studi, Dian pun berpidah domisili dari Jakarta ke Bandung.

Selain itu, Dian juga aktif melatih olahraga baseball di klub Marvelous Softball - Baseball. Oh ya, klub ini satu-satunya tempat Dian melatih. Saat kami jumpai pun, Dian tengah melatih beberapa anak bermain baseball bersama klub ini di Jalan Bali No. 5 Bandung. Kegemaran Dian bermain olahraga ini sudah berlangsung sejak dirinya masih kecil. Bahkan, beberapa kali ia turut main di gelaran olahraga besar.

Kan baru selesai nih S2. Itu ngaruh enggak sih sama pola pikir Dian?

"Hmm, ya enggak sih sebetulnya sama aja. Hahaha. Cuma di beberapa aspek kita jadi lebih menghargai proses lah ya. Dan S2 itu menjadikan saya lebih terbuka (open minded) serta lebih kritis, khususnya dalam berkarya.”

Kalau di baseball ini gimana tuh ceritanya?

"Ya aku ngelatih aja sih. Ini kebetulan baru sih gabung di sini. Diajakin sama ini nih, pelatih utama. Dan agak kaget ya karena muridnya anak-anak.”

Ada tantangan baru dong berarti ya berinteraksi sama anak?

"Ya, tentu ada sih. Tapi memang pada dasarnya aku punya ketertarikan sama si baseballnya ini. Jadi gampang. Dan perkara ngasuh anak, aku sebelumnya dekat sama beberapa keponakanku. Jadi, ini sih anggap aja punya keponakan baru deh. Hahaha.”

Selain motret, Dian juga senang berolahraga ya?

"Bisa dibilang gitu. Ya, ini lah dia kayak si baseball ini. Dan karena bingung mau ngapain saat pandemi kemarin, jadi lah aku juga ngulik sepatu roda. Hahaha.”

Sebagai wanita, boleh dibilang Dian justru lebih menabrak apa yang berbau feminim jika berbicara apa yang ia sukai dan jalankan. Pekerjaan dan hobinya mayoritas dilakoni oleh kaum adam alias pria. Namun, ia santai saja saat menanggapi pertanyaan tentang ini.


Ada perasaan risih enggak sih, kan motretnya bareng laki-laki tuh?

"Hhmmm, sesekali ada sih. Karena mungkin kan fisik saya dengan mereka itu beda dan cukup jauh ya. Tapi dinikmati aja. beberapa kali saya pernah marah saat lagi kerja, saya kehalangin. Eh enggak marah sih, kayak hanya bilang ‘permisi, Mas.. Ini saya belom dapet momen.’ Nanti biasanya fotografer itu bakal ngerti sendiri.”

Punya tanggapan enggak sama kesetaraan gender di bidang yang Dian jalani?

"Gimana ya? Aku pribadi sih ngerasa seneng saat ini fotografer panggung enggak diliat dari gendernya. Tapi dari kemampuan dia motret. Cuma kayaknya buat ngajak fotografer cewek tur keliling kota itu masih jarang ya. Apalagi kalau bandnya cowok semua. Hahaha.”

Nah, Dian menanggapi itu gimana tuh?

"Ya buat temen-temen musisi. Enggak apa-apa kok, enggak perlu canggung untuk ajak kita (fotografer cewek) tur ke luar. Soal obrolan sih sebetulnya kita fleksibel. Hahaha.”

Emang masih jarang ya fotografer band yang perempuan?

"Kalau fotografer panggung sih banyak kok. Tapi fotografer panggung yang direkrut jadi fotografer resmi sebuah band, itu jarang.”

Dian melihat diri Dian setelah perjalanan tujuh tahun ini gimana?

"Tentunya ada rasa seneng, bangga, dan hhmmm ya bangga sih. Bisa jadi salah satu fotografer perempuan dan motret band yang bisa dibilang legenda lah. Dan buat aku pribadi sih pembuatan buku foto ini kayak ‘legacy’, atau simpelnya sih ‘Naik Haji’-nya aku sebagai fotografer panggung deh, di samping kebutuhan buku foto itu sendiri sebagai ‘hadiah’ ulang tahun Project Pop ke-25.”

Apa pesan yang mau Dian sampaikan buat temen-temen wanita di luar sana, supaya mereka bisa merdeka dan mandiri dengan apa yang mereka suka.

"Jangan takut sih. Apapun bidangnya kan ini? Hahaha. Intinya jangan pernah berhenti untuk mencoba. Mungkin rasa bosan, enek, muak lah ya, pasti ada. Tapi coba deh kamu pikir ulang kenapa kamu mencintai bidang tersebut? Jadi, dinikmati aja lah, namanya juga laif (hidup). Hahaha.”

TemanBaik, perjalanan dan karya Dian Williyarti menginspirasi kita kalau saat ini ketimpangan antara laki-laki dan perempuan sudah enggak lagi terlihat. Walau dipandang kasat mata sebagai wanita dengan postur mungil, namun siapa sangka karya dan perjalanannya mungkin sebanding, atau malah lebih baik dari lawan jenis yang bertubuh kekar.

Jadi, jangan ragu untuk mulai kembali pada kegemaranmu dan menjalankannya dengan tulus ya. Siapa tahu, justru itulah jalanmu untuk menjadi besar. Tetap semangat dan sehat selalu ya!

Foto    : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler