Cerita Rudini Anhar sang Juru Masak Pasien Isoman

Bandung - Setiap hari, Rudini Anhar berkutat dengan kesibukannya memasak di Dapur Umum dan Posko Bantu Isoman di kawasan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Ia adalah koordinator juru masak di sana.

Kiprah Rudini di sana cukup menarik. Ada ragam cerita hingga kepuasan yang bisa jadi inspirasi bagi banyak orang. Simak hasil obrolan kami, yuk!

Rudini merupakan pria asal Lombok. Secara domisili, ia juga masih tinggal di Lombok. Ia banyak berkegiatan dalam kegiatan kerelawanan di sejumlah daerah di Indonesia. Yang teranyar, ia aktif jadi juru masak di Dapur Umum dan Posko Bantu Isoman.

"Saya di sini dari awal, penggagasnya juga saya. Saya bilang ke Uncle Teebob (pegiat sosial), ayo kita buka dapur, karunya yang isoman (kasihan yang menjalani isolasi mandiri). Akhirnya dibuka," kata Rudini.

Sejak sekitar dua bulan lalu, posko itu jadi tempatnya melakukan #AksiBaik. Sesuai dengan keahliannya, memasak, ia berusaha memaksimalkannya. Setiap hari, ia memasak aneka makanan untuk disalurkan bagi pasien COVID-19 yang menjalani isoman di Bandung dan sekitarnya.

Bagi Rudini, kemampuannya berusaha dikeluarkan agar bermanfaat bagi orang lain. Di sisi lain, ada kesenangan besar dalam benaknya ketika memasak. Sebab, memasak memang hobinya sejak dulu. Bahkan, memasak yang dilakukannya kini memberi kesenangan jauh lebih besar.

"Yang paling senang (lewat memasak ini) bisa berbuat baik untuk orang banyak," tuturnya.

Baca Ini Juga Yuk: Perjalanan, Luasnya Hati, dan Berbagi ala Uncle Teebob

Tak Asal Memasak
Dunia memasak memang tak dijauhkan dari Rudini. Bahkan, ia tercatat pernah bekerja menjadi head chef alias kepala juru masak.

"Saya hampir lima tahun jadi kepala dapur, head chef di restoran di Lombok," ungkapnya.

Namun, karena satu dan lain hal, ia akhirnya meninggalkan pekerjaan tersebut. Kini, Rudini lebih banyak aktif menjadi guru ngaji, termasuk secara virtual.

Kembali pada keahlian memasaknya, Rudini benar-benar berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia berusaha menyajikan makanan seenak mungkin.

Baginya, memasak tak boleh sembarangan. Sebab, lidah orang lain harus dimanjakan. Di sisi lain, tak sekadar enak, ia mempertimbangkan gizinya sebaik mungkin. Itu karena makanan yang diberikan adalah untuk pasien isoman.

"Jadi enggak sembarang karena ini untuk orang sakit, bukan untuk orang sehat gitu," cetus Rudini.

Untuk memastikan gizi masakannya baik dan cocok untuk pasien COVID-19, ia melibatkan orang lain. Mau tahu seserius apa masakan yang dibuat Rudini?

"Saya pribadi konsultasi sama ahli gizi," ujarnya.

Alhasil, berbagai menu dibuat berdasarkan nilai gizi tertentu. Selain itu, bahan dan teknik memasaknya juga dibuat sesehat mungkin. Sebagai gambaran, ia meminimalisir masakan yang dibuat dengan cara digoreng.

Baca Ini Juga Yuk: 'Cerita Dapur' Suka Duka Jadi Relawan JQR Bareng Reggi Munggaran

Makanan Simpel hingga Pesan Kebaikan
Sebagai juru masak di dapur, Rudini tentu tak sendirian. Ia banyak dibantu ibu-ibu PKK setempat dalam memasak. Maklum, dalam sehari, menu yang disajikan bisa ratusan porsi.

Agar bisa dikerjakan banyak orang, ia membuat makanan yang bisa dibilang simpel. Sehingga, para ibu-ibu yang membantu memasak bisa mengikuti instruksinya dengan mudah.

"Jadi menunya Nusantara, yang penting gizinya terpenuhi," tutur Rudini.

Tak hanya urusan menu, ia juga memastikan semua bahan yang dipakai benar-benar berkualitas. Ia bahkan rela belanja sendiri ke pasar untuk mendapatkan bahan baku terbaik.

Biasanya, ia mulai berbelanja pukul 02.00 WIB. Dengan belanja sendiri, ia memastikan bisa mendapatkan bahan masakan paling oke untuk dimasak.

Rudini mengaku tak percaya pada orang lain. Sebab, ia pernah memercayakan belanja pada orang lain, tapi bahan makanan yang didapatkan kualitasnya tak sesuai harapan. Hal itu jelas akan berdampak pada rasa dan kualitas makanan yang dimasak. Ia pun tak mau itu terulang lagi.

"Jadi saya enggak mau orang makan makanan enggak enak, enggak segar," cetusnya.

Sementara itu, dari pertemuan kami, Rudini memberi pesan singkat bagi siapapun. Ia mengajak berbuat baik dengan cara apa saja. Yang terpenting, kebaikan terus lahir.

"Pesan saya, teruslah berbuat baik, karena tidak tahu perbuatan baik mana yang diterima oleh Allah dan menuntun kita nanti di hari akhir," pungkasnya.


Foto: Rayhadi Shadiq


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler