Keluarnya Magma Belum Tentu Bahaya, Begini Penjelasannya

Jakarta - TemanBaik, apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar atau membayangkan magma keluar dari gunung? Sebagian besar biasanya akan dibayangi sesuatu yang berbahaya.

Namun, ternyata magma belum tentu berbahaya. Bukan berarti setiap magma keluar akan mengancam keselamatan masyarakat. Kok bisa? Simak ulasannya, yuk!

Menurut Kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Badan Geologi, Hanik Humanida, keluarnya magma dari perut bumi melalui gunung api aktif bukan sesuatu yang aneh. Hal itu terjadi secara alamiah.

"Magma yang keluar adalah kejadian biasa di gunung api yang aktif," ujar Hanik.

Pergerakan magma yang keluar melalui gunung itu disebut migrasi magma. Untuk mengetahuinya, bisa diketahui melalui pemantauan oleh ahlinya. Lalu, apakah magma bisa diprediksi kapan magma keluar dari gunung api?

"Tidak dapat dipastikan secara persis kapan magma akan keluar," ungkap Hanik.

Cara Mengukur Tingkat Bahaya
Sesuai penjelasan di atas, keluarnya magma belum tentu berbahaya ya, TemanBaik. Sebab, ada ukuran dan parameter tertentu yang membuat keluarnya magma baru diasumsikan atau disimpulkan berbahaya bagi masyarakat.

Baca Ini Juga Yuk: UGM Kembangkan Alat Pengukur Suhu Berteknologi Pemindai Wajah

Acuan utama keluarnya magma berbahaya atau tidak adalah melalui kubah lava yang terbentuk di gunung api aktif. Jika di gunung api sudah terbentuk kubah lava, barulah pengamat atau pihak terkait bisa mengukur tingkat bahayanya.

"Magma ketika keluar tidak langsung membahayakan masyarakat di pemukiman. Bahaya baru muncul dan dapat diukur setelah kubah lava terbentuk yang jika runtuh akan menimbulkan awan panas," jelas Hanik.

Awan panas inilah yang cukup berbahaya. Sebab, awan panas tentu memiliki suhu panas yang tinggi. Tanaman dan hewan bisa mati karenanya. Bahkan kerusakan bangunan juga bisa terjadi, termasuk membahayakan nyawa manusia.

Lelehan magma juga berbahaya karena memiliki panas yang tinggi. Namun, pergerakannya biasanya bisa terdeteksi akan menuju ke arah mana ketika keluar dari gunung. Jadi, belum tentu magma keluar akan menuju ke pemukiman warga. Sedangkan awan panas, pergerakannya akan tergantung dari pergerakan angin mengarah ke mana, termasuk ada potensi mengarah ke pemukiman.

Jadi, ketika menerima informasi terbentuk kubah lava di suatu gunung aktif di daerahmu, jangan panik dulu ya, apalagi mudah terjebak hoaks. Sebab, hoaks kerap bertebaran dan menimbulkan kepanikan.

Karena itu, bagi TemanBaik yang rumahnya berdekatan dengan gunung api, perlu untuk waspada. Yang perlu ditekankan, terima informasi dari sumber resmi yang kompeten, terutama dari instansi pemerintah. Jangan terjebak hoaks, ya!

Sebab, biasanya instansi terkait seperti PVMBG atau Badan Geologi akan memperbarui data terkait kegunungapian. Data itu akan langsung disebarkan ke pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya untuk ditindaklanjuti, termasuk disampaikan kepada masyarakat melalui laman resmi, media massa, termasuk media sosial.

Dalam informasinya, jika suatu gunung dalam kondisi aktif, akan disampaikan statusnya apakah Waspada, Siaga, atau Awas. Potensi bahaya juga dijelaskan, misalnya radius sekian kilometer harus disterilkan dari keberadaan masyarakat karena ada potensi luncuran awan panas hingga guguran lava pijar alias magma akan mengarah ke mana.

Tetap bijak menerima informasi ya, TemanBaik!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Aaron Thomas  
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler