Mahasiswa Malang Ini Sulap Limbah Bangunan Jadi Beton Daur Ulang

Malang - Nurman Handitya Prima, Muh Irfan Maulana, dan Oval Mufarid, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah satu dari sekian contoh anak muda Indonesia yang kreatif. Di tangan mereka, limbah sisa konstruksi bangunan yang awalnya terbuang bisa kembali dimanfaatkan menjadi bahan pembuat beton.

Limbah beton bekas yang tak terpakai tersebut dihancurkan kembali untuk menghasilkan agregat kasar dan agregat halus. Selain itu, ada juga serbuk-serbuk kecil dari penghancuran beton tersebut yang ternyata bekas dari semen.

"Di sini kami menghancurkannya dengan cara manual, yaitu palu. Kemudian disaring sesuai ukuran saringan. Material yang tertinggal menjadi agregat kasar pengganti kerikil. Material yang lolos akan dihancurkan menggunakan mesin Los Angeles hingga seperti pasir dan disaring lagi menjadi agregat halus," ungkap Nurman.

Kepada tim beritabaik.id, Nurman Handitya Prima menceritakan, penemuannya ini bermula dari banyaknya beton sisa konstruksi teman-teman kuliahnya yang sudah tidak terpakai di area kampus.

"Saat itu saya sedang bertugas di laboratorium. Kebetulan saat itu sudah akhir dari praktikum di mana betonnya anak-anak sudah tidak terpakai. Beton-beton itu biasanya dibuang ke tempat pembuangan akhir," kata Nurman mengawali cerita.

Sebelum beton-beton limbah tersebut dimusnahkan, tiba-tiba saja salah satu Dosen yang mengajar mata kuliah Konstruksi menghubungi Nurman untuk mengajaknya menjalani penelitian.

"Akhirnya untuk penelitian saya menyanggupi dan mengajak beberapa teman," imbuhnya.

Akhirnya, Nurman bersama tim memanfaatkan limbah praktikumnya mahasiswa lain untuk kembali dijadikan beton "baru".

"Dari sinilah limbah tersebut kami manfaatkan dan kami pecah menjadi ukuran-ukuran tertentu mulai dari satu setengah sampai ukuran tiga per delapan," tutur Nurman.

Beton daur ulang yang sudah dipecahkan tersebut, kemudian dimasukkan dalam saringan grafik fuller. Dalam prosesnya, Nurman dan kawan-kawan juga dibantu dengan sebuah mesin bernama Los Angeles, untuk menghasilkan agregat yang lebih halus.

“Nah dari situ dapatlah agregat kasar. Lalu untuk agregat halus kita melalui proses ‘Los Angeles’ dulu yaitu proses penumbukan pakai mesin bernama ‘Los Angeles’,” terang Nurman.

Kata Nurman, di dalam mesin tersebut, agregat beton tersebut diputar-putar kurang lebih selama 10 hingga 15 menit.

"Kemudian, semua bahan tersebut dimasukkan dalam saringan nomor 8 sampai saringan tertahan di 200. Nah ini kita pakai untuk campuran agregat halus. Murni sama sama bahan daur ulang untuk agregat kasar dan halus," paparnya.

Baca Ini Juga Yuk: Beli Gawai Berharga Miring? Ini Risiko yang Harus Kamu Ketahui

Nurman juga mengatakan bahwa sebenarnya sudah banyak penelitian tentang agregat daur ulang ini. Hanya saja, timnya ini berhasil memanfaatkan limbah material bekas konstruksi beton sebagai substitusi 100% dari total kebutuhan agregat setelah melalui beberapa prosedur.

"Sebelum kita membuat benda uji beton itu kita harus tau dan materialnya harus sesuai SNI, kemudian American Standard Test Material," katanya.

Ia juga meegaskan bahwa beton daur ulang ini sudah masuk dalam standar yang di berikan pemerintah. Bahkan, komponen beton hasil daur ulang tersebut bisa disejajarkan kualitasnya dengan batu kerikil dari Kulon Progo.

"Artinya, kita memakai daur ulang ini kita sudah bisa memangkas pemakaian batu kerikil Kulon Progo. Kekuatan yang sama tanpa mengurangi durabilitas dari beton. Durabilitas itu salah satu bahan kita ganti namun tidak mengurangi kekuatan bahan bangunan itu sendiri," tegasnya.

Dalam hasil uji abrasi, beton daur ulang ini memiliki tingkat keausan yang sama dengan kerikil Kulon Progo yakni sebesar 23.5%. Level tersebut masih dalam nilai keausan yang diizinkan untuk beton kelas III yaitu dibawah 27% berdasarkan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI).

"Kita membuat inovasi akan tetapi tidak mengurangi dari durabilitas beton tersebut. Apa yang kita pakai harus sesuai dengan standar yang berlaku. Harus sesuai dengan batas-batas yang diujikan. Sehingga tidak hanya menggunakan SNI saja, SII, ASTM dan PB juga kita uji," tutur Nurman.

Untuk saat ini, kata Nurman, penemuannya ini sudah berada dalam tahap uji material agregat apakah sudah masuk kedalam standar yang ditentukan oleh pemerintah atau belum.

"Untuk betonnya sudah kita buat dan tahap uji coba. Yang pasti apabila ditinjau dari fisik beton serta kekerasan memang sama dengan beton normal direntan 22,5 Megapascal (MPa) sampai 30 Mpa," pungkasnya.

Berkat inovasi tersebut, Nurman dan tim mampu lolos dalam seleksi abstrak lomba karya tulis nasional Civil Festival 2020 di Politeknik Negeri Jakarta. Selanjutnya ia akan menyerahkan full paper dan mempresentasikan inovasinya tersebut pada 11 Maret mendatang.

Foto: Dok. UMM


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler