Bu Menon, Pengantar dan Penyelamat Kucing yang Nyentrik

Bandung - Kenalin nih TemanBaik kita, namanya Kusmiati. Usianya 48 tahun. Kesehariannya ia berprofesi pengemudi ojek online (ojol) dan spesialis jasa antar jemput kucing.

Ia lebih akrab disapa Bu Menon. Itu adalah nama panggilannya sejak kecil. Nama itu pun terus melekat bersamanya hingga kini.

Bu Menon mulai menjajal profesi pengemudi ojol sejak 2017. Namun, sejak 2018 ia juga menekuni profesi sebagai pengantar jemput kucing di sela waktu luangnya sebagai pengemudi ojol.

Seperti pengemudi ojol lainnya, ia kerap mengantar jemput penumpang hingga berbagai jasa lain sesuai aplikasi. Di sisi lain, Bu Menon kerap mengantar dan menjemput kucing peliharaan untuk divaksinasi, sterilisasi, dan keperluan lainnya ke klinik hewan. Wilayah kerjanya di Kota Bandung. Namun, tak jarang ia melipir ke daerah 'tetangga' Kota Bandung.

Beritabaik.id berkesempatan berbincang dengan Bu Menon di sela aktivitasnya membawa kucing ke klinik hewan di kawasan Sutami, Kota Bandung. Begitu tiba di lokasi, ia langsung menyerahkan kucing pada pengelola klinik untuk mendapatkan pelayanan sesuai permintaan pemiliknya.

"Lumayan, lagi sedikit antreannya, paling nunggu dua-tiga jam," ujar Bu Menon.

Kami lalu mencari tempat lebih nyaman untuk berbincang seputar profesi uniknya. Kami menemukan tempat duduk yang cukup nyaman. Perbincangan seru pun hadir. Simak hasil obrolan kami, yuk!

Bu, aktivitas sehari-hari apa sih?
Untuk aktivitas, untuk sekarang, secara resminya saya sebagai driver ya, driver Gojek.

Banyak pengemudi ojol merasakan turunnya orderan sejak pandemi, cara mengatasinya gimana biar tetap dapat penghasilan sesuai kebutuhan, bu?
Untuk saat pandemi seperti ini, kebutuhan pasti ada, semua juga membutuhkan, apalagi saya punya anak, punya kebutuhan buat kuliah juga sekarang persiapan lagi skripsi. Ya apapun juga istilahnya selama itu masih halal, saya masih mampu untuk mengerjakan, ya saya kerjakan gitu.

Kalau antar jemput kucing gimana awalnya?
Jadi, awalnya mungkin dari antar jemput steril (sterilisasi kucing) sampai cat sitter. Ada yang punya kucing banyak, dia tidak punya tenaga, minta bantuannya sama saya, pernah seperti itu. Nah, untuk sekarang seringnya antar jemput steril, ya ke dokter. Ada yang minta anterin (kucingnya berobat) ke dokter, ada. Antar jemput steril sih rata-rata, banyaknya itu.

Berjalan dari kapan berarti si jasa antar jemput kucing ini?
Mungkin secara optimalnya 2018, ya. 2017 saya daftar (ojek) online, 2018 saya banyak ke pelayanan untuk ini, gitu.

Bisa banyak orang tahu jasa antar jemput kucing ini gimana ceritanya?
Awalnya bergabung di medsos ya, sama grup-grup pencinta kucing segala macem gitu, terus bertemu di tempat lokasi steril (kucing). Saya membagikan nomor telepon bahwa seandainya membutuhkan tenaga saya untuk ini (antar jemput kucing) karena berhalangan hadir segala macem boleh hubungi saya.

Bu Menon pun sering berkomunikasi dengan dokter hewan yang menangani kucing para pelanggannya. Dokter hewan pun akhirnya turut menyebarkan nomor telepon Bu Menon kepada para pencinta kucing. Sehingga, semakin banyak yang tahu jasanya.

Tak Berharap Kucing Sakit
Bu Menon mengakui memang mendapat uang dari jasa antar jemput kucing. Namun, ia menyebut tidak berharap ada kucing sakit. Ia lebih suka mengantar jemput kucing untuk sterilisasi atau keperluan lain. Yang penting enggak sakit, begitu prinsipnya.

Sehari berapa kali antar jemput kucing?
Tidak bisa dipastikan, ya. Karena saya pun tidak berharap menjemput atau tidak mengharapkan rezeki saya dari kucing yang sakit, ya. Kayaknya terlalu gimana ya, kejam banget gitu ya berharap ada kucing sakit biar saya ada rezeki, enggak gitu.

Kalaupun datang ke sini misalnya (klinik hewan) untuk vaksin, untuk steril, oke, enggak apa-apa, kita mah semangat aja. Tapi, kalau untuk antar kucing yang sakit, apalagi yang ketabrak, mendingan jangan deh. Karena saya berharap mereka baik-baik saja di jalan atau baik-baik aja di rumah, enggak sakit, enggak ketabrak, enggak terluka.

Penentuan tarif jasa antar jemput kucing ini gimana sih, bu?
Kalau saya per jarak umumnya. Tapi, ada hitungan kita radius 5 kilometer, ada apa ya, di-flat ya, di-flat gitu harga segitu, Rp100 ribu.

Ada konsumen bilang mahal enggak dengan harga segitu?
Ada, misalnya owner (ada yang bilang) 'kok harganya lebih mahal gitu? (ojek) online aja segini'. Silakan pakai online, saya tidak memaksakan untuk itu.

Bu Menon punya perhitungan dan cara kerja sendiri. Bahkan, ia punya peralatan lengkap untuk membawa kucing pelanggan, mulai dari keranjang, tali, dan lain-lain. Sehingga, ia berani mematok harga Rp100 ribu. Namun, jika jaraknya lebih jauh, tentu harganya berbeda.

"Jadi, kalaupun lebih dari misalnya saya patokan yang dekat, Rp100 ribu, untuk satu ekor, untuk antar jemput steril. Itu ditungguin sampai istilahnya dia (kucing) bisa dipastikan sudah layak untuk pulang. Karena kalau belum sadar, belum boleh pulang. Itu kalau untuk yang satu ekor, kalau dua ekor saya tambah lagi ada Rp50 ribu. Jadi per ekor tambahan Rp50 ribu," tuturnya.

Untuk jasa antar jemput ini, diakuinya juga ada berbagai risiko. Selain harus mengeluarkan biaya operasional, ia harus berusaha memastikan segala proses berjalan lancar. Bahkan, ia memperhatikan betul kenyamanan kucing yang dibawa. Wah, enggak sembarangan ternyata, ya!

Tarif yang dibebankan kepada pelanggan pun tak hanya dipakai untuk biaya operasional dan keuntungannya sendiri. Sebab, ia selalu berusaha menyisihkan sebagian penghasilannya buat membantu kucing jalanan, baik makanan maupun menangani yang kecelakaan atau sakit.

Kok bisa kepikiran jasa antar jemput kucing, bu?
Saya pikir memang peluang ya buat saya juga. Karena dengan situasinya seperti ini, ya karena kebutuhan ya, daripada nungguin orderan (ojek online), kan belum tentu per harinya bisa dipastikan bahwa (orderan) itu bakal segimana, tidak bisa diprediksi. Kalau ini (antar jemput kucing) kan sudah jelas, ke sini, ke sini, rumahnya di sini.

Kalau antar jemput kucing ini si pemilik kucing tahu beres aja?
Jadi orang tuh, mungkin, mungkin banyak yang makai (jasa saya) karena malas menunggunya (proses di klinik hewan) itu. Daripada nungguin, udah lah gue mending tahu beres aja, tahu anaknya, kucingnya nyampe ke rumah, seperti itu gitu. Jadi kalau yang sudah tahu, apalagi yang (mau) steril (kucing), 'capek nungguin steril mah, udah lah sama Bu Menon aja'.


Penyelamat Kucing
Selain jasa antar jemput kucing, Bu Menon punya kesibukan lain. Ia kerap jadi penyelamat kucing liar yang sakit atau kecelakaan.

Tak jarang ia menangani kucing berbagai kondisi. Ia berusaha menyembuhkannya, termasuk membawanya ke dokter hewan. Namun, ia mengaku tak melulu bisa menangani kucing bernasib malang.

Ia pun butuh bantuan orang lain untuk menangani kucing malang. Apalagi, ia tak boleh memelihara kucing di rumah. Sehingga, ia kerap berhubungan dengan komunitas pencinta kucing agar perawatan dan kehidupan kucing yang ditolong lebih panjang.

Awal ketertarikan Bu Menon sebagai penyelamat kucing bermula dari kucing yang kerap diberinya makan di tempat mangkal sebagai pengemudi ojol. Tiba-tiba ia mendapat laporan si kucing berjalan ngesot dari rekan sesama pengemudi ojol di sana.

Ia pun bergegas ke lokasi dan membawa sang kucing ke klinik hewan. Dari hasil pemeriksaan, ternyata ada bagian tulang kakinya yang patah dan perlu dioperasi. Penggalangan donasi kemudian dilakukan bersama temannya. Di luar dugaan, donasi yang terkumpul cukup banyak.

"Banyak yang membantu, sampai melebihi dari estimasi yang dokter ini (perkirakan). Oh ,ternyata banyak yang peduli gitu, kenapa saya enggak," ucap Bu Menon.

Hal itu memantik kepeduliannya terhadap kucing liar lebih besar lagi. Sehingga, ia kerap jadi petugas rescue khusus kucing setelah momen tersebut.

Namun, di tengah perjuangan menjadi penyelamat kucing, kesedihan mandalam sempat dirasakannya. Sekitar setahun setelah menyelamatkan kucing di tempat mangkalnya, kucing itu meninggal dunia.

Ia dikabari temannya yang menampung kucing tersebut. Setelah mendapat kabar, ia bergegas menuju lokasi. "Bu Menon, ini si Bensu (nama kucing yang diselamatkan) sekarat kayaknya. Kayaknya nunggu kamu (datang) deh," tuturnya.

Tangis Bu Menon pun tak tertahan saat bercerita kucing yang meninggal tersebut. Ia tak kuasa memutar memori yang baginya begitu mendalam bercampur kesedihan.

"Jadi, memang perjuangan itu (menyelamatkan) si Bensu yang bikin bener-bener jadi peduli. Bahwa orang-orang lain tuh, dari Kalimantan, dari Riau (dan lain-lain) banyak yang ngasih donasi ya. Sementara mereka tidak ada yang kenal dengan saya," kata Bu Menon.

Diakui Bu Menon, kucing yang diselamatkan banyak yang memiliki kedekatan dengannya. Bahkan, ketika ada kucing meninggal, ia pernah beberapa kali menangis histeris. Ia juga sempat menangis di jalanan dan ditenangkan sesama rekan pengemudi ojol.

Ada beban besar dalam benaknya ketika mendapati kucing yang pernah ditolong meninggal dunia, terutama yang pengobatannya dibantu hasil donasi.

"Bukan apa-apa, selain saya mempertanggungjawabkan (kehidupan kucing) itu, mempertanggungjawabkan juga sama donatur istilahnya, 'kucing yang gua bantu tuh seperti apa, kok jadi begini?'. Ada perasaan tidak enak gitu, ya. Maksudnya, kesannya kita enggak bisa ngurusin, padahal kita sudah optimal," jelas Bu Menon.

Untuk menangani kucing bernasib malang di jalanan, ia juga mengaku banyak dibantu dokter hewan yang kerap didatanginya. Ia banyak dimudahkan hingga diberi potongan harga besar.

Sementara untuk donasi, Bu Menon tak selalu melakukannya. Ia biasanya hanya akan menggalang donasi setelah diketahui estimasi biaya penanganannya berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.

Alasannya, ia tak mau menumpuk uang hasil donasi di rekeningnya. Sehingga, ia hanya menggalang donasi seperlunya saja.


Pengalaman Lucu
Profesi unik yang dijalaninya memang memantik rasa lelah tersendiri. Saat membawa kucing ke klinik, ia kerap menunggu hingga berjam-jam. Menunggu itu melelahkan. Ia membenarkan itu karena kerap mengalaminya.

Namun, ia tetap berusaha menjalani profesinya dengan sabar. Ia tahu betul itu adalah konsekuensi dari jasa antar jemput kucing yang dijalankan. Di luar itu, ada banyak lika-liku saat menjalani profesinya.

Meski begitu, tak melulu soal pengalaman tak enak yang dialami. Ia juga kerap mengalami hal lucu yang kadang membuatnya tersenyum sendiri. Salah satunya ketika ada calon konsumen yang menghubunginya. Bu Menon diminta mengantar jemput kucing dari Jalan Gajahmada.

"Entar dulu, Gajahmada, dilihat dulu. Ini Gajahmada mana soalnya? Saya orang sini gitu kan, enggak ada nama itu. (Dihawab) 'Gajahmada Jakarta'. Aduh, ini Jakarta gimana urusannya gitu. (Saya jawab) maaf saya di Bandung," ungkapnya.

Ia sendiri menganggap wajar jika ada orang dari luar Bandung yang ingin memakai jasanya. Sebab, nomor teleponnya sudah kadung tersebar, termasuk melalui media sosial.

"Terus ada yang dari Solo kalau enggak salah. Dia punya induk susuan, anak-anaknya mati, (orangnya menghubungi) kalau butuh, katanya bisa diantar ke saya kalau ada bayi-bayi (kucing) terlantar butuh induk susuan. Oke, mbak dari mana, 'dari Solo', aduh, gimana nganternya saya. Jadi, ada banyak kejadian lucu seperti itu," kata Bu Menon.

Seru nih bu, ada pengalaman lucu lain enggak?
Kalau yang sudah mengerti, mungkin sudah tahu mekanisme kerja saya seperti apa, kadang-kadang ada yang ngasih lebih. Ngasih lebih tuh ada yang berupa uang, ada yang berupa makanan kucing.

Pernah ada makanan kucing yang dikira makanan orang?
Pernah kejadian, ada yang masih makanan gitu. Saya bawa dong makanan itu ke rumah, perasaan kan makanan gitu. Saya Simpen dong di meja, pas dibuka, loh kok, ini mah makanan kucing. Ya Allah...


Bawa Empat Botol di Tas
Ini jadi bagian unik lain dari sosok Bu Menon. Setiap harinya, ia kerap membawa tas. Di dalam tasnya itu berisi empat botol yang masing-masing volumenya satu liter. Mayoritas dari botol itu berisi makanan kucing. Ia biasanya akan memberikannya pada kucing liar di jalanan.

"Insyaallah bawa. Jadi, ada empat botol di tas saya. Yang tiga makanan kering, yang satunya lagi air, air minum. Karena kita di jalan belum tentu anak-anak (kucing) itu bisa menemukan sumber air buat minum, karena minum kan penting. Terus ada mangkok plastik. Tah bisi kabeureuyan (takut kucingnya kehausan). Kan sementara (makanan kucing) ini bisa mengembang kalau ada air. Kalau enggak air meureun kering (mungkin kering), garing we di perut ge (makanannya kering di perut), sementara kebayang kan di jalan haus (tapi enggak ada sumber air).

Biasanya kalau ngasih makan kucing liar itu selalu hunting atau cuma pas kebetulan ketemu?
Insyallah, kalau itu (ngasih makan kucing), mun kawenehan (kalau kebetulan ketemu di jalan). Enggak sengaja aja ngasihnya, yang pas ketemu di jalan.

Saking banyaknya titik pemberian makanan kucing, ia akhirnya punya banyak 'kenalan' kucing. Kucing-kucing itu selalu menghampiri ketika bertemu dengan Bu Menon. Apalagi ketika ia sudah mengocok botol berisi makanan kucing. Bebunyian yang keluar seolah jadi magnet bagi kucing 'langganannya' untuk mendekat.

Ada yang nanya enggak, kenapa mau ngasih makan kucing di jalanan?
Kadang (ada yang bertanya), 'ibu punya kucing berapa', kucing saya banyak di jalanan. 'Oh gitu, ngapain sih ngasih makan kucing di jalan'. Ya, suka-suka saya dong, uang-uang saya, gitu. Ya, kalau ibu enggak suka, ya enggak apa-apa, itu uang saya, saya juga enggak minta uang ibu. Insyaallah rezeki buat buat anak-anak (kucing) lewat saya ada. Gitu aja saya mah.

Hikmah yang didapt dari ngasih makan kucing liar ini apa sih, bu?
Minimal saya bisa menyalurkan apa yang tidak bisa saya lakukan di rumah (memelihara kucing).

Ibu nganggap ngasih makan kucing ini kayak gimana?
Ya istilahnya apalagi, sedekah kayak gitu, ya. Saya anggap ini sedekah. Kadang ada yang protes, kenapa sih harus (berbuat ngasih makan) ke kucing, sedekah itu kan ke manusia. Ya, manusia masih bisa berusaha, masih bisa meminta, gitu kan ya. Punya kaki, tangan, bisa berusaha, mulut untuk meminta. Coba kalau kucing..

Ia pun mencontohkan jika kucing sulit mendapatkan makanan. Ia pernah menemukan kasus ada kucing yang terkapar dengan perut makin lama makin membesar. Kok bisa begitu, ya?

"Pernah saya rescue kucing di tengah jalan di daerah Kosambi, kucing kecil, di badan jalan pinggir, kebetulan saya lewat situ. Si perutnya makin lama makin gede, di-rescue, makin lama makin gede, terus dokter (bilang) harus dioperasi. Bukan apa-apa, di dalemnya (perut) itu ada kerikil, jagung, kebayang dong gitu, karena tidak menemukan makanan. Jadi, kebayang dong nyumbat di lubang anus tidak bisa keluar pup-nya. Memang harus dibedah, dikuras semua, dari mulai jagung segala macam yang kering-kering itu," jelasnya.

Ajakan Kebaikan
Sebagai manusia, Bu Menon hanya berusaha ingin melakukan hal baik. Kucing pun jadi salah satu sarana baginya untuk berbuat baik. Ia percaya kebaikan akan mendapatkan hal baik.

"Ya, kalau untuk berbuat baik, istilahnya ya, apa yang kita tanam. itu yang kita tuai. Mungkin kita bukan kita yang menuai, mungkin anak cucu kita (yang nanti menuainya). Istilahnya, kebaikan yang kita berikan, kebaikan lagi yang akan kita dapat," ujarnya.

Ia pun berusaha menularkan aksi baik pada kucing terhadap teman-temannya. Bahkan, beberapa temannya yang sebelumnya cuek dan tak suka kucing, kini jadi penyuka kucing. Tak hanya itu, ada di antara mereka yang mengikuti langkahnya, gemar ngasih makan kucing di jalanan.

"Kita berbagi sedikit (makanan kepada kucing) juga enggak akan membuat kita jadi miskin," ucap Bu Menon. 

Keren banget kan TemanBaik kita yang satu ini. Patut ditiru nih aksi baiknya. Kadang kita lupa hanya berbuar baik pada sesama manusia. Padahal, di sekeliling kita ada hewan yang butuh bantuan karena tak bisa berkata dan meminta. Panjang umur kebaikan! Sehat selalu Bu Menon..



Foto: Djuli Pamungkas/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler