Cerita Sunyi Junaengsih, Menyapu Jalan di Tengah Pandemi

Bandung - Dari kejauhan, Junaengsih terlihat serius sendirian menyapu daun-daun kering di pinggir Jalan Merdeka, Kota Bandung. Pandangannya fokus pada sampah dedaunan, tengan kirinya menyapu menggunakan sapu lidi, dan tangan kanannya memegang pengki yang terbuat dari kaleng bekas.

Memakai baju lengan panjang biru tua, rompi biru muda, sarung tangan dan tas oranye, masker, serta topi, ia seolah asyik sendiri. Ia berusaha membersihkan sampah dedaunan yang berserakan cukup banyak di lokasi.

Suasana begitu terasa sepi. Tak ada kendaraan yang melintas karena jalan di lokasi ditutup sejak PPKM Darurat diberlakukan. Sehingga, suasana bekerja itu dirasa sangat berbeda dibanding biasanya yang selalu ramai oleh lalu-lalang kendaraan yang melaju.

Beritabaik.id pun menghampiri Junaengsih di tengah kesibukannya dan meminta izin untuk memotret kegiatannya. Sempat berhenti menyapu saat disapa, dengan ramah Junaengsih mempersilakan sambil menganggukkan kepala.

Ia lalu kembali fokus menyapu serakan sampah daun kering yang begitu berserakan di lokasi. Setiap daun yang disapu dimasukkan ke dalam pengki. Setelah cukup banyak, ia lalu memindahkannya pada tempat sampah berukuran cukup besar.

Setelah itu, tempat sampah akan ditarik menggunakan tangan kanan untuk menuju titik sapuan berikutnya. Begitu seterusnya kegiatan yang dilakukan.



Baca Ini Juga Yuk: Kisah Nuryadi Jadi Pengantar Makanan Gratis Bagi Pasien Isoman

Usai beberapa menit berlalu, Junaengsih pun tak keberatan diajak berbincang. Ia berhenti menyapu dan dengan ramah menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan padanya.

Saat perbincangan terjadi, kedua tangannya tak lepas dari 'senjata'. Sapu lidi besar dipegang di tangan kanan, pengki di tangan kiri. Ia lebih memilih berdiri ketimbang duduk di kursi yang ada di sekitar trotoar tempatnya menyapu.

Obrolan demi obrolan pun terjadi. Ia seolah mendapat teman di kala suasana sepi yang menyelimutinya saat bekerja. Tanpa hiruk-pikuk kendaraan, yang terdengar di sana hanya suara aliran air dari sungai kecil di dekat trotoar dan sesekali suara dedaunan yang tertiup angin.

Di lokasi sebenarnya ada beberapa teman seprofesi yang sama-sama bertugas. Namun, ia dan rekan-rekannya terpaut cukup jauh. Sebab, satu sama lain fokus dengan area yang harus dibersihkannya.

Kesepian dan Takut
Junaengsih sendiri mengaku kebagian tugas menyapu jalan di sekitar Balai Kota Bandung, salah satunya di Jalan Merdeka. Setiap hari, ia biasanya berkutat membersihkan lokasi dari sampah.

"Kalau di sini mah kebanyakan sampahnya daun kering," ujar Junaengsih.

Perempuan 47 tahun itu lalu bercerita. Sebelum PPKM Darurat diberlakukan, suasana tempatnya menyapu jalan memang begitu ramai. Bahkan, banyak kendaraan yang melaju kencang.

Seringkali sampah daun kering yang di lokasi berserakan ke mana-mana. Tak jarang dedaunan itu pun sampah ke tengah jalan karena hembusan angin akibat kendaraan yang melintas.

Jika itu terjadi, pekerjaan Junaengsih bertambah sulit. Sebab, dedaunan yang berserakan hingga ke tengah jalan sulit dibersihkan. Sehingga, biasanya ia fokus membersihkan sampah dedaunan di pinggir jalan dan trotoar saja.

"Enggak dibersihin kalau yang tengah mah, ini aja yang di bagian pinggir. Kecuali kalau jalannya sepi (baru dibersihkan sampah yang ada di tengah jalan)," tutur Junaengsih.

Soal suasana sepi di lokasi karena jalan ditutup selama PPKM Darurat, hal itu dirasa membuatnya kesepian. Bahkan, ia mengaku memiliki ketakutan tersendiri. Ia khawatir ada orang yang berbuat jahat kepadanya.

Selain itu, ia juga takut bertemu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang perilakunya tak terkendali. Dalam bayangannya, jika bertemu ODGJ yang berperilaku agresif, ia akan jadi pusat perhatiannya dan khawatir mendapat perlakuan tak menyenangkan serta tak kuasa menghindar.

"(Suasana sepi ini bikin) jadi takut karena enggak ada orang (dan kendaraan) lewat. Jadi culang-cileung (celingukan), takutnya sama ODGJ," tutur Junaengsih yang menyambungnya dengan senyuman.

Sebaliknya, tak ada PPKM Darurat dan kendaraan lalu-lalang di lokasi, ia tak merasa sepi. Bahkan, hal itu sebenarnya dirasa jauh lebih nyaman baginya. Sebab, ia merasa sendirian karena ditemani laju kendaraan dan orang-orang yang berjalan kaki di trotoar.

Takut Pandemi, Siapkan Antisipasi
Bekerja di tengah pandemi bukan sesuatu yang pernah dibayangkan Junaengsih sebelumnya. Ia pun tak pernah membayangkan jika harus bekerja di jalanan yang ditutup alias tak boleh dilintasi kendaraan.

Namun, ia bersyukur karena masih memiliki pekerjaan. Meski dilanda rasa takut terpapar COVID-19, hal itu tak menyurutkan langkah untuk semangat menjalani pekerjaan. Ia merasa masih beruntung jika dibandingkan orang lain yang sampai harus kehilangan pekerjaan di tengah pandemi.

Sadar karena kondisi di luar tak baik-baik saja dan ancaman COVID-19 bisa kapan saja menerpa, Junaengsih berusaha melindungi diri. Selain menjalankan protokol kesehatan, ia berusaha menjaga agar tubuhnya tetap fit.

"Sering minum vitamin, makanan (bergizi), sayuran, buah-buahan, yang gitu-gitu supaya (daya tahan) tubuh lebih kuat," ucapnya.

Selain itu, kekuatan doa pun jadi cara tersendiri untuk melindungi diri agar tetap sehat dan bisa bekerja. Sehingga, ia merasa beruntung tetap sehat hingga kini.

Junaengsih sendiri terhitung sudah sekitar enam tahun bekerja sebagai petugas kebersihan. Lima tahun pertama dilaluinya dengan status sebagai pegawai outsourcing. Sedangkan sejak setahun terakhir ia berstatus sebagai pekerja harian di Dinas Lingkungan Hiudp dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung.

Selama PPKM Darurat ini, jam kerjanya pun mengalami perubahan. Jika biasanya ia bertugas dar pukul 12.00-20.00 WIB, saat ini sedikit dipangkas. "Sekarang mah dari jam 12 siang sampai jam 6 (sore), jadi dikurangi jam kerjanya," tutur Junaengsih.

Untaian Pesan
Hampir semua orang merasakan dampak hebat dari pandemi ini. Orang berada hingga orang tak punya sama-sama merasakan takut, tak nyaman, hingga kehilangan pemasukan. Bahkan, ada begitu banyak orang yang meninggal dunia usai terpapar COVID-19.

Belakangan ini, kasus COVID-19 bahkan semakin meningkat pesat. Sehingga, kebijakan PPKM Darurat diambil pemerintah dengan harapan menekan laju kasus COVID-19. Tentu PPKM ini bukan hal menyenangkan, tapi harus dilakukan.

Sekitar 1,5 tahun berlalu, sebaliknya, pandemi tak kunjung berlalu. Namun, Junaengsih tetap memiliki harapan dan optimisme. Ia yakin suatu saat pandemi ini akan berakhir dan kehidupan kembali normal.

Ia pun mengajak publik untuk sama-sama disiplin menerapkan protokol kesehatan dan mengikuti arahan pemerintah agar pandemi segera berakhir. Di saat yang sama, ia mengajak semua orang untuk tetap sabar.

Ya, mungkin bagi banyak orang kondisi saat ini dirasa cukup bikin muak. Sebab, sudah terlalu lama pandemi terjadi dan memengaruhi berbagai sektor kehidupan. Namun, tak ada pilihan lain selain mengikuti aturan yang ada.

Hal yang tak kalah penting adalah sabar dan menerima kondisi ini sebagai ujian. Ia berkeyakinan akan ada hasil manis yang didapat jika orang mau bersabar. "Pesan dari ibu mah harus sabar lah menghadapi pandemi sekarang ini. Kita lagi dicoba sama Allah," tuturnya.

"Ya, mudah-mudahan jangan sampai terlalu lama lah. Mudah-mudahan cepat berlalu Covid-nya," pungkas Junaengsih.

Setelah perbincangan ditutup, Junaengsih kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali sibuk menyapu jalan dari sampah yang berserakan. Sebab, masih banyak area yang harus dibersihkannya. Junaengsih pun kembali bertugas dalam suasana sepi di tengah PPKM Darurat.

Foto: Oris Riswan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler