Ngobrolin Hipnoterapi & Trauma Masa Lalu bareng Nabila Ghassani

Bandung - Bukan psikolog, tetapi banyak berhadapan dengan isu kesehatan mental. Pembawaannya santai, kalem, kadang membius. Kegelisahan terhadap stigma hipnoterapi jadi gerbang masuknya mempelajari ilmu ini.

Kini, Nabila Ghassani banyak menghabiskan waktunya sebagai Hypnotherapist dan Human Design Reader. Enggak segampang kelihatannya, atau enggak semudah nyeletuk "kamu cocoknya kerja di air," ya. Dua jam kami ngobrol daring dengan Nabila, ada beberapa hal menarik yang kami jumpai mulai dari pentingnya menjaga kesehatan mental, bagaimana cara kerja hipnoterapi untuk menyembuhkan luka batin, hingga apa itu definisi bahagia.

Tenang, pembahasan kesehatan mentalnya enggak terlalu berat kok. Simak obrolan kami di bawah ini, ya!


Halo Nabila. Gimana? Lagi sibuk apa?
"Oh ya. Halo, halo.. Ini kamu kok bisa tau saya nih? Dari mana?”

Iya dong, ada tim riset kami.
"Ha ha ha. Iya, oke deh..”

Masih sibuk sama kegiatan terapi ya?
"Iya, saat ini lagi sibuk sesi online.”

Sejak kapan sih mulai ngulik Hipnoterapi ini?
"Sekitar tahun 2015. Ini sebenernya enggak sengaja nih bisa masuk ke dunia ini. Awalnya kayak ada ketertarikan sama sebuah buku, begitu.”

Tapi enggak ada dasar basic psikolog ya?
"Enggak, saya belajar lewat jalur informal. Ngambil beberapa sertifikasi. Kalau backgroudnnya dari Komunikasi, Mankom UNPAD. 

Baca Ini Juga Yuk: Melawan Jemawa ala Gelandang Persib Dedi Kusnandar

Kok bisa "nyasar" ke Human Design Reader dan Hipnoterapi sih?
"Dari ketertarikan sama Teknik Hipnoterapi awalnya. Dan setelah mempelajari ini, akhirnya mempelajari Psikoterapi lebih dalem. Baru kemudian belajar juga metode profiling kayak human design, astrologi, MBTI, numerology dan masih banyak lagi. Tapi, akhirnya saya punya ketertarikan yang kuat sama human design ini.”

Pas awal belajar Hipnoterapi, pernah dihindarin orang enggak? Karena takut dihipnotis gitu?
"Sampe sekarang kali itu mah. Ha ha ha. Iya, ini tuh lahir karena miskonsepsi, atau salah pengertian lah. Orang kan taunya hipnoterapi itu kayak hipnotis yang ada di televisi atau malah identik sama kejahatan gitu, kayak misalnya yang kena hipnotis di ATM lah. Padahal kan enggak begitu, ya.”

Jadi sempet lah ya dihindarin orang?
"Iya, kayak wah, gua enggak mau ngeliat mata Nabila ah..' gitu. Terus saya ketawa aja. Aduh, saya bukan tukang sulap, bukan tukang sihir.”

Kami akhirnya ngobrol sedikit soal hipnoterapi bareng Nabila, jadi, hipnoterapi itu sebuah teknik yang membawa kita untuk berada dalam kondisi tubuh dan pikiran yang sangat rileks. Nah, tujuannya adalah untuk mengakses "data memori" yang ada di masa lalu kita. Ini memang terdengar asing, atau boleh jadi konyol, ya. Namun siapa sangka, luka di masa lalu yang kemudian tertimpa memori rutinitas sehari-hari boleh jadi akan berdampak buruk terhadap apa yang kita jalani ini.

Hipnoterapi itu sendiri sebetulnya enggak ada kaitannya dengan dunia mistis atau dunia tipu-tipu tadi. Secara konsep, kamu akan dibawa ke alam bawah sadarmu. Terapis akan mencari data lawas dalam dirimu, yang menjadi akar dari gangguan mental yang selama ini kamu alami.

"Pada dasarnya kan pikiran manusia itu dibagi tiga; alam sadar, bawah sadar, dan tidak sadar. Hipnoterapi adalah metode untuk mengakses alam bawah sadar seseorang," terang Nabila.


Akses ke alam bawah sadar ini diperlukan, sebab, kita enggak bisa mengurai masalah dalam diri kita saat kondisi kita sedang dalam keadaan sadar. Menariknya lagi, memori yang tersimpan di alam bawah sadar justru lebih besar daripada alam sadar loh!

Tapi kita pernah nonton video Nabila lagi bahas hipnoterapi. Itu kok kita jadi terbawa ya? Disuruh tarik nafas, ikutan. Disuruh merem, ikutan. Apakah karena Nabila ini seorang Hipnoterapis?
"Enggak atuh, belum tentu. Kan manusia itu menginterpretasi tayangan sesuai kebutuhan. Bisa jadi kan karena kamu kepengin buktiin, jadinya ngikutin. Kalau yang nonton videonya lagi nyetir mah, dia juga enggak akan terpengaruh lah, kayak 'eh apa sih ini?' gitu.. he he he”

Nabila kliennya banyak artis ya?
"Ha ha ha. Iya ada beberapa public figure yang jadi klien saya."

Eh itu, balik lagi, apa sih yang bikin tertarik sama hipnoterapi?
"Awalnya karena baca buku, judulnya 'Miracle Happens', dan dari situ kayak tertarik sama past life. Intinya di buku itu tuh nyeritain seorang hipnoterapis di Amerika, ketika dia lagi terapi, dia nemuin satu kejadian aneh, di mana kliennya ini ngerasa lagi ada di hutan. Akhirnya, si dokter ini ngelanjutin, kayak time travel ke masa lampau. Kalau orang yang percaya reinkarnasi, ini tuh kayak momen di mana seseorang masuk ke kehidupan masa lampau.”

Tapi Nabila percaya reinkarnasi?
"Hhmm, kalau saya pribadi sih percaya. Tapi intinya adalah saya jadi kepengin tau lebih dalam nih, emang kayak gitu ya? Ada kasus yang membuktikan kalau orang dihipnoterapi itu dia bisa balik ke masa lalu ya? Dari situ jadi penasaran, hidup saya di masa lalu kayak gimana ya?" Akhirnya, singkat cerita saya ikutan workshop di Jakarta. Seberesnya workshop itu, saya kayak kepengin nyoba aja. Padahal itu iseng-iseng. Akhirnya saya jadiin satu temen sebagai bahan percobaan dan ternyata berhasil.”

Berhasil ke masa lalunya gitu?
"Iya, berhasil. Kita berdua kayak amaze, wah ini keren sih.”


Apa sih yang bikin amaze gitu?
"Pertama karena bisa ngeliat masa lalu, kedua, karena liat  perubahan ekspresi saat dia bangun. Awalnya dia kaya lemes ga semangat, pas beres terapi mukanya jadi lebih ceria dan semangatnya muncul lagi. Buat ngelakuin past life therapy itu sebenarnya enggak bisa iseng 'ah gua kepengin liat masa lalu aja lah..' enggak bisa. Harus ada masalah dulu nih, misalkan 'duh, gua kok orangnya mageran ya..' atau masalah-masalah dalam hidup yang berulang, itu bisa jadi terjadi karena ada sesuatu di masa lampau kita, yang enggak kita sadari si sesuatu itu memengaruhi kita hari ini. Jadi ada konteks yang jelas dulu di kondisi saat ini dan tujuannya memang karena pengen memperbaiki kondisi saat ini.”

Wah, kirain bisa gitu kalau kepengin tau masa lalu aja. Tapi jadi kepikiran nih nyari orang yang baru ikut workshop biar dijadiin percobaan.
"Ha ha ha. Enggak bisa dong. Harus ada dulu masalahnya apa, supaya nanti bisa diurai.”

Perjalanan ke masa lalu tuh kayak gimana sih? Ini sama kayak time traveler gitu?
"Perjalanan ke masa lalunya tuh pakai emosi, lewat rasa. Ini disebutnya regresi, perjalanan mundur. Kayak buka album lah, album foto. Pas kita liat foto tertentu tuh kita bisa inget memorinya, tapi lebih detail dan rasanya bisa muncul ke permukaan. Jadi rasa ini yang jadi keyword untuk bisa akses memori, saat memorinya muncul berupa gambar nanti rasanya juga muncul jadi kita bisa ngerti konteks dari memori ini apa.”

Faktor apa lagi selain perjalanan ke masa lalu seseorang, yang akhirnya bikin Nabila makin kepengin mendalami bidang ini?
"Setelah saya liat ada perubahan dari perilaku temen yang habis sesi ini. Ya, namanya terapi ya, pasti ada tujuan terapeutiknya, ngubah sesuatu yang enggak nyaman jadi nyaman. Nah, setelah liat ada perubahan perilaku itu, akhirnya makin tertariklah buat belajar lebih jauh tentang teknik ini.”

Seneng dong ya?
"Seneng. Asli. Ini tuh kayak kita liat orang yang tadinya galau jadi move on, orang hopeless jadi semangat.”

Perlu berapa kali terapi sih biar ngubah seseorang?
"Tergantung dari kompleksitas masalahnya. Kondisi tiap orang beda-beda. Idealnya setidaknya 4 sesi. Ada yang kurang lebih sepuluh sesi. Karena sifat terapi ini progressing dan juga untuk maintenance. Tapi ada juga yang setelah sekali sesi udah ngerasain banyak perubahan. Nemuin pencerahan setelah sesi."

Wah, cocok dong ya buat iklan promo: 'datanglah ke klinik yong-yang'. Cukup dua kali terapi, hidup anda akan lebih baik…
"Ha ha ha ha.”

Nabila enggak langsung menjadi Hipnoterapis dan Human Design Reader seperti saat ini. Di fase awal mempelajari hipnoterapi, ia masih bekerja kantoran di bidang logistik. Layaknya pekerja yang punya hobi sampingan, ia menghabiskan waktu sehari-hari untuk berkantor, dan membuka sesi di akhir pekan untuk hipnoterapi.

Fase menjadi freelancer atau hipnoterapis paruh waktu ini diawali dengan sesi gratisan hingga berbayar. Seiring berjalannya waktu, Nabila mulai pasang tarif. Tarif menjadi hal yang cukup penting, karena menurutnya seseorang yang membayar untuk terapi akan menjalani proses hingga mendapatkan hasil yang lebih optimal.

"Beberapa kali ngasih sesi gratisan itu kayak kliennya enggak on time, atau malah cancel. Nah, saat seseorang bayar untuk ngelakuin ini (terapi), itu proses dan hasilnya akan lebih optimal," jelasnya.

Baca Ini Juga Yuk: Dokter Adhitya Wisnu & Cerita dari Balik Layar Rumah Sakit

Gabung sama Jeda Wellnest gimana ceritanya?
"Setelah jadi freelance itu tadi, 2019 aku resign dari kerjaan, dan gabung sama Jeda. Awalnya diajakin temen.”

Oh, sesimpel diajakin terus gabung lah ya kalau di Jeda itu?
"Iya. Ini ada hubungannya sama human design tadi. Saat kita udah tau desain kita seperti apa, kita enggak perlu gusar sama pilihan-pilihan yang mesti kita ambil, dan hidup kita juga akan jadi lebih mengalir. Saat saya mempelajari diri saya, saya jadi paham, saya ini tipe orang yang merespons, bukan mengejar. Akhirnya, saya putuskan saya keluar kerja. Terus mau jadi full time hipnoterapis. Enggak kepikiran nantinya gimana, mau praktek di mana, enggak sama sekali. Tapi saat kita paham diri kita, itu kayak semuanya mengalir aja dan secara enggak langsung dituntun ke arah sana. Enggak sampai sebulan saya keluar kerja, datanglah tawaran dari temen. Dia ngeliat saya bisa human design dan diajaklah gabung sama Jeda. Setelah lolos interview dan persyaratan akhirnya bisa praktik di Jeda. ”

Konsepnya klinik berarti ya?
"Iya. Di dalamnya ada praktisi-praktisinya. Dan di Jeda itu banyak praktisi dengan beda-beda metode.”

Cerita seru dong pas berhadapan dengan klien..
"Kalau cerita seru sih banyak karena orang tuh punya ceritanya masing-masing dan beda. Kilen saya ini kan latar belakangnya dari berbagai macam orang, ada anak-anak, remaja, orang tua, sampe kakek-nenek, dari mereka saya juga jadi bisa banyak belajar, jadi punya perspektif yang lebih luas aja tentang manusia.”

Apa sih rata-rata masalah orang-orang dengan masa lalunya?
"Hhmm, dari berbagai klien yang datang nih dari anak-anak sampai nenek-nenek tadi, benang merah yang saya tarik adalah permasalahan di masa lampau dengan orang tua atau keluarga. Tapi, bukan berarti semuanya salah orang tua ya.”

Wah seru nih. Jadi gimana?
"Iya, jadi itu tuh perkara salah paham sebetulnya. Karena saat kita kecil kan kita masih polos tuh. Enggak ngerti maksudnya orang tua gimana. Jadinya kita polos aja memaknai kejadian tersebut. Misalnya, karena orang tua telat jemput, terus kita jadi mikir orang tua gak sayang sama aku, emangnya aku gak penting ya kok gak dijemput, temen-temen aku aja udah pada pulang. Nah, karena kejadian seperti ini aja anak bisa terluka mikirnya kemana-mana dan belum tau gimana cara ngungkapin perasaannya jadinya kependem emosinya ini. Orang tua juga gak tau kalau ternyata kejadian ini membuat anak terluka begitu dalam. Kebanyakan kasus akar masalah luka batin seseorang muncul di bawah usia tujuh tahun, di beberapa kasus ada juga yang muncul saat masih berupa janin di dalam kandungan.”

Oh, bisa ya? Itu biasanya karena apa sih?
"Misalnya, pas Ibunya lagi hamil, Ibunya sedih karena suatu hal. Terus si janin ngerasa sedihnya Ibu dan jadi mikir 'kok Ibu sedih? Kan ada aku, harusnya seneng ada aku. Emang aku gak berharga ya buat Ibu?' Padahal, si Ibu sedih karena hal lain, gak sadar dan gak maksud bikin si janin sedih juga.”

Momentum hipnoterapi yang dijalankan oleh Nabila digambarkan sebagai momen masuk ke dalam dunia bawah sadar sang klien. Ya, terdengar seru juga bisa menyelami diri seseorang dan masa lalunya. Setelah ‘masuk’ ke dalam diri seseorang, Nabila akan membantu menemukan titik masalah yang dihadapi seseorang. Titik ini biasanya merupakan akar masalah seseorang.

Jika diurai, mungkin kita akan kaget kalau rupanya masalah yang terjadi berulang dalam hidup kita muncul dari satu kejadian kecil yang tidak terlalu signifikan ternyata begitu membekas dan memengaruhi kita. Nah, peran hipnoterapis yang dijalankan oleh Nabila ini membantu kita menemukan akar masalah tersebut dan membantu untuk memaknai ulang kejadian tersebut. Menyadari luka tersebut, menerima, dan berdamai dengan memaafkan orang yang telah melukai kita.

Ia juga menambahkan jika hipnosis bisa dilakukan sendirian oleh kita. Kuncinya adalah saat kita menemukan titik rileks untuk bisa menyelam ke dalam diri sendiri tadi. Nabila juga memberi sedikit kisi-kisi, waktu ideal saat kita hendak melakukan self-hypnosis adalah saat bangun tidur atau menjelang tidur, karena dua momen ini adalah waktu di mana kita berada dalam kondisi yang sangat rileks. 

"Jadi kayak ngomong, 'yuk, semangat yuk’ atau 'sehat ya’ sama diri sendiri gitu. Nah, itu juga bisa dilakukan saat self hypnosis," terangnya.

Satu sesi hipnoterapi bisa memakan waktu tiga hingga empat jam. Wah, seperti apa ya rasanya menyelami hidup individu lain dalam waktu selama itu?

Tiga sampai empat jam ya? Itu enggak capek?
"Iya. Karena ada beberapa tahapan kan. Kalau capek atau jenuh sih enggak. Tapi, kalau kena terpaan energi dari klien itu, pasti. Dan sebagai terapis, memang penting untuk rutin membersihkan diri, dinetralin lagi energinya dan recharge."

Nah, ini cukup populer nih kita dengernya: membersihkan energi. Apakah membersihkan energi itu dilakukan dengan cara mandi kah? Atau mungkin meditasi saat bulan purnama?
"Hhmmm, cara yang paling simpel adalah shower meditation. Mandi, tapi sambil difokusin untuk meluruhkan energi tadi. Bisa juga meditasi, atau grounding (jalan di atas rumput), itu kan jalan di atas rumput itu kayak nyeimbangin lagi energi tubuh dan ngerecharge. Banyak kok kegiatan simpel yang bisa membersihkan dan nyeimbangin lagi energi kita.”

Jadi enggak harus nunggu bulan purnama ya?
"Enggak. Ha ha ha.”

Itu berlaku buat orang biasa yang bukan terapis enggak sih?
"Berlaku kok. Karena kita kan tiap hari ketemu banyak orang. Dan tiap orang itu punya pancaran aura. Kayak kamu sekarang lagi di coffee shop aja, di sebelah kamu lagi bete misalnya, nah, aura itu tuh beririsan sama kamu. Bisa jadi energi, emosi dia nempel di tubuh energi kamu, jadi perlu kamu bersihin. Intinya, perlu aware dan rutin untuk bersihin tubuh fisik, psikis dan energi.”

Pancaran aura seseorang itu seberapa jauh?
"Tergantung. Ada yang satu meter, ada yang tiga meter. Contohnya buat orang-orang Jakarta yang mungkin terbiasa naik MRT  atau kendaraan umum, yang banyak orang di dalemnya, itu berpengaruh tuh aura-aura orang di sekitarnya.”

Lebih bahaya dari droplet dong, ya?
"Ha ha ha.."

Nabila menceritakan sedikit proses yang dijalaninya saat melakukan terapi. Kami membayangkan momen ini seperti adegan dalam serial 'Lorong Waktu' yang pernah muncul di stasiun televisi swasta.

Ya, hal pertama yang dilakukan Nabila adalah menemukan kata kunci permasalahan yang dialami kliennya. Biasanya, ia akan menanyakan terlebih dulu perasaan dan masalah sang klien. Lalu, ia akan bertanya lagi, kapan pertama kali sang klien merasakan rasa seperti ini.

Setelah klien menjawab, ia akan membawa klien tersebut mundur ke momen pertama kali rasa itu muncul dalam dirinya. Menarik, seperti adegan Zidan dalam 'Lorong Waktu', saat Pak Ustaz mengetik tombol enter di komputernya.

Nabila juga mengamini, klien yang diterapi akan mendapatkan sensasi audio dan visual saat ia diberi sugesti untuk mundur ke masa lalunya. Perjalanan mundur ke masa lalu itu bisa terus mundur hingga Nabila menemukan titik akar permasalahan sang klien. Makanya, terdapat perbedaan waktu terapi antara satu klien dengan klien yang lain.

Tapi kalau terapis kayak Nabila, itu bisa terapi diri sendiri enggak sih? Kayak kapster atau bidan lah, mereka kan enggak bisa mencukur rambut sendiri atau melahirkan sendiri gitu?
"Ya, aku juga ada mentor, coach gitu, pelatih. Sama aja kayak tadi tukang cukur ya, dia kalau potong rambut ya dipotongin tukang cukur juga. Atau dokter kalau sakit ya dia ke dokter juga. Namanya juga manusia… He he he. Kalau hariannya sih saya self-healing, dengan sendiri. Nah, kalau udah mentok banget, baru saya ketemu mentor saya.”

Jadi bercanda terus ya, Nabila…
"Ha ha ha, namanya juga 'berlayar di lautan'. Pasti kok ketemu sama ombak. Tapi, sekarang udah tau gimana cara handle-nya.” 

Sepenting apa sih terapi kesehatan mental? Kan ada kutipan 'waktu akan menyembuhkan segalanya'? Itu gimana pandangan Nabila?
"Ya iya sih, ada yang berpandangan begitu. Tapi, namanya emosi kan energi ya, kalau kita gak sadari keberadaan emosi tersebut di tubuh kita dan kita biarin aja lama kelamaan bisa makin numpuk bukan makin sembuh. Baiknya kalau ada masalah dihadapi dan diproses emosinya biar berangsur keluar dari tubuh. Karena kalau gak kita hadapi, apalagi gak disadari terus hidup dalam luka bisa ada potensi kita menularkan luka itu ke orang lain di masa yang akan datang.”

Tapi sebetulnya pola perawatan kesehatan mental itu mahal enggak sih? Soalnya enggak semua orang punya uang juga kan buat ngurusin ini? Ada kebutuhan yang lain kayak token listrik atau biaya sewa rumah kos misalnya?
"Sebenernya jaman sekarang udah banyak cara untuk tau metode self-healing. Kalau misalkan belum bisa ketemu dengan professional help kayak psikolog misalnya, bisa coba belajar dulu lewat internet atau bisa juga ikut sesi online gratis untuk konsultasi. Kalau buat saya sih mahal atau enggak itu relatif, tergantung dari perspektif seseorang seberapa besar orang itu ngasih value akan proses terapi yang dia lakuin. Contoh kasus: misalkan ada orang dendam. Dia nyimpen dendam sepuluh tahun misalnya. Lalu, karena dendamnya ini, orang tersebut malah jadi sakit. Sakit kanker misalnya. Itu kan biayanya bisa lebih mahal lagi. Nah, di sisi lain, sebetulnya dia bisa melepaskan dendamnya ini, dibanding jadi psikosomatis dan merembet ke sakit-sakit yang lain. Di tiap sesi terapi, perubahan rasa udah bisa terjadi sebenernya. ” 

Balik lagi ke bahasa promo dong, ya?
"Ha ha ha. Kalau saya ngeliat pengobatan psikis ini sifatnya life-time. Kamu beli handphone tahannya berapa lama sih? Paling beberapa tahun. Nah, dengan ngobatin psikis efeknya bisa seumur hidup bahkan bisa ngubah hidup kamu sendiri. Udah gitu kalau kita sembuh, happy kita juga bisa bantu juga orang-orang sekitar untuk berubah juga lebih baik. Enggak ternilai sebenarnya..”

Tapi setiap orang bisa punya potensi dong ya untuk sehat mental dengan self-healing misalnya?
"Bisa kok. Tapi ya memang butuh effort. Perlu latihan terus sadar sama kondisi diri. Kalau ada rasa gak enak, ya diterima dulu, dimaafin dan dilepasin."

Enam tahun menekuni bidang ini, apa sih yang berubah dari diri Nabila?
"Banyak banget, dari perubahan perilaku, cara berfikir dan gaya hidup ya. Perjalanan ini kayak menuntun saya untuk tumbuh jadi orang yang lebih santai, lebih tenang, dan pastinya lebih bahagia. Karena kalau buat saya, bahagia itu adalah hasil akhir dari usaha kita, dari proses kesadaran dan penerimaan.”

Apa sih yang jadi harapan Nabila ke depannya? Khususnya sama bidang yang sekarang dijalani, ya.
"Lebih banyak lagi orang yang lebih sadar akan kesehatan jiwanya. Dengan banyaknya orang yang sadar, dia akan menularkan kesadarannya ke orang-orang di sekitarnya dan pada akhirnya akan memberikan perubahan untuk bumi. Dan saya juga berharap makin banyak praktisi mental health, biar makin banyak orang yang terbantukan.”

TemanBaik, selama dua jam ngobrol dengan Nabila, kita bisa menyadari banyak hal tentang pentingnya menjaga mental untuk lebih sehat. Sebab, dengan mental yang sehat, secara enggak langsung kita bisa membantu memulihkan semesta. Wah, kalau semesta kejauhan buat kita, ya setidaknya kita bisa membantu orang-orang terdekat kita untuk hidup lebih sehat, lebih nyaman, dan lebih bahagia.

Mulai sekarang, jaga kesehatan mentalmu, ya. Kalau sudah mulai terasa ada gangguan, jangan ragu untuk cari bantuan profesional. Seperti kata Kunto Aji dalam lirik lagunya: yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri.

Selamat berakhir pekan, TemanBaik!

Foto: Istimewa/Dok. Nabila Ghassani


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler