Perjalanan, Luasnya Hati, dan Berbagi ala Uncle Teebob

Bandung - Gerak-geriknya sulit ditebak. Terlambat lima menit dari bertemu, bisa jadi kita tertinggal ke titik lain. Posisinya yang tak terduga mengingatkan pencinta sepak bola pada gaya bermain Filippo Inzaghi yang begitu ‘licin’ dan bisa mencetak gol, bahkan dari posisi yang tak mungkin dilakukan striker lain.

Penampilannya begitu sederhana. Tak ada arloji digital yang terkoneksi dengan ponsel, tak ada jas ataupun kemeja berdasi, tak ada wewangian berlebih dikenakannya.

Kami sempat merencanakan bertemu pada Kamis silam, pukul 15.00 WIB. Namun, kami baru tiba di lokasi pukul 15.05 WIB karena beberapa kendala di jalan.

“Aku lagi keliling, razia orang lapar. Enggak tahu nih arahnya ke mana,” isi pesan WhatsApp-nya. Kami belum berhasil mengikuti kegiatan razia orang lapar pada hari itu karena memang pergerakannya sulit ditebak.

Ya, di balik aksi luar biasa ini, ada figur Tubagus Zainal Arifin. Pria yang akrab disapa Uncle Teebob ini menghabiskan lebih dari dua dekade perjalanan hidupnya untuk berbagi dengan sesama. Nama Uncle sendiri memang tak asing. Sejak 2017, ia sudah menggunakan media sosialnya sebagai wadah mengajak kebaikan.

Awalnya, Uncle mengunggah foto atau video orang-orang yang membutuhkan bantuan orang lain, baik berupa uang, tenaga, maupun pikiran. Ia mengajak orang lain ikut turun tangan menyelesaikan masalah sesama yang membutuhkan bantuan.

Berbagai aksi baik itu berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Kegemaran Uncle bergitar dan melakukan perjalanan (travelling) juga membawanya keliling Indonesia. Saat bencana gempa mengguncang Lombok pada 2017, ia aktif menjalankan aksi sosial.

Memasuki 2018 dan 2019, akun Instagram-nya begitu aktif menginformasikan orang yang memerlukan bantuan. Banyak dari yang diunggah Uncle, begitu ia biasa disapa, membuat hati orang lain bergetar. Sebab, mereka yang 'diumumkan' Uncle ada mengidap penyakit 'aneh' hingga langka. Bahkan, tak jarang foto atau video yang diunggah sedikit vulgar agar siapapun bisa tahu kondisi orang yang membutuhkan bantuan.

Pandemi virus korona yang menghantui dunia setahun ini seolah memberi energi luar biasa pada Uncle untuk berbagi. Tak tanggung-tanggung, dua unit mobil dijualnya untuk membangun sebuah dapur umum di wilayah Cipedes, Kota Bandung. Ia membenarkan hal tersebut, meski sebetulnya enggan diketahui banyak orang.

Dalam menjalankan aksinya, Uncle lebih suka tak diketahui orang lain. Alasannya, ia khawatir terkena sindrom bintang. Bagi Uncle, penokohan dalam aksi baik bisa menjadi dua sisi mata pisau.

Jadi, Uncle khawatir ditokohkan, gitu?
Ya. Bisa jadi begitu. Soalnya enggak semua orang siap ditokohkan.

Berarti, menurut Uncle penokohan itu jelek dong, ya?
Enggak begitu juga. Kalau yang ditokohkan itu ‘siap’ sih, pada dasarnya enggak apa-apa. Maksud siap di sini sih lebih kepada upaya orang ini menginspirasi, supaya banyak yang meniru aksi baiknya. Itu enggak apa-apa. Nah, yang bahaya kan kalau ada niat berlebih.

Saat ditanya apa yang menjadikan dirinya senekat ini, ia tak menjawab secara spesifik. Hanya saja, kami menduga perjalanan yang dilaluinya melatih Uncle jadi pribadi yang luar biasa.

Baca Ini Juga Yuk: Ketemu Sama Mang Dian, ‘si Tiis Leungeun’ dari Setraria

Terlatih karena Perjalanan
Ragam aksi baik yang dijalankan Uncle, tentunya membuat kita penasaran: siapa sih orang yang sudah menginspirasi dirinya? Menjawab pertanyaan kami, pria yang identik dengan topi dan kacamatanya ini mengaku kedua orang tuanya yang menginspirasinya tumbuh menjadi pribadi seperti saat ini.

Saat menginjak usia sekolah dasar (SD), ia mengenyam pendidikan di sebuah SD di Bogor. Sekolahnya saat itu termasuk kategori sekolah biasa-biasa saja. Di sisi lain, ia harus 'rela' melihat adiknya bersekolah di tempat yang bisa dikatakan beken di Bogor.

"Tahu sekolah Regina Pacis? Nah, adik gua di sana tuh. Waduh, dulu sih bingung, kenapa kok mama papa begini banget ya? Tapi, sekarang kerasa sih. Saya sebagai anak pertama dilatih untuk lebih kuat," terangnya.

Masa remaja Uncle juga dihabiskan di Bogor. Ia bersekolah di SMP Negeri 2 Bogor dan SMA Negeri 3 Bogor. Masa SMA adalah waktu terakhirnya menghabiskan waktu di Bogor. Usai tamat SMA, ia melanjutkan perjalanan dengan berkelana. Dari sekian banyak kota yang dijajakinya, Bandung adalah tempat Uncle bermukim saat ini.

Sebagai pengingat, Ia juga sempat merasakan profesi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Bogor pada awal dekade 90-an. Namun, perjalanannya menjadi abdi negara relatif singkat. Karena merasa kerap mendapat uang yang menurutnya tak halal, Uncle memutuskan untuk keluar dari instansi pelat merah tersebut.

Kok bisa sih, Uncle?
Waktu itu gaji saya 500 ribu. Tapi kok bisa ngasih mama sebulan sekali sampai sejuta, bisa beli rumah, mobil. Nah, di situ saya ditanya orang tua "ini uangnya dari mana?"

Terus, jawaban Uncle gimana?
Duar! Wakwaw aja. Hahaha.

Respons orang tua saat itu?
Mama bilang "yuk kita berpikir pakai logika," terus dia tanya penghasilan saya yang hanya 500 ribu itu dan minta ngitung deh sama apa yang sudah didapatkan. Pas saya diam, mama bilang "udah, enggak usah dijelasin kalau enggak bisa ngejelasin. Cuma kamu tega, ya". Waduh, di situ saya diam. Saya mikir. Setelah saya pertimbangin, saya memilih buat mundur aja (dari ASN).

Proses mundurnya gimana?
Lama banget. Posisinya juga kan saat itu lumayan lah. Ada sembilan kali saya mengajukan pengunduran diri sebelum akhirnya diterima. Awalnya izin dulu ke mama, sempat ditahan, dan disaranin untuk tetap jadi PNS yang enggak korup. Tapi, saya bilang, saya sudah bulat kepengin mundur. Minta restu, akhirnya saya melepaskan diri dari sana.

Setelah mundur, apa yang Uncle lakuin?
Berkelana.

Perjalanan ini dilakukannya dari ujung Barat hingga Timur Indonesia. Perjalanan sejak 1993 hingga memasuki dekade awal 2000-an membentuk Uncle jadi pribadi yang lebih merunduk, peka, dan makin royal untuk berbagi.

Baca Ini Juga Yuk: Kopi Penuh Asa dari Cici sang Barista Netra

Berbagi dan Kolaborasi
Sejak 1993, Uncle memutuskan diri berkelana. Berbagai kegiatan dan pekerjaan dilakoninya. Wilayah hingga penjuru nusantara pun disambanginya sembari menjalankan aksi sosial. Namun, aksi yang kemudian bertahan sampai hari ini adalah Razia Orang Lapar.

Aksi ini pertama kali dilakukannya pada tahun 2005 dan masih bertahan hingga saat ini. Aksi ini bermula dari kebosanannya menjalani rutinitas dunia malam.

"Waktu itu mikir, kok gue nongkrong malem kegiatannya gini-gini aja ya? Akhirnya kepikiranlah buat ngasih makan ke orang-orang di pinggir jalan. Lokasi awalnya saat itu di Jalan Asia-Afrika, dekat Gedung Merdeka tuh," ingatnya.

Razia Orang Lapar bisa dilakukan Uncle secara acak. Buktinya, karena keterlambatan kami di hari Kamis, tiba-tiba saja ia sudah mengunggah foto di daerah Jalan Wastukancana dan sedang menjalankan aksi Razia Orang Lapar. Saat kami susul ke sana, ia sudah bergeser entah ke mana.

Ngacak banget ya, Uncle?
Iya. Emang kita kalau jalan, ya, jalan aja.

Ada hal apa sih yang membakar semangat Uncle dalam menjalankan aksi ini?
Lebih ke bagaimana kemampuan orang-orang (di jalanan) itu untuk bertahan hidup. Saya pernah ketemu ada sekeluarga gitu, dia dulunya kepala keluarganya tuh sekelas manajer gitu, dan karena pandemi, mereka jadi pemulung dong. Tapi mereka mau survive gitu. Bertahan.

Aksi baik yang belakangan jadi perbincangan hangat adalah saat dirinya menjual dua mobilnya untuk membangun dapur umum bagi penyintas covid yang sedang menjalani isolasi mandiri di wilayah Cipedes, Bandung. Ia tertawa saat ditanya hal ini.

"Aduh, gue sebenernya udah nutup-nutupin hal ini loh. Sialan," katanya.

Seriusan dua mobil?
Kalau yang pertama itu kan memang sudah kejual mobilnya. Nah, mobil kedua ini aku ngasih hadiah ke istri pas aku ulang tahun tanggal 27 lalu. Kan orang ulang tahun itu harusnya dia yang ngasih hadiah ya. Aku kasih mobil ke istri, dan mobil itu dijual istri deh.

Kaget dong, Uncle?
Kagetnya ada, keselnya ada, tapi senengnya luar biasa.

Kenapa kok istri sampai mau ngejual mobil sih?
Enggak tau atuh. Hahaha, yang jelas pas saya tanya, dia bilang "lah, kan kamu yang ngajarin," ya udah deh. Mau gimana lagi.

Faktor lain yang membuat energinya berbagi semakin menjadi ialah karena dirinya pernah terpapar sindrom GBS dan terpapar covid, belum lama ini. Sindrom GBS pernah dialaminya pada 2017 silam dan ia sempat terpapar covid saat terjadi lonjakan tinggi penyebaran virus pada Juni silam.

Kondisi Uncle saat itu cukup kerepotan. Saturasi oksigennya turun drastis hingga mencapai angka 64. Ia kesulitan bernafas saat itu. Di tengah kesulitan itu, ia mendapat banyak sekali bantuan dari warga selama menjalani isolasi mandiri.

"Ini tuh kayak pengingat buat saya," katanya.

Dapur umum yang didirikannya di Jalan Wibawa, Cipedes, ini mulai beroperasi sejak pukul 02.00 WIB. Segala aktivitas dapur mulai dari memasak, membungkus, hingga membagikan makanan dilakukan oleh para relawan. Uncle menjelaskan, ada 18 relawan tetap dan relawan-relawan harian lainnya dalam mengoperasikan dapur umum ini.

Baca Ini Juga Yuk: Sarah Saputri, Dedikasi Diri untuk Musik dan Alam Lewat Harmonika

Terima Kasih untuk Penerima
Salah satu 'kebiasaan unik' Uncle saat berbagi adalah mengucapkan terima kasih kepada penerima manfaat. Saat ditanya, Ia menyebut sepatutnya antara penerima dan pemberi, keduanya tak ada perbedaan. Alasannya karena si pemberi tak akan disebut pemberi jika tak ada yang menerima pemberiannya.

Sesekali, ia mengajak anak dan istrinya berkeliling dan berbagi kebaikan. Usai memberikan sesuatu, biasanya Uncle akan bilang terima kasih untuk si penerima.

"Terus anak gue nanya: pah, kok kita yang bilang makasih ya? Nah, di situ gue jelasin, kita sebagai pemberi enggak akan disebut pemberi kalau enggak ada yang nerima pemberian kita," ungkapnya sembari tertawa.

Tanpa sengaja, kebiasaan baiknya membentuk kepribadian dua putranya. Ia mengaku kaget saat buah hatinya kerap meminta Alquran, ketimbang meminta uang jajan harian atau mingguan.

Menanamkan kebiasaan baik sama anak itu gimana sih Uncle?
Dunia anak itu dunia yang menyenangkan. Saya enggak pernah minta anak saya jadi juara. Enggak. Itu kan kalau anak jadi juara, yang bangga mah orang tuanya. Anaknya belum tentu bangga.

Terus, gimana caranya memotivasi anak?
Sebenernya sama aja sih. Saya pakai konsep reward aja. Anak saya minta handphone tuh waktu itu. Saya tau, buat anak sekarang handphone tuh kebutuhan. Tapi saya minta dia belajar baca dulu. Konsep begini works tuh. Saya kasih tenggat waktu tiga bulan buat dia belajar baca. Enggak sampai tiga bulan, anak udah lancar bacanya. Hahaha.

Baca Ini Juga Yuk: Ratnauli Gultom, Petani Tangguh dari Silimalombu


Membiasakan Diri Berbagi
Di akhir sesi perbincangan, kami sempat bertanya bagaimana caranya tetap bisa berbagi dalam kondisi serba keterbatasan. Ya, kadang kala, kita punya niat berbagi, namun, kondisi kita pun tak bisa dibilang cukup untuk hal itu.

Menurut Uncle, berbagi bukan sekadar bicara angka. Ia juga meminta kita melihat lagi bagaimana pola konsumsi kita sehari-hari. Selama kita masih bisa makan, minum, dan memenuhi kebutuhan diri kita, artinya kita bisa berbagi pada orang lain.

"Dalam seminggu kekumpul enggak sih 20 ribu? Kalau kekumpul, beliin nasi uduk dua bungkus, kasih ke orang di jalan. Itu udah berbagi, walau cuma seminggu sekali ya," jelasnya.

Kebiasaan kecil ini menurut Uncle bisa ditanamkan dalam diri siapapun. Salah satu kunci melakukan kebaikan menurutnya adalah lakukan kebaikan untuk orang lain sebagaimana kita melakukan kebaikan pada diri sendiri.

"Kita kalau melakukan kebaikan buat diri sendiri, bakal maksimal enggak? Nah," tegasnya.

Ia juga mengaku senang, saat ini banyak orang yang menjalankan aksi baik untuk sesama di berbagai wilayah Indonesia. Aksi-aksi kecil namun konsisten begini, diharapkannya mampu meningkatkan keberdayaan di tengah situasi sulit.

Pernah ada kejadian unik enggak sih pas berbagi?
Banyak. Hahaha. Waktu itu ada kakek-kakek dan kita rescue, biasa, kasih makan begitu. Dia bilang "alhamdulillah, bisa makan juga" dan waktu itu kita lagi dapet bantuan juga dari Pak Menteri Erick Tohir. Si kakek ini nanya "ini bantuannya dari siapa?". Aku jawab dari Erick Tohir, dia jawabnya "nuhun, Erick, Tohir," dia kira itu dua orang. Wah, kita ketawa-ketawa. Pas kita bilang ini satu orang, Erick Tohir itu menteri. Si kakek bilang "oh, terima kasih Pak Menteri," ya lucu memang.

Tapi, seandainya Uncle jadi menteri, gimana?
Enggak mau. Gue mau gini aja. Kalau gue jadi menteri, nanti orang akan punya praduga yang enggak-enggak. Pantesan aja kayak gini, ternyata kepengin jadi menteri. Aku enggak begitu kan.

TemanBaik, obrolan dengan Uncle banyak bikin kita sadar. Rupanya, berbagi itu enggak sulit loh. Sesimpel menyisihkan Rp20 ribu per minggu, dikonversi menjadi dua bungkus nasi untuk dibagikan pada mereka yang membutuhkan di jalanan, kamu sudah membiasakan diri berbagi loh.

Semoga obrolan kami ini bisa memacu semangat berbagi kita, ya. Karena berbagi enggak akan bikin kita jadi sengsara. Justru dengan berbagi, kita akan semakin kaya. Silakan, percaya atau tidak.

Selamat berakhir pekan, TemanBaik!


Foto: Dokumentasi Sahabat Uncle Teebob


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler