Ngobrol Bareng Genta Fajar, Bapak Roundnet Indonesia

Bandung - Mengawali karir di bidang hiburan sebagai kru pertunjukan musik, siapa sangka kalau dirinya bakal menjadi founder dari Event Support ternama dengan jejaring Internasional? Kepala plontos dan penampilannya yang sporty mengingatkan kami pada sosok penjaga gawang Timnas Indonesia di Piala AFF 2010, Markus Harris Maulana.

Namun, bukan acara pertunjukan musik, apalagi sepakbola dan sarung tangan yang akrab dengan dirinya belakangan ini, melainkan jenis olahraga yang baru berkembang satu tahun di Indonesia. Ya, Roundnet nama olahraganya. Kebiasaan sebagai orang berlatar belakang kreatif memacu dirinya untuk mencari sesuatu yang unik. Begitulah Genta Fajar (40) memulai obrolan dengan kami.

Tidak perlu waktu lama bagi kami menemukan keseruan mengobrol dengan pria yang sedang menikmati julukan barunya: Bapak Roundnet Indonesia alias BARON. Ya, julukan yang pantas bagi seseorang yang mempelopori cikal bakal cabang olahraga baru di Tanah Air ini.

"Saya tipikal orang yang senang bermain di arena blue ocean. Sebab kompetitornya enggak banyak, bahkan mungkin enggak ada," terangnya saat membuka percakapan. Ia bermimpi kegiatannya bersama komunitas Roundnet Indonesia enggak sebatas kegiatan olahraga saja, tetapi juga menghasilkan ekosistem industri, dan tentunya ekonomi baru.

Sebagai pelaku industri kreatif yang terdampak besar oleh terpaan pandemi virus korona, Genta menceritakan perjalanannya. Singkat memang, hanya setahun. Namun, transisi semusim ini boleh jadi akan membawanya menjadi tokoh baru di Indonesia.


Om Gen. Waduh, habis latihan nih?
"Iya. Kita biasa mengadakan latihan di Lapangan Bawet seminggu sekali. Total latihannya sih dua kali seminggu, tapi yang satu kalinya lagi itu kita keliling untuk memperkenalkan Roundnet ini ke beberapa wilayah.”

Kok bisa se-cinta itu sama Roundnet sih? Emang pertamanya gimana, Om?
"Ha ha ha. Ngomongin pertamanya mah enggak bisa dilepasin karena efek pandemi juga. Industri hiburan yang saya jalanin bareng tim itu benar-benar lumpuh. Hampir semua event di tahun 2020 batal. Sama kayak kebanyakan orang, saya termasuk yang benar-benar patuh dan stay di rumah aja waktu awal pandemi itu. Nah, saat momen itulah, saya main olahraga roundnet ini.”

Jadi, menyenangkan gitu ya, Om Gen?
"Iya. Menyenangkan banget. Di fase awal tadi tuh, saya main roundnet di rumah malahan. Di garasi rumah. Cuma, karena sekarang udah boleh main di luar, ya enaknya sih main di tempat yang lebih luas dong.”

Buat kamu yang belum tahu, Roundnet adalah salah satu cabang olahraga yang berkembang di Amerika Serikat pada dekade 90-an hingga 2000-an. Awal mula olahraga ini tercetus dari ide Jeff Knurek yang membuat produk bernama 'Spike Ball' pada tahun 1989. Pada tahun 2008, Spike Ball kemudian dikembangkan oleh Chris Rudder menjadi sebuah cabang olahraga dan mulai banyak dimainkan di Amerika dan Eropa.

Namun, karena 'Spike Ball' adalah nama produk, maka komunitas Spike Ball yang ada tersebut perlu mencari nama baru. Dari sanalah, komunitas-komunitas ini kemudian menemukan entitas baru, yakni Roundnet.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Jajat Sudrajat Sang Pengantar Makanan Buka Puasa

Menariknya, Genta sebelumnya sudah 16 tahun berkecimpung di dunia hiburan. Ia merupakan pemilik atau founder Bakpaw Inc, agensi sekaligus event support untuk acara pertunjukan. Dari industri hiburan tersebut, Genta bisa dibilang sudah mengecap kesuksesan karena bisa membeli berbagai kebutuhan pokok hingga sampingannya.

Saat ditanya apakah Roundnet merupakan pelariannya saat jenuh, Genta menjawab kalau dirinya sama sekali tidak merasa jenuh bekerja di industri hiburan. Hanya saja, kondisinya saat itu memang mengharuskan industri hiburan tiarap sejenak akibat terpaan pandemi virus korona.


Akhirnya Om Gen beli alat ini?
"Awalnya nonton dulu tayangan Roundnet di YouTube. Kan tadinya nyari tahu tentang hal-hal uniklah. Karena kebetulan saya tipe orang yang main di area blue ocean tadi kan. Akhirnya apa yang saya konsumsi itu selalu yang ada embel-embel uniknya. Dan begitu nyari tentang olahraga unik yang belum ada di Indonesia, yang pertama muncul itu si Roundnet ini. Cuma namanya Spike Ball. Dan setelah saya kulik lagi, rupanya Spike Ball ini nama produknya, kalau olahraganya sih Roundnet.”

Bukan karena jenuh di hiburan ya?
"Bukan lah. Karena kemarin pandemi, kita enggak ada kerjaan. Saya nyari kegiatan yang bisa dilakuin di rumah, enggak bikin boring. Dan ketemulah sama olahraga ini.”

Kenapa milih Roundnet sih, Om? Kan ada juga beberapa olahraga lain tuh?
"Saya tipe orang yang senang bermain di area blue ocean. Ya itu tadi. Kalau dalam bisnis sih, kita mengenalnya dua area ya: red ocean dan blue ocean. Red ocean, itu adalah area yang pemainnya banyak. Pesaingnya banyak. Sedangkan blue ocean, adalah area yang pesaingnya enggak sebanyak red ocean. Tapi, kelebihan main di blue ocean ini, produk yang kita jual nilainya bakal tinggi.

Nah, Roundnet ini boleh jadi salah satu blue ocean. Ya sebab di Indonesia yang mainnya belum ada. Dan memang area blue ocean adalah sesuatu yang selalu ada di pikiran saya.”

Kegemaran berbisnis ini memang sudah muncul dari sejak kecil apa gimana?
"Ya, bisa dibilang karena survive sih. Dulu waktu kecil kan mau minta uang jajan ke orang tua, kebetulan agak sulit juga keadaannya. Akhirnya mulai jualan sejak kecil. Kebentuknya dari situ.”

Balik lagi ke Spike Ball atau Roundnet nih. Kesan pertama pas nonton olahraga ini gimana, Om?
"Unik aja. Ini tuh olahraga apa ya? Kok kayak capek banget tapi banyak ketawanya. Itu tahun 2018 saya nontonnya. Dan sempet kayak kelupain gitu. Sempet sih ngobrol sama temen-temen kayak ‘eh, ini ada olahraga antik nih..’

Sampai akhirnya Desember 2019 ada hawar-hawar virus korona di Wuhan. Terus bulan Maret kan kita kena lah ya. Otomatis, event juga kena imbasnya lah. Tapi, di akhir Februari 2020 itu saya emang udah beli alatnya (Roundnet) ini dari Amerika. Harganya 1,2 juta.”

Alat itu tiba di rumah Genta pada 25 Februari 2020. Sehari kemudian, ia menjajalnya bersama istri dan sampai hari ini, tanggal 26 Februari diperingati sebagai hari ulang tahun untuk Roundnet Indonesia. Sejak hari itulah, Genta meyakinkan diri bakal tenggelam lebih jauh di dalam olahraga yang satu ini.

Ia mengulik teknik dan seluk beluk permainan Roundnet, sembari mempromosikan Roundnet ini ke lingkungan terdekatnya. Saat masih dalam suasana karantina wilayah, ia mempelajari olahraga ini di rumah. Saat karantina wilayah dilonggarkan, Genta berkeliling untuk mempromosikan olahraga ini ke teman-temannya.

"Saya datangin tuh ke rumahnya, ke kantornya. Sebab kan permainan ini bahkan bisa dilakukan di ruang tamu," katanya.


Kota ke Kota
Setahun berjalan, olahraga Roundnet kini sudah eksis di 11 kota. Dimulai dari kota Bandung, selanjutnya menyusul sejumlah kota seperti Malang, Jakarta, Bogor, Kuningan, Cirebon, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Bali, Surabaya, dan Cianjur.

Cara promosi paling sederhana yakni mulut ke mulut, sampai berkeliling kota dilakukannya. Enggak tanggung-tanggung, sebagai ‘bahan bakar’ keberangkatan, Genta sampai menjual satu unit mobil mewah kesayangannya. Mengenang hal tersebut, ia tertawa sendiri.

"Saya tuh kepengin hidup tuh punya manfaat buat orang lain. Berkaca dari Bakpaw Inc lah, saya dari tahun 2006 sampai 2020, menjalankan usaha ini, kerja sama dengan berbagai vendor. Ada rasa bahagia aja saat kita ngasih manfaat sama orang lain. Nah, konteksnya di Roundnet, saya jadi pelopor dong. Dan saya jadi sentral. Selain itu, saya percaya karena ini sifatnya olahraga, ini bisa jadi ekosistem ekonomi baru," bebernya.

Dilihat dari segi bisnis, seandainya Roundnet ini menjadi cabang olahraga yang diresmikan oleh Pemerintah, maka otomatis peluang terciptanya ekosistem bisnis baru dirasa sangat besar. Ambil contoh saja, dari satu cabang olahraga seperti sepakbola; bisa kita hitung dan bayangkan ada berapa orang yang kemudian menjual jersi? Lalu ada berapa orang yang menjadi distributor produk bola sepak, sepatu bola, dan masih banyak lagi. Belum lagi orang yang menyewakan lapangannya. Saat ini, Roundnet boleh jadi dipandang sebelah mata. Namun Genta punya pemikiran dan rencana jangka panjang terkait hal ini.

"Salah kalau saat ini nyari uang dari Roundnet. Ini tuh sejenis investasi jangka panjang," katanya.

Jadi, Om Gen banting setir sepenuhnya ke Roundnet?
"Enggak. Tapi buat saat ini saya curahkan 95% energi, tenaga, materi, pikiran saya ke Roundnet. Saya punya keyakinan, industri hiburan bakal bounch-back suatu saat. Tapi kan buat saat ini apa yang bisa kita harapkan dari event saat ini?

Setahun berjalan, Alhamdulillah, sudah 11 kota sekarang mainin roundnet.”

Buat di Bandung sendiri, gimana cara Om Gen berkampanye?
"Saya adain latihan dua kali dalam seminggu. Buat temen-temen yang mau join, bisa setiap Kamis di Lapangan Bawet (dekat Taman Film, kolong Jembatan Pasupati, Bandung). Kalau waktu keduanya itu di hari Minggu, saya keliling ke beberapa wilayah di Bandung. Saya gandeng juga orang-orang kewilayahan kayak Karang Taruna. Saya bawa alat Spike Ballnya dan gratisin mereka buat main.”

Di chapter lainnya, jadwal latihan Roundnet disesuaikan dengan kesepakatan yang berlaku. Namun untuk kamu yang berdomisili di Bandung, disarankan kamu datang saja ke Lapangan Bawet saban Kamis sore.


Menatap Panggung Internasional
Latihan demi latihan, kampanye demi kampanye dilakukan Genta agar Roundnet dapat menjadi salah satu cabang olahraga yang mengharumkan nama Indonesia. Saat ini, ia banyak berkoordinasi dengan pihak otoritas seperti Dispora atau KONI. Ia terus mendorong agar Roundnet Indonesia segera bertransformasi dari olahraga level komunitas menjadi olahraga resmi yang diikutsertakan dalam gelaran festival olahraga level Nasional.

Lebih jauh lagi, Genta beserta Roundnet Indonesia sedang menatap dua turnamen Internasional di Taiwan pada Desember 2021 mendatang, dan puncaknya adalah turnamen di Belgia pada tahun 2022 mendatang. Untuk melenggang ke Eropa, Genta bersama Roundnet Indonesia gencar melakukan seleksi di berbagai wilayah.

Sejauh ini gimana respons Pemerintah terkait olahraga ini?
"Baik kok. Saya optimis banget sih, Pemerintah pasti ngedukung kalau apa yang kita lakukan tuh ngasih dampak baik buat negara. Masak olahraga dan prestasi konteksnya buruk sih, ya? Pasti baik dong.”

Persiapan buat turnamen Internasional itu gimana?
"Pembibitan dan kampanye terus dilakukan. Kita tuh kayak bikin seleksi Timnas-nya lah kalau di sepakbola mah. Dan buat sekarang sih sambil ngejalanin misi ini, saya berharap seenggaknya di tiap kota di Indonesia ada chapter baru dulu deh. Sebab, dari sana kita bisa menjaring bakat-bakat terpendam.”

Om Gen nanti main juga enggak kalau jadi ikut turnamen Internasional?
"Tuntutan dari anak-anak, saya harus turun. Walau enggak tau apakah ini turnamen terakhir saya, yang jelas untuk jadi orang pertama yang mewakili Indonesia buat main Roundnet di luar, anak-anak mempercayakan satu slot buat saya.”

Sejauh ini, Roundnet Indonesia telah dua kali menggelar turnamen. Sekali turnamen level nasional, dan sekali lagi turnamen level daerah atau chapter. Turnamen-turnamen ini selain sebagai upaya pengenalan Roundnet, juga menjadi ‘seleksi Timnas’ untuk memuluskan harapan mereka berjaya di Eropa.


Bapak Roundnet Indonesia
Setahun menjalankan komunitas Roundnet, Genta didapuk sebagai ‘Bapak Roundnet Indonesia’. Penobatan ini boleh jadi terkesan seperti main-main, namun kalau kita lihat secara utuh, penobatan ini memang benar. Sebab Genta-lah yang pertama kali memboyong Roundnet ke Indonesia.

Cerita penobatan tersebut bermula saat Genta dan komunitas Roundnet Indonesia menggelar turnamen eksibisi. Saat itu, beberapa anggota komunitas ambil bagian sebagai sponsor buat gelaran acara ini. Dari sekian banyak sponsor dan banner yang nampang di lapangan pertandingan, tiba-tiba muncul foto Genta yang telah dihias beserta julukan 'Bapak Roundnet Indonesia' yang disematkan.

"Dibilang terharu, ya terharu banget. Wah, segininya ya apresiasi buat saya,” katanya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan ada orang lain yang tiba-tiba mengakusisi gelarnya sebagai Bapak Roundnet Indonesia, Genta hanya tertawa. Menurutnya, sejauh ini ia yakin kalau dirinya dan komunitas yang dijalankannya adalah pionir olahraga Roundnet di Indonesia.

"Anak-anak enggak bakal tinggal diam sih (kalau ada yang mengakusisi),” ujarnya sembari tertawa.

Hal ini juga ditunjang dengan beberapa data otentik yang membuktikan kalau Genta dan Roundnet Indonesia adalah pelopor olahraga Roundnet di Indonesia. Seperti jejak digital di dunia maya, pengukuhan nama Roundnet Indonesia Bersatu yang kini sudah berbadan hukum, serta anggota dan jumlah chapter yang terus tumbuh.


Menurut Om Gen nih, sebagai Bapak Roundnet Indonesia, regenerasi itu perlu enggak sih?
"Penting dong. Kita mikirin olahraga ini tuh jangka panjang. Dan enggak hanya olahraganya secara tunggal. Tapi ekosistem penunjangnya juga harus terdampak positif. Kebayang enggak, nanti mah bakal ada sewa lapangan roundnet. Hahaha. Kalau sekarang kan yang terkenal baru sewa lapangan futsal ya. Nah, ekosistem penyangga ini juga jangan sampai enggak diperhatikan.”

Harapan Om Genta bersama Roundnet Indonesia?
"Saya kepengin olahraganya maju, kepengin Indonesia punya atlet Roundnet yang berprestasi di kancah Internasional, dan balik lagi: ekosistemnya jalan dan sehat.”

Apa sih yang ngubah Om Genta, sebagai orang entertain dan sebagai atlet Roundnet nih sekarang?

"Ha ha ha. Nanya nya ke anak-anak atuh kalau itu mah. Tapi, mungkin karena si Roundnet ini olahraga yang menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, ada lah disiplin olahraga ini yang perlahan kayak bikin saya mikir ‘wah, gua enggak bisa kayak gini terus, gua sekarang representasi Roundnet. Jadi gua harus belajar..’ gitu deh.”

Sekarang kan Om Genta udah 40 tahunan nih. Kira-kira, bakal main sampai umur berapa?
"Ha ha ha. Iya ya, gua udah tua juga. Hhmmm, kalau perkiraan sih, saya masih bakal terus main sampai usia 45. Lima tahun dari sekaranglah. Setelah usia 45, saya akan gantung rim. Cie, gantung rim.”

Waduh, udah kayak Gianluigi Buffon lah ya berniat pensiun di usia 45. Makasih, Om Genta!
"Ha ha ha. Iya, makasih juga ya.”

TemanBaik, pengalaman Genta memboyong olahraga Roundnet ke Indonesia dan berupaya jadi pelopor mengingatkan kita pada salah satu bagian dalam film 3 Idiots. Dalam salah satu adegan, Viru Sahastrabuddhe, tokoh rektor kampus dalam film itu memotivasi mahasiswanya untuk menjadi nomor satu. Ya, ia menyebut nomor satu akan diingat. Orang akan ingat Neil Amstrong sebagai orang yang pertama mendaratkan kaki di bulan, lalu enggak ada yang terlalu peduli dengan nomor dua, tiga, apalagi sebelas.

Namun, bukan berarti untuk jadi yang pertama, jangan sampai kita menghalalkan segala cara ya. Sebab, saat dihadapkan peran sebagai apapun, maka jadilah yang terbaik. Sekalipun berperan sebagai rumput, jadilah rumput yang paling hijau.

Tanam selalu semangat dan kreatif dalam dirimu ya, TemanBaik. Selamat berakhir pekan!

Foto: Rayhadi Shadiq & Djuli Pamungkas / Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler