Ngobrolin Foto Terapeutik Bareng Grace Anata Irlanari

Bandung - Kenalin nih, TemanBaik yang kita jumpai kemarin, Grace Anata Irlanari. Wanita kelahiran 1985 ini punya ketertarikan dengan fotografi terapeutik. Apa sih fotografi terapeutik itu?

"Sebetulnya kita secara enggak sadar pernah melakukan foto teurapeutik loh," ujar Grace saat membuka obrolan dengan kami.

Ya, mungkin kamu juga, TemanBaik? Tapi mungkin enggak semua orang mengenal istilah fotografi terapeutik. Oleh karenanya, kami menelusur perjalanan Grace yang selama tiga tahun belakangan ini fokus meneliti fotografi terapeutik.

Jauh sebelum mengenal foto terapeutik, Grace adalah fotografer yang menggemari aliran street photography. Kegiatan ini sudah dilakoninya sejak 2011. Bersama komunitas penggemar fotografi jalanan (street photography), ia menelusur dari satu kampung ke kampung lainnya untuk memotret kegiatan masyarakat.

Di samping itu, lulusan Universitas Pendidikan Indonesia dengan dua jurusan sekaligus, yakni Pendidikan Kimia dan Pendidikan Guru Taman Kanak Kanak (PGTK), ini juga punya usaha sendiri, yaitu produk mainan anak.

Apa sih yang melatarbelakangi Mbak belajar foto terapeutik?
Tahun 2016 saya ketemu dengan seorang dosen di Jakarta yang menekuni bidang art therapy. Saat itu saya diperkenalkan dengan metode art therapy. Ini adalah salah satu terapi khusus untuk kesehatan mental dengan media seni. Kan banyak tuh mereka yang mengalami gangguan mental, lalu memilih jalur berkesenian supaya bisa lebih rileks, bisa melepas stres, dan lama-lama menerima kenyataan yang mungkin enggak menyenangkan. Dan fotografi itu kan ada di dalam bagian dari seni itu juga

Nah, apa yang bikin ini begitu menarik buat Mbak?
Karena memang saya juga menggeluti kegiatan fotografi ini. Bahkan dulu, secara enggak sadar, saya tuh pernah melakukan proses memotret ini (fotografi terapeutik) dan saya yakin kebanyakan fotografer pun pernah melakukannya.

Kok bisa sih Mbak? Memangnya fotografi terapeutik tuh apa sih?
Sayangnya, di Indonesia saat ini belum ada acuan yang jelas mengenai kegiatan ini. Beberapa riset lagi dikembangkan buat nantinya jadi rujukan pengetahuan lah. Saat ini sih definisi-definisinya masih terus diteliti.

Sebagai pelaku yang fokus meneliti soal ini, definisi menurut Mbak Grace apa?
Jadi, fotografi terapeutik itu proses fotografi yang hasilnya bisa menjadi media healing buat sebagian orang. Konsepnya mirip seperti bikin patung, melukis, atau main musik. Sama persis. Cuma, ini diaplikasikan pada bidang fotografi.

Bagaimana, TemanBaik? Kebayang enggak sama kamu? Atau mungkin kamu pernah mengalami momen di mana kamu selalu memotret objek atau benda yang sama secara konsisten dalam kurun waktu tertentu saat kamu mengalami sesuatu yang enggak menyenangkan? Nah, kegiatan tersebut tanpa sadar bisa disebut sebagai kegiatan terapi buat kamu menerima kenyataan loh.

Hal ini diperkuat setelah kami bertanya sama Grace, apakah dirinya pernah mengalami fase tersebut. Dan ia menjawab pernah.

Hal apa yang enggak Mbak sadari adalah proses fotografi terapeutik?
Dulu aku sering banget motret tiang listrik yang kabelnya rumit, pabaliut. Entah kenapa aku kepengin banget motret itu. Ya, aku lakukan dan aku kumpulkan secara konsisten.

Se-random itu motret tiang listrik?
Iya. Dan itu dilakukan bertahun-tahun. Sampai ada masanya kita memang mau setop. Udah. Karena ya sudah cukup aja.

Saat kita berhenti, kita bisa dibilang selesai dengan trauma atau masalah kita?
Bisa jadi. Kalau aku sih begitu. Karena ngerasa udah cukup, ya selesai. Setidaknya aku membaik setelah melewati tahun-tahun motret tiang listrik itu. Dan belakangan setelah konsul sama seorang pegiat art therapy yang di awal aku sebut, ternyata yang aku lakukan tadi tuh ya fotografi terapeutik.

Terkait hal teknis dari fotografi terapeutik, Grace menyebut ini bisa dilakukan siapa saja dan relatif sangat bebas. Namun sebagai catatan, fotografi terapeutik punya prinisip berbeda dengan photo therapy atau terapi kesehatan dengan media fotografi.

"Jangan disamain, nih. Sebab, kalau udah masuknya ke photo therapy, itu perlu bantuan profesional. Karena bisa jadi objek dalam fotografi itu sendiri malah memantik ingatan dan psikis kita untuk jadi lebih down lagi," tegasnya.

Grace menyebut indikator pembatas kebutuhan penyembuhan alias healing seseorang dengan media foto terapeutik adalah saat ia merasa lebih baik setelah rutin melakukan kegiatan ini. Namun, jika kegiatan memotret ini justru memicu trauma atau gangguan mental lain, kamu perlu bantuan terapis untuk lepas dari belenggu tersebut.

Kriteria sebuah karya foto terapeutik tuh apa aja sih?
Bukan fotonya, tapi proses menghasilkan karya fotonya.

Kenapa sih ada proses terapeutiknya dalam kegiatan fotografi itu?
Karena secara sadar atau tidak sadar, ada beberapa proses dalam diri kita saat melakukannya. Seperti pengenalan diri, healing, komunikasi dengan diri sendiri, sampai bisa menerima sesuatu yang dianggapnya enggak berkenan seperti trauma, atau mungkin orang yang melakukan foto terapeutik itu pengidap penyakit kronis misalnya.

Penyakit kronisnya jadi sembuh?
Ya, walau penyakit kronisnya enggak bisa sembuh karena foto terapeutik, tapi ini kan kita bicara konteksnya kesehatan mental. Orang dengan trauma atau 'sakit' tertentu itu, biasanya yang drop kan mentalnya. Nah, foto terapeutik, katakanlah 'bekerja' untuk 'menolong' sisi tersebut.

Metode ini memang baru banget kayaknya ya di Indonesia?
Iya. Tapi kalau merunut sejarah, Doug Stewart dalam Photo Therapy: Theory & Practice (1997) menulis sejak tahun 1850-an metode ini sudah dilakukan di beberapa rumah sakit jiwa di belahan dunia. Ada jurnal yang mencatat sejarah tersebut. Jadi, begitu kamera ditemukan, rumah sakit di negara luar sana menggunakan kamera untuk alat terapi pasiennya. Penyintas gangguan jiwa ini dikasih kamera untuk dia motret dan mengenali dirinya.

Setelah yakin dan merasakan sendiri dampak positif melakukan kegiatan fotografi terapeutik, Grace semakin mantap untuk mendalami bidang ini. Risetnya ini dibarengi dengan kelas berbayar seputar terapi seni, yang mana ia banyak mengambil sudut pandang sebagai fotografer.

Baca Ini Juga Yuk: Jejak Langkah & Jiwa Tulus Ebi untuk Dunia Pendidikan Anak

Bermusik & Dunia Anak
Ketertarikannya dengan dunia fotografi dibarengi ketertarikan yang sama di bidang anak. Tahun 2002, Grace mengambil kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ia fokus mendalami dua kajian studi sekaligus alias double degree. Ia mengambil jurusan Pendidikan Kimia dan Pendidikan Guru TK.

Ketertarikannya pada dunia anak berlanjut selepas kuliah. Ia membuat usaha sendiri dengan produk permainan edukatif untuk anak. Selain itu, ia juga mulai tertarik main musik dan membawakan lagu anak.

"Dulu aku main gitar dan nyanyi. Beberapa file musik ada di Soundcloud," terangnya.

Ketertarikan dengan dunia anak juga disalurkannya dengan membuka home schooling bernama Ganata, yang terinspirasi dari nama panjang Grace, yakni Grace Anata. Di dunia anak, ia dikenal dengan nama panggung Bu Grace. Ia membuat permainan edukatif dengan nama brand bonekatangan, serta membuat kostum anak serta pakaian adat untuk anak.

Untuk saat ini gimana bisnisnya mbak?
Lumayan berat sih di tiga tahun terakhir. Beberapa project yang kaitannya dengan dunia anak itu enggak jalan.

Apa sih yang bikin Mbak tertarik sama dunia anak?
Ketertarikan sama dunia anak sih udah ada sebelum kuliah. Aku mulai ngajar sejak 1998. Karena berbagai peristiwa sih ya, aku merasa ini adalah proses untuk terapi diriku sendiri.

Saat ini, kecintaan terhadap dunia anak dan pendidikan disalurkannya di Red Raws Center, markasnya RAWS Syndct. Di sana, ia mengajar dalam kelas-kelas kolektif yang digagas bersama pendiri RAWS Syndct.

Peduli Literasi Fotografi
Latar belakangnya sebagai peneliti juga membuatnya dekat dengan buku. Saat bergabung dengan RAWS Syndct, Grace mulai melirik sub kegiatan Perpustakaan Fotografi Keliling. Malah, unit kegiatan inilah yang mempertemukannya dengan RAWS.

Dalam pandangannya, banyak fotografer yang piawai menghasilkan foto-foto keren, namun minim referensi seputar literasi. Padahal, jika keduanya digabungkan, bakal ada nilai lebih dari kegiatan fotografi yang dilakukan seseorang.

Sejak 2017, Grace kemudian aktif keliling bersama Perpustakaan Fotografi Keliling. Ia dan tim membuka lapak baca yang isinya buku fotografi di berbagai kota.

"Kayaknya yang belum kejamah itu wilayah Indonesia Timur. Terus 2020 kita kehantam pandemi, jadi belum bisa bebas gerak lagi," jelasnya.

Selain aktif di Perpustakaan Fotografi Keliling, Grace juga aktif sebagai pengajar di kelas kolektif RAWS Attack Class. Kelas fotografi non teknis di bawah naungan RAWS Syndct ini biasanya digelar saban kamis malam. Dalam kelas kolektif ini, Grace spesifik membawakan materi foto terapeutik.

Di kelas, apa aja sih yang Mbak sampaikan ke anak-anak?
Kita membantu mereka untuk bercerita lewat foto. Uniknya, beberapa anak-anak yang menggandrungi fotografi itu berawal dari rasa 'sakit'. Nah, di kelas ini gimana caranya individu yang kesannya sangat mellow dan suka menyakiti dirinya sendiri ini, minimal dia bisa menuangkan isi pikiran lewat fotografi, jadi enggak lagi menyakiti diri sendiri.

Mengenalkan literasi di bidang fotografi tuh pekerjaan rumah banget enggak sih, Mbak?
Betul. Orang tahunya fotografi itu motret aja. Padahal, ada banyak aspek yang enggak orang ketahui. Semua orang bisa motret, tapi enggak semua pernah menyentuh ranah ini. Makanya kita bikin PFK biar kita anterin deh buku-bukunya ke pelosok Indonesia sekalipun.

Baca Ini Juga Yuk: Ngobrolin Toleransi Bareng Rafly sang Fotografer Vihara

Foto Terapeutik, Alat Bercerita
Secara umum, Grace menyebut pengaplikasian fotografi terapeutik bersifat kasuistik alias dikembalikan kepada pelakunya. Artinya, belum tentu metode ini secara spesifik bekerja pada tiap diri manusia. Pendekatan untuk melakukan kegiatan ini disesuaikan kebutuhan pelakunya itu sendiri.

"Mungkin di beberapa kasus, ada orang yang doyan motret objek tertentu, misalnya kopi. Selama bertahun-tahun, setiap hari, orang itu motret kopi terus. Itu secara enggak sadar ada 'sesuatu' yang lagi dia selesaikan," ujarnya.

Mengutip pakar foto terapeutik Judy Weiser, Grace menyebut setidaknya ada beberapa objek yang bisa kita jadikan pendekatan saat hendak melakukan kegiatan fotografi terapeutik. Antara lain memotret diri sendiri (self portrait), memotret objek acak sebagai bentuk ungkapan diri, menganalisis arsip, serta menganalisis foto orang lain yang memotret dirinya.

Salah satu pameran foto terapeutik yang pernah dilakoninya adalah Walking With Raws (2020). Grace menjadi kurator dalam pameran ini. Foto-foto yang dipamerkan di acara ini adalah foto selama masa karatina wilayah alias PSBB tahap awal yang bergulir sejak Maret hingga Juni 2020, di mana seluruh akses kita dibatasi begitu ketat.

Kejadian itu secara tidak sadar mengganggu mental kebanyakan orang. Grace kemudian melakukan sesi wawancara dengan para pameris untuk membuat cerita dari foto yang disajikan.

Jadi lebih ke foto sederhana atau sangat personal yang punya dampak positif buat si fotografernya, ya?
Ya. Meringankan apa yang menumpuk di dalam dirinya. Kayak di Walking With Raws itu sebenernya kan objek fotonya sangat biasa saja. Hanya foto sekitar rumah, foto-foto sederhana lah. Tapi momen itu diambil saat kita sedang dikarantina, enggak bisa ke mana-mana. Hal sederhana begitu, bisa jadi sarana healing. Penyembuh buat mental kita yang tertekan.

Catatan penting nih Mbak, tiap orang itu bisa menjalani ini ya?
Iya. Foto terapeutik, ya. Bukan foto terapi. Bahkan kamu juga kemungkinan pernah melakukannya. Untuk konteks foto terapeutik yang kaitannya foto diri, mereka perlu sadar apa yang mereka mau tampilkan.

Masih rumit sebenarnya ya menjadikan foto terapeutik sebagai metode pasti buat terapi kesehatan?
Bisa jadi. Tapi pada dasarnya, foto terapeutik lebih bebas sih. Mirip dengan seorang penulis lepas deh prinsipnya. Semua orang bisa menulis cerita, tapi kita perlu tau kan mana yang pantas kita tulis atau enggak. Ya sama, prinsipnya begitu. Asal jangan tertukar antara foto terapeutik dengan foto terapi.

Terus buat kita yang kepengin mencoba foto terapeutik sebagai media healing nih, caranya gimana?
Saat memang ngerasa kesehatan mental kita enggak baik-baik aja, coba keluar sejenak, motret apa aja yang kita rasa ini pengen kita potret. Potret aja. Itu tahap pertama. Mau to the next level alias serius belajar? Coba kamu diskusi dengan orang yang minimal ngerti foto dan mau dengerin cerita di balik foto kamu. Next level-nya lagi, diskusi sama orang yang ngerti foto terapeutik.

Dampak dari foto terapeutik tuh kayaknya agak sulit dijabarkan lewat teks, tapi bisa kita rasain di masing-masing diri kita, ya?
Iya, karena rasa 'plong' setelah motret sesuatu itu kan memang beda-beda ya tiap orang. Jadi saranku, coba aja gerak dan motret dulu.

Nah, TemanBaik kalau mau konsultasi seputar foto terapeutik ke Mbak Grace, boleh enggak? Kita bisa datang ke mana dan jam berapa?
Boleh. Main aja ke Red Raws Center Lantai 3 Pasar Cikapundung. Aku di sini hampir setiap hari dari siang sampai malam. Insya Allah.

TemanBaik, coba diingat-ingat lagi; pernah enggak sih kamu sedang merasa galau, kondisi mental tidak stabil, atau dalam keadaan yang enggak baik-baik aja, lalu kamu mengambil jeda sejenak untuk melakukan kegiatan fotografi? Jika pernah, maka besar kemungkinan kamu sudah melakukan foto terapeutik.

Nah, sekarang pertanyaannya bagaimana setelah melakukan kegiatan tersebut? Jangan ragu untuk diskusi dengan pegiat di bidangnya ya! Selamat berakhir pekan!


Foto: Istimewa/Dokumentasi Pribadi Grace Anata
Layout: Agam Rachmawan


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler