Imam Subekhi, Sekuriti Ramah Sahabat Siswa

Bandungan - TemanBaik, tentu tahu kan jika sekuriti alias petugas keamanan di sekolah tugasnya ngapain? Secara umum, sekuriti di sekolah bertugas menjaga keamanan sekolah dan keselamatan orang-orang di dalamnya.

Tugas ini juga yang dijalankan Imam Subekhi, sekuriti sekolah Santo Yusup Bandung. Pria 40 tahun sudah menjalankan profesinya itu selama 16 tahun lalu, tepatnya sejak 2005.

Dalam kesehariannya, ia berusaha menjaga keamanan dan keselamatan, baik lingkungan maupun orang-orang di sekolah. Jumlah yang diawasi pun cukup banyak karena di sekolah itu terdapat berbagai tingkatan, mulai dari PAUD hingga SMP.

Imam sendiri punya keunikan dan sikap yang langka. Salah satunya, ia tahu persis kendaraan milik orang tua siswa, lengkap dengan plat nomornya. Hal ini diakui orang-orang yang bekerja di sana, salah satunya Inggrid Louis.

"Pak Imam ini hapal semua plat nomor kendaraan orang tua siswa," ucap Inggrid yang merupakan guru TK di Santo Yusup.

Imam pun tersenyum ketika mendengar ucapan Inggrid. Ia sendiri mengamini apa yang dikatakan Inggrid. Sebab, hampir setiap hari ia bertemu dengan siswa dan orang tuanya.

Ia tahu betul mobil yang setiap hari mengantar para siswa ke sekolah. Sehingga, lama-kelamaan ia bisa menghapal kendaraan milik orang tua siswa hingga plat nomornya.

Daya ingat pria kelahiran Tegal, 6 April 1982 ini justru sangat bermanfaat. Siswa bisa terhindar dijemput orang tak dikenal. Sebab, ketika siswa dijemput orang asing dan kendaraan yang dipakai berbeda dari biasanya, Imam bisa mencegah siswa naik ke kendaraan tersebut.

Kalaupun siswa dijemput orang tak dikenal dengan kendaran berbeda dari biasanya, Imam akan lebih dulu memastikan jika itu adalah suruhan orang tua siswa. Setelah yakin dan mendapat kepastian, barulah Imam mempersilakan siswa untuk naik ke kendaraan yang dipakai menjemput.

"Tugas saya harus memastikan anak-anak masuk ke sini dengan aman. Ketika dijemput juga jangan sampai dijemput orang lain yang enggak dikenal. Makanya harus apal (orang tua siswa dan kendaraannya)," kata Imam.

Baca Ini Juga Yuk: Merangkai Asa Disabilitas Lewat Sentuhan Angkie Yudistia

Terbiasa Menggendong Siswa
Ini mungkin jadi sikap yang jarang dimiliki sekuriti di tempat lain. Imam terbiasa menggendong siswa. Loh, kok bisa?

Siswa yang digendong ini tentu bukan siswa SD atau SMP. Ia biasanya menggendong siswa dari sekolah tingkat PAUD atau playgroup. Bahkan, permintaan ini biasanya justru disampaikan orang tua siswa.

"Kadang si anaknya itu ketika sampai sini lagi tidur, orang tua suka ada yang minta anaknya digendong biar masuk ke dalam sekolah," ungkap Imam.

Ayah dua anak itu pun tak keberatan. Bahkan, menggendong siswa itu justru sangat dinikmatinya. Hal itu dipandang sebagai bentuk pelayanannya kepada siswa dan orang tuanya. Meski sebenarnya menggendong siswa bukan tugasnya, ia sama sekali tak mempermasalahkannya.

Terlebih, orang tua siswa, termasuk siswanya, juga cukup dekat dengannya. Sehingga, satu sama lain tak merasa canggung melakukan hal tak biasa itu. Dari sikap itu, Imam justru makin dekat dengan siswa dan orang tuanya.

"Saya sih bersyukur karena orang tua siswa percaya sama saya," tutur Imam.

Namun, lebih dari setahun terakhir, menggendong siswa itu tak bisa dilakukan. Sebab, siswa tak hadir di sekolah alias belajar daring. Kalaupun datang ke sekolah untuk skema drive thru, mereka hanya untuk membawa atau menyerahkan tugas saja.

Selain waktunya super singkat, Imam harus terganjal prokes. Ia tak boleh bersentuhan fisik dengan siswa maupun orang tuanya. Maklum, hal ini karena pandemi COVID-19 belum berakhir. Sehingga, sekadar bersalaman pun tak bisa dilakulan.

Sentuhan fisik, termasuk menggendong siswa ini kemungkinan masih bakal berlaku selama pandemi belum dinyatakan usai. Namun, hal ini harus diterima demi kebaikan bersama.

Terbiasa Bermain dengan Siswa
Jika kebanyakan sekuriti kerap diidentikkan dengan imej kaku dan tegas, berbeda cerita dengan Imam. Ia justru sangat dekat dengan para siswa. Bahkan, saking dekatnya, ia kerap bermain hingga berolahraga dengan mereka di sekolah.

"Kalau main atau olahraga, anak-anak suka nyamperin sambil bilang 'ayo pak ikutan'," ungkap Imam.

Namun, tak serta-merta ia menolak atau mengiyakan ajakan itu. Jika tak memungkinkan, ia akan menolak sehalus mungkin. Jika memungkinkan, ia akan menuruti ajakan siswa, terutama jika areanya tak jauh dari tempatnya biasa siaga.

Meski begitu, saat ikut olahraga atau bermain, ia akan tetap mengawasi dan menjaga keamanan sekolah. Pandangannya tetap waspada ke area sekitar.

Hal sederhana semacam ini membuatnya semakin dekat dengan para siswa. Ia bahkan sudah merasa seperti orang tua, kakak, hingga sahabat bagi mereka.

Bahkan, saking dekatnya, kerap ada siswa yang menangis saat lulus atau pindah sekolah. Sebab, mereka sudah merasa begitu dekat dengan Imam. Namun, ia selalu berusaha membesarkan hati siswa tersebut.

Kebahagiaan Sederhana
Bagi Imam, tugasnya sebagai sekuriti tak hanya untuk sekadar mencari uang. Lebih dari itu, ia menjadikan profesi itu untuk menambah pertemanan, bahkan persaudaraan.

Kebersamaan Imam dengan para siswa pun tak hanya terjadi saat siswa masih aktif di sekolah tersebut. Setelah lulus, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian, keakraban masih tetap terjalin. Tak jarang ia berkomunikasi dengan alumni sekolah tersebut hingga sekarang.

"Senangnya ketika mereka sudah lulus, tapi mereka masih ingat sama saya," tuturnya.

Ia pun kerap mendapat undangan pernikahan alumni, baik dari orang tuanya maupun yang bersangkutan. Undangan itu baginya sangat berharga. Sebab, ia merasa jadi sosok yang dikenang dan memberi kesan baik.

Kebahagiaan lain yang dirasakannya adalah ketika mendengar alumni bisa menjadi orang sukses dan hidup bahagia setelah berkeluarga. Baginya, mendengar kabar manis itu sudah jadi kebahagiaan tersendiri yang tak dapat terukur materi.

Kini, Imam pun terus berusaha menjalankan profesinya sebaik mungkin. Di saat yang sama, langkahnya selalu dipenuhi misi untuk memberi pelayanan terbaik meski kadang yang dilakukan di luar tugasnya sebagai sekuriti. Doa dan harapan terbaik bagi siswa dan alumnu pun selalu ada dalam benaknya.

Foto: Oris Riswan/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler