Asthie Wendra, 'Jenderal' Tegas di Balik Panggung Pertunjukan

Jakarta - TemanBaik, pasti kamu pernah datang ke acara festival musik dong? Nah, sadar enggak sih, nyatanya dalam satu kali hajatan musik besar, ada peran penting yang dijalankan oleh Show Director dan Stage Manager.

Peran itulah yang dijalani Asthie Wendra. Sejak duduk di bangku SMA, ia kerap terlibat mengarahkan acara pentas seni di sekolahnya. Hal itu kemudian berlanjut hingga dirinya masuk kuliah. Bahkan, ia harus merelakan pendidikannya tidak selesai karena saat berkuliah di Program Studi Ekonomi di Universitas Padjadjaran, ia malah sibuk membuat Event Organizer dan aktif membuat acara-acara musik, khususnya di skena hiburan Bandung kala itu.

"Dulu aku SMA di SMA 5, nah di sana kan memang banyak acara yang berbau pertunjukan ya. Bikin apa bikin apa gitu,” ujarnya kepada Beritabaik.id.

Pada tahun 2003, Asthie kemudian bekerja di salah satu mal di Bandung di bagian event & promotion. Selain itu, ia juga bekerja di salah satu stasiun televisi swasta sebagai produser. Selama 4 tahun malang melintang, ia kemudian "dipanggil" oleh Ibukota alias hijrah ke Jakarta pada tahun 2007.

Setibanya di Jakarta, Asthie kemudian bergabung dengan salah satu Event Organizer (EO). Di sanalah ia merasa 'tercebur' masuk ke dalam dunia seni pertunjukan. Ia memulai karir sebagai produser acara di EO tersebut. Pada awal masa karirnya, perusahaan tempat Asthie bekerja sedang menggarap festival besar bertajuk LA Lights Indiefest.

Dalam festival besar tersebut, Asthie langsung dipercaya menjadi Show Director. Namun, enggak terduga sama sekali. Justru momentum tercebur inilah yang membuat wanita kelahiran 1977 tersebut merasa jatuh hati dengan pekerjaan sebagai Show Director.

"Di situ langsung mikir 'oh, ada ya kerjaan atau profesi yang kayak gini. Ngurusin panggung, ngurusin pertunjukan, dan angsung jatuh cinta aja sama pekerjaannya. Kayaknya asyik," katanya.

Kegemarannya terhadap musik juga mendorong rasa cinta Asthie buat pekerjaannya. Ya, bayangkan saja. Mungkin kita bisa merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk bisa menonton sebuah konser atau festival. Enggak jarang, buat kamu yang enggak nyaman nonton konser di tengah kerumunan, budget yang katakanlah ratusan ribu atau jutaan rupiah yang kamu keluarkan itu enggak menjamin kamu bebas dari kerumunan.


Akan tetapi hal itu enggak berlaku untuk Asthie. Pertama, ia punya "singgasana" sendiri di wilayah Front of House (FOH), kedua, saat kamu mengeluarkan uang untuk menonton konser atau festival, Asthie malah dibayar. Hebat bukan? Namun, keistimewaan itu enggak serta merta didapatkannya. Ada beberapa hal yang mesti dimiliki, dan tentunya perjuangan yang tidak mudah.

Perjalanan karir Asthie sebagai Show Director bisa dibilang unik. Jika biasanya tingkatan profesi Show Director berawal dari kru, yang kemudian promosi menjadi Stage Manager, lalu kemudian menjadi Show Director, namun Asthie tidak mengalaminya. Ia belum merasakan jadi kru, alias langsung akselerasi menjadi Stage Manager. Tidak jarang, ia berperan ganda, sebagai Stage Manager dan juga sekaligus sebagai Show Director.

Sekelumit pengalaman menarik pernah dilakoninya. Misalnya saat ia tidak menyiapkan setelan alat berbeda untuk dua penampil besar saat helatan LA Lights Indiefest 2007 lalu. Hal itu tentu membuat tim Asthie harus bekerja ekstra, karena kedua penampil besar dalam festival tersebut punya jadwal main yang diselang-seling.

"Kalau kejadian itu terjadi hari ini, saya mungkin enggak akan sepanik dulu," kenangnya sembari tertawa.

"Jenderal" yang Tegas
Dalam sebuah pertunjukan yang ciamik, enggak dipungkiri, pasti ada puluhan kru yang pontang-panting di belakang layar. Pertanyaannya: se-lelah dan se-berat apa sih pekerjaan orang yang nampak pontang panting itu?

Menjawab pertanyaan kami, Asthie menyebut kalau pekerjaan timnya di lapangan memang berat, namun bukan berarti harus dijalani dengan pikiran yang negatif. Bahkan, Asthie kerap meminta timnya untuk selalu senang, riang, dan gembira kendati beban pekerjaan mereka boleh jadi tidak mudah.

Dalam satu kali pertunjukan, ia biasanya bekerja memimpin tim dengan jumlah yang tidak menentu. Saat memimpin, Asthie selalu berupaya jadi pemimpin yang tegas.

"Mungkin karena aku cewek kali ya. Jadi, pasti secara apa ya, pokoknya kayak ada yang beda aja dalam posisi tawar menawarnya," ujar Asthie, terkait ritme kerjanya yang mana ia banyak berhadapan dengan pria.

Hal yang jadi catatan penting dalam pekerjaan sebagai orang di balik layar pertunjukan adalah menjaga perasaan agar tetap senang alias happy. Sebab produk yang disajikan orang di balik layar pertunjukan adalah pertunjukan itu sendiri. Energi positif yang ditebarkan oleh pelaku di balik layar, secara langsung maupun enggak bakal sampai ke audiens yang menonton.

"Kalau ada tim melakukan kesalahan, aku enggak yang marah-marah sampai akhir. Aku tau dia salah, aku marahin di titik itu. Abis itu move on! Ini pertunjukan terus jalan," terangnya.


Sebagai pemimpin di sebuah gelaran pertunjukan, sikap beranjak atau move on dari satu kesalahan anak buah sangat perlu dilakukan. Sebab kalau seorang pemimpin terpaku pada satu kesalahan dan terus mengungkitnya, boleh jadi pertunjukan yang ia pimpin akan hancur sampai akhir.

Begitupula dalam memilih tim. Biasanya, Asthie enggak pernah neko-neko. Hanya saja, yang jelas ia menetapkan attitude sebagai salah satu faktor penilaian terbesar dalam menentukan tim. Di luar hal itu, ia mengaku bingung apabila mendapat pesan langsung dari seseorang yang mengajukan diri menjadi tim Asthie.

"Kalau ada yang minta magang atau minta kerja jadi kru di tim aku tuh, malah aku suka jadi bingung. Pertama, aku belum bisa kasih ilmu apa-apa, kedua, ya aku bingung aja ini mau digimanain ya? Akhirnya sih aku bakal minta dia untuk ikut dulu kegiatanku dan lihat langsung. Biasanya setelah dua tiga kali, akan cocok sendiri," bebernya. Enggak jarang, tim yang didapatkannya adalah buah pertemuan spontan di lapangan.

Terkait pekerjaan di lapangan sebagai orang di balik layar pertunjukan, Asthie memberi catatan buat kamu yang tertarik bekerja di bidang ini. Catatan penting dalam hal ini adalah hidari sifat mudah tersinggung atau baperan.

Ya, sifat ini bisa membuat pekerjaan di balik layar pertunjukan jadi tidak bisa dinikmati. Kedua, pertunjukan yang kamu urusi bisa berantakan kalau hati kamu enggak di sana.


Sewindu Menjadi Independen
Sejak 2012, Asthie memutuskan keluar dari EO yang memeberinya pengalaman tersebut. Sejak memutuskan berkiprah sebagai Stage Director profesional, ia mengaku pengalaman dan tempaan yang ia alami selama bekerja di kantor lamanya itu banyak menyumbang hal positif. Apalagi, Asthie kadang merasa dirinya adalah anak Bandung yang merantau ke Jakarta, yang mana anak Bandung kerap dikait-kaitkan dengan stigma anak daerah.

"Asli. Jakarta tuh menerpa dan membentuk aku banget," katanya sembari tertawa.

Enggak heran, Asthie menjadi salah satu sosok  yang berperan di balik tepat waktunya gelaran Prambanan Jazz, yang dihelat beberapa waktu silam. Menanggapi hal tersebut, Asthie kembali tertawa. Ia menjelaskan bagaimana proses dan insiden yang terjadi pada gelaran festival sebelum dirinya menangani festival tersebut.

Berkaca pada insiden sebelumnya, ditambah lagi pengalamannya menangani festival besar, Asthie yang ditunjuk sebagai Show Director di acara ini kemudian mencetak 'rekor' baru. Ya, Prambanan Jazz di bawah arahannya menjadi salah satu festival dengan perencanaan waktu yang super tepat alias on time.

Saking populernya sosok Asthie sebagai pemimpin wanita dalam ranah seni pertunjukan, namanya bahkan sampai dijadikan bahan skripsi oleh salah satu mahasiswa di Jakarta. Penelitian itu berfokus pada gaya kepemimpinan Asthie di balik layar pertunjukan.

"Itu sampai sekarang aku belum baca loh (skripsinya). Duh, keduluin nih," terangnya.

Sebagai penutup, Asthie memberi pesan untuk perempuan di manapun kamu berada, supaya jangan ragu untuk jadi pemimpin perempuan. Selain jangan ragu, Asthie juga mengajak kepada para wanita supaya jangan minder. Namun, kendati demikian, ia memberi catatan agar para wanita ini jangan terlalu merasa superior dibanding lelaki.

Ia juga menyebut, menjadi pemimpin perempuan pasti punya tantangan yang lebih besar. Namun, dengan pengetahuan, skill, dan mentalitas yang kuat, idealnya tiap perempuan enggak perlu takut untuk jadi pemimpin.

"Di manapun kita berada, posisikan diri kita sebanding atau equal dengan orang lain, siapapun," pungkasnya.

TemanBaik, belajar dari semangat Asthie, rasanya benar: kita perlu lebih percaya diri lagi untuk maju sebagai pemimpin. Selain itu, menjadi pemimpin di bidang pekerjaan yang kita gemari juga bisa menjadi salah satu kebanggaan, kepuasan, dan kesenangan tersendiri. Sehingga walaupun pekerjaan kita berat, namun kita bisa menjalaninya dengan senang hati. Selamat berakhir pekan ya, TemanBaik!

Foto: Istimewa/Dok. Pribadi Asthie Wendra


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler