'Cerita Dapur' Suka Duka Jadi Relawan JQR Bareng Reggi Munggaran

Bandung - Sejak hadir pada 2018, Jabar Quick Response (JQR) punya ragam perjalanan menarik. Dari cerita lucu, menarik, menyedihkan, hingga menginspirasi. Semuanya memberi warna tersendiri.

Setiap relawan atau orang yang terlibat di JQR tentu punya cerita dan kesan masing-masing. Beritabaik.id pun berkesempatan bertemu Ketua Harian JQR Reggi Munggaran. Di sela kesibukannya, ia menyempatkan waktu berbagi cerita dan pengalamannya selama aktif di JQR.

Ada banyak hal menarik terungkap yang selama ini sekadar jadi 'cerita dapur' alias diketahui kalangan internal saja. Penasaran dengan obrolan kami? Simak ulasannya, yuk!

Bagi kamu yang belum tahu, kita bahas dulu apa itu? JQR adalah organisasi yang dibentuk atas dasar arahan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Hadirnya JQR adalah untuk menuntaskan berbagai masalah kemanusiaan, terutama yang sifatnya darurat untuk ditangani. Berbeda dengan penangananan masalah yang dilakukan pemerintah, JQR bisa menuntaskannya lebih cepat.

Sebab, JQR punya keleluasaan dalam menyelesaikan masalah. Mereka tak perlu menunggu birokrasi ala pemerintah yang terkadang rumit dan makan waktu. Meski begitu, semua yang dilakukan tetap dalam kordidor, ada batas dan aturan, dan mengedepankan transparansi.

JQR ini melayani berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. JQR bisa dibilang jadi tempat pengaduan dan bertanya. Namun, JQR juga dianggap sebagai penyelamat atau penuntas masalah yang dihadapi warga.

"Inti dari aktivitas Jabar Quick Response sebenarnya pelayanan terhadap masyarakat, juga merespons aduan. Pelayanan di sini kan mulai dari sekedar nanya saja, ada yang butuh informasi. Baru yang keduanya mungkin memang ada orang yang membutuhkan bantuan karena kedaruratan-kedaruratan," kata Reggi.

Sebagai gambaran, JQR ini kerap menangani berbagai persoalan. Mulai dari warga yang membutuhkan bantuan medis, pertolongan darurat di tengah bencana, penanganan rumah roboh, hingga terjun dalam berbagai perjuangan mengatasi pandemi COVID-19.

Memastikan Semua Berjalan
Reggi sendiri menjabat sebagai Ketua Harian JQR. Baginya, jabatan itu itu adalah amanah yang harus dijalankan sebaik mungkin. Tugas yang diemban pun tak mudah.

"Saya tuh (tugasnya) memastikan semua level berjalan, baik operasional, administrasi, media, sampai kemitraan," ucapnya.

Ia lalu memaparkan empat sub divisi JQR yang harus dipastikannya berjalan lancar. Dari sisi operasional, ia harus memastikan semua masalah atau aduan warga direspons. Dari sisi administrasi, ia perlu memastikan semua daya dukungnya disiapkan untuk menangani permasalahan.

Selanjutnya dari sisi media, ia juga harus memastikan semua terlayani dan direspons melalui berbagai saluran. "Kalau kemitraan, lebih ke mencari sumber-sumber yang bisa berkolaborasi untuk membantu warga Jawa Barat. Saya memastikan semuanya berjalan, dari mulai operasinal dan segala macem," jelasnya.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita di Balik Topeng sang Badut Hendayana

Pengalaman Lucu hingga Menggugah
Bagi Reggi, hadirnya JQR jadi sesuatu yang menarik. Sebab, JQR ibarat jadi jembatan penghubung antara negara dan warga. Saat warga membutuhkan bantuan negara, JQR berusaha memasilitasinya.

"Sepertinya baru di Jawa Barat ada organisasi melalui keputusan Pak Gubernur untuk menghadirkan negara pada setiap relung kebutuhan warganya," ujar Reggi.

Hadirnya JQR pun disambut antusias warga. Sejak awal kehadirannya hingga kini, berbagai laporan atau aduan masalah tak pernah berhenti. Ini tak lepas dari berbagai persoalan warga yang bisa diatasi.

Namun, hal lucu kerap tersaji. Terkadang, laporan yang masuk bukan sesuatu yang darurat. Bahkan, ada masalah yang sebenarnya tak perlu dilaporkan untuk ditangani para relawan JQR. Penyortiran pun mesti dilakukan agar pelaporan dan penanganan bisa tepat sasaran.

"Nah, karena (organisasi seperti ini) itu baru ada, jadi orang teh antusias, sagala dilaporkeun (segala dilaporkan). Nu paling bodor mah aya nu ngalaporkeun (Yang paling lucu ada yang melaporkan) gara-gara 'ini tolong dong bapak saya punya istri simpanan, tolong cegat (hentikan) di Pasteur'," tuturnya.

"Ada yang lapor minta dibayarin utang karena motornya ditarik segala macem, ada. Tapi kita menyortir apa-apa saja yang boleh dilaporkan ke Jabar Quick Response. Tapi, kalau secara pelayanan informasi, itu yang paling bodor (lucu)," kata Reggi.

Selain lucu, hal sedih tentu selalu datang setiap hari. Itu karena mereka yang melapor mayoritas memang punya masalah pelik. Bahkan, tak jarang masalah yang ada berhubungan dengan yawa.

"Ya, saya kira kalau bicara tentang anu sedih mah nya (yang sedih ya), banyak pisan (banget) yang minta bantuan ke Jabar Quick Response dalam state of emergency yang tinggi, seringkali kondisinya pas lapor juga sudah mengkhawatirkan," jelasnya.

Salah satu pengalaman paling sedih sekaligus berkesan adalah saat menangani pasien kanker. Warga itu jadi salah satu kasus terlama yang ditangani JQR, yakni sekitar lima bulan.

"Itu kita dampingin. Si orang ini teh sudah enggak punya keluarga, jadi ya menganggap Jabar Quick Respons teh keluarganya, apa-apa ke kita. Selama empat-lima bulan teh gitu. Sampai akhirnya sebelum meninggal, ternyata dia mengaku punya anak. Akhirnya kita cariin ngubek (keliling mencari informasi) seluruh Jawa Barat berdasarkan informasi-informasi, nyariin anaknya. Setelah anaknya ditemukan, kami pertemukan, baru meninggal. Itu kalau bagi saya yang paling membekas sih tetep itu. Itu pas awal JQR ada," papar Reggi.

Tangani Puluhan Jenazah COVID-19
Sejak masa pandemi, kerja para relawan JQR jadi semakin berat. Sebab, makin banyak warga yang membutuhkan bantuan.

Namun, ada salah satu pengalaman paling berkesan Reggi selama bertugas di masa pandemi. Ini terjadi beberapa waktu lalu saat ada banyak jenazah pasien COVID-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Saat itu, kondisi di RSHS sudah 'sempit'. Di saat yang sama, jenazah perlu segera dimakamkan. Peliknya, ambulans sangat minim. Alhasil, ada 34 jenazah yang sempat terbengkalai karena tak bisa dibawa ke pemakaman khusus COVID-19.

Pihak RSHS lalu menghubungi JQR sekitar pukul 20.00 WIB meminta bantuan agar masalah yang ada teratasi. Gerak cepat dilakukan hingga akhirnya semua jenazah bisa tertangani.

"Waktu itu tiba-tiba ditelepon RSHS itu dikabarkan ada 34 jenazah, belum dipulasara dan harus dimakankan karena bangsal, IGD, itu sudah penuh. Akhirnya kami bikin rencana operasi dalam waktu 30 menit," ucap Reggi.

Setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak dan menempuh beragam langkah, solusi bisa dijalankan. Pukul 22.30 WIB, rencana yang sebelumnya dirancang bisa dieksekusi. Sehingga, dalam hitungan jam, semua jenazah bisa tertangani.

"Kami berhasil mengoperasikan untuk dipulasara sampai dimakamkan. Itu selesai kurang lebih jam 4 subuh," paparnya.

Baca Ini Juga Yuk: Islahul Umam dan Dedikasinya di Toko 'Amal'

Mengintip Kebaikan
Selain berbagai pengalaman di atas, Reggi membuka cerita lain yang tak kalah menarik. Ada banyak orang yang ternyata di tengah keterbatasannya justru bisa berbuat baik.

Salah satunya adalah ada organisasi berbasis anak yatim yang mendatangi 'markas' JQR di GOR Saparua, Kota Bandung. Mereka justru menyumbang begitu banyak bantuan bagi JQR untuk disalurkan pada warga yang membutuhkan.

"Biasanya kan, punten (maaf) ya, anak yatim teh biasanya kelompok rentan yang biasanya kita bantu. Tapi, pada saat COVID-19 kemarin, ada organisasi yang berbasis anak yatim nyumbang 50 ton beras. Wah, itu... (luar biasa)," kata Reggi.

Hal ini seolah membuka pandangan bahwa kebaikan bisa dilakukan siapa saja. Bahkan, pihak yang mungkin selama ini mugkin dianggap perlu bantuan, justru malah memberikan bantuan pada orang lain.

Ini jadi angin segar tersendiri di tengah pandemi. Sebab, kebaikan seolah terus lahir tanpa henti. Orang-orang baik pun ibarat hadir kapan dan di mana saja.

Contoh lain, ada pengusaha katering yang sebenarnya mengalami masa sulit di tengah pandemi. Namun, pengusaha itu malah memilih membantu para relawan JQR dengan cara uniknya.

"Ada pengusaha katering yang menurut saya mah kuduna si eta teh terdampak (harusnya dia terdampak), tapi dia tiba-tiba datang menawarkan bantuan, 'kang, saya pengin membantu relawan makannya, kasihan'. Akhirnya dia tiap hari senin ngirimin (makanan), malah ngasih kulkasnya, (termasuk isinya) daging mentah gitu, daging olahan yang nanti siap goreng untuk relawan kemanusiaan (JQR)," papar Reggi.

"(Lalu ada warga yang) tiba-tiba dia nge-DM mau 10 nasi bungkus buat relawan ngasih boleh enggak, ada yang gitu. Banyak itu yang gitu teh, banyak, tiap hari ada aja gitu," katanya.

Berkaca dari berbagai pengalaman yang dialami, Reggi yakin kebaikan tak akan pernah berhenti, bahkan akan terus lahir. Ini jadi modal besar tersendiri dalam menghadapi pandemi, termasuk menjalani kehidupan ke depan.

Secara khusus, Reggi pun mengajak siapapun terus berbuat baik dan saling bantu, terutama di masa pandemi. Berbagai cara bisa dilakukan masing-masing dan jangan kapok jika pernah kecewa saat menyalurkan kebaikan. Namun, jika ingin menyalurkannya melalui JQR, tentu akan diterima dengan tangan terbuka.

"Saya punya keyakinan, selama (mendapatan pengalaman di) Jabar Quick Respons berdiri, banyak sekali orang baik itu, baik individu, organisasi gitu. Hanya, seringkali mereka mungkin yang pertama tidak tahu harus menyalurkannya ke mana. Yang kedua, mungkin pernah menyalurkan, tapi mengecewakan yang nerimanya," ucapnya.

JQR pun siap menerima penyaluran berbagai bantuan dari warga. Tak perlu khawatir, bantuan yang ada bakal disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Sebab, ada mekanisme yang ditempuh agar penyaluran bisa tepat sasaran.

"Nah, kita memastikan melalui mekanisme yang kita miliki semua penerima manfaat kami ini terverifikasi layak menerima bantuan. Sehingga, ya akurasinya tinggi gitu kalau di kita mah," pungkas Reggi.


Foto: Oris Riswan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler