Uji Klinis Vaksin COVID-19 Tinggal Selangkah Lagi

Bandung - TemanBaik, pemerintah saat ini sedang berusaha keras agar bisa menggunakan vaksin COVID-19. Vaksin ini nantinya akan dijadikan untuk imunisasi dalam rangka pencegahan terjangkitnya COVID-19.

Universitas Padjadjaran (Unpad) ditunjuk sebagai pelaksana uji klinis vaksin COVID-19 oleh PT. Bio Farma. Proses uji klini rencananya akan dilakukan di Bandung dengan melibatkan 1.620 relawan.

Unpad sendiri bukan kali ini saUji Klinis Vaksin COVID-19 Tinggal Selangkah LagiUji Klinis Vaksin COVID-19 Tinggal Selangkah Lagija dipercaya jadi pelaksana uji klinis vaksin. Sehingga, Unpad tergolong paling siap dibanding kampus atau institusi lainnya karena memiliki pengalaman panjang.

Unpad sudah lebih dari 20 tahun loh TemanBaik dipercaya melakukan uji vaksin. Jadi, enggak heran jika Unpad akhirnya ditunjuk oleh pemerintah melalui PT. Bio Farma untuk melakukan uji vaksin COVID-19.

"Penelitian vaksin di Indonesia sudah lebih dari 20 tahun dan hampir semua vaksin yang digunakan di Indonesia itu penelitian dan uji cobanya di Bandung," kata Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Unpad Kusnandi Rusmil di Balai Kota Bandung, Senin (27/7/2020).

Baca Ini Juga Yuk: Kabar Baik, Vaksin COVID-19 Masuk Uji Klinis Tahap Ketiga

Kenapa Menggunakan Vaksin Asal China?
Vaksin yang akan dilakukan uji klinis ini merupakan vaksin yang dikembangkan perusahaan Sinovac Biotech asal Tiongkok. Vaksin ini dipilih karena vaksin butuh pengujian panjang.

Vaksin yang sudah ada ini pun sudah menjalani tahap preklinis dan dinyatakan aman. Uji coba kepada hewan juga sudah dilakukan. Hasilnya juga menunjukkan progres positif dan dinyatakan aman.

Namun, uji klinis perlu dilakukan kepada manusia dalam tiga fase. Fase pertama sudah dilakukan kepada 100 orang dewasa, fase kedua kepada minimal 400 orang, dan fase ketiga kepada ribuan orang. Uji klinis yang dilakukan di Bandung merupakan fase ketiga karena akan dilakukan terhadap 1.620 orang.

Uji klinis pun tak hanya dilakukan Indonesia. Negara lain juga melakukannya. Khusus untuk Indonesia, vaksin ini sengaja dipilih karena dinilai paling cepat untuk digunakan. Hanya dibutuhkan uji klinis, jika hasilnya bagus, maka tinggal digunakan.

"Memang yang paling cepat dan bisa dipakai saat ini untuk mencegar peredaran COVID-19 di Indonesia adalah yang dibuat di China," ujar Kusnandi.

Tinggal Selangkah Lagi
Untuk bisa melakukan uji klinis terhadap vaksin COVID-19, tim riset tinggal selangkah lagi. Saat ini, tim riset masih menunggu persetujuan dari Komite Etik Penelitian Unpad. Setelah persetujuan didapat, uji klinis bisa langsung dilakukan.

Kenapa sih perlu menunggu persetujuan lebih dulu? Tentu ini demi keamanan bersama. Hal yang paling utama adalah melindungi kerja tim riset. Berikutnya tentu melindungi para relawan yang akan dilibatkan dalam uji klinis tersebut.

Komite Etik Penelitian Unpad sendiri terdiri dari berbagai macam pihak, mulai dari perwakilan Fakultas Kedokteran hingga Hukum. Berbagai hal bakal dipertimbangkan sebelum persetujuan diberikan.

"Jadi nanti Komite Etik akan rapat hari ini. Komite Etik itu terdiri dari brbagai macam unsur, ada yang dari biologi molekuler, ada yang dari fakultas keokteran, fakultas hukum," jelas Kusnandi.

"Tujuannya (harus mendapat persetujuan Komite Etik) adalah bagaimana caranya untuk melindungi tim penelitian ini supaya enggak salah dalam melakukan tindakan. Sehingga dibikin bahwa kamu (tim peneliti) tuh harus begini supaya caranya bagus, subyeknya bagus, anggota penelitiannya juga tidak terjadi apa-apa," tuturnya.

Setelah persetujuan didapat, tim peneliti bisa segera bergerak dengan mengumpulkan relawan. Sosialisasi kepada masyarakat pun bakal dilakukan. Selanjutnya, baru uji klinis akan dilakukan terhadap relawan yang sudah terkumpul dan bersedia jadi bagian dari program tersebut.

"Hari ini diharapkan izinnya (persetujuan dari Komite Etik) keluar. Jadi, diharapkan kgiatan (uji klinis vaksin) ini mulai pada bulan Agustus. Tentunya kami dari tim Unpad sudah mengkaji tentang keamanan vaksin sehingga kami harapkan masyarakat, warga Bandung khususnya, akan mendapatkan manfaat dari kgiatan penelitian ini," ucap Manajer Lapangan Uji Vaksin COVID-19 Unpad Eddi Fadlyana.

Butuh Waktu 6 Bulan
Untuk uji klinis vaksin ini, dibutuhkan waktu minimal selama 6 bulan. Selama masa itu, relawan juga akan terus dipantau perkembangannya. Jika dirasa semuanya lancar, vaksin baru akan diproduksi secara massal dan dijadikan bagian dari imunisasi.

"Semua subyek (relawan) akan diberikan buku catatan. Setiap sakit dia harus mencatat sakit apa, berobat ke mana, minum obat apa. Dari tim kami juga akan memantau setiap bulan. Diharapkan hasil akhirnya kita akan tahu seberapa besar manfaat dari penggunaan vaksin ini," jelas Eddi.

Dengan cara ini, bisa diketahui apa kelebihan dan kekurangan dari vaksin yang ada. Sehingga, pemerintah akan mengambil langkah berikutnya apakah akan menggunakan vaksin produksi Tiongkok yang sudah ada atau melakukan langkah lain.

Akan Menggunakan 6 Lokasi
Untuk melakukan uji klinis terhadap vaksin COVID-19 di Bandung, ada enam titik yang dijadikan lokasi penelitian. Keenam titik itu adalah Kampus Unpad di Jalan Eyckman dan Dipatiukur, serta Puskesmas Garuda, Dago, Sukapakir, dan Ciumbuleuit.

Nantinya, lokasi penyuntikkan vaksin hanya akan ada di enam lokasi itu. Setelah divaksin, relawan yang terlibat dalam program ini tetap diperbolehkan beraktivitas seperti biasa. Hal ini selayaknya seseorang yang baru saja diimunisasi.

Kusnandi mengatakan, penelitian vaksin ini dianggap sebagai hal penting. Sebab, kasus COVID-19 terus terjadi. Di saat yang sama, belum ada obat dan vaksin yang dinyatakan efektif untuk mengobati dan mencegah terjangkitnya COVID-19.

"Penyakit ini baru timbul sekarang. Sehingga belum ketemu obatnya apa, vaksinnya apa, karena itu banyak yang tertular, banyak korban. Sehingga Indonesia secara keseluruhan (vaksin ini) dianggap perlu untuk melindungi penduduk kita," jelas Kusnandi.

Didukung Pemkot Bandung
Tim penelitian dari Unpad ini pun menemui Wali Kota Bandung Oded M. Danial bersama jajarannya di Balai Kota Bandung pada Senin (27/7/2020). Mereka menyampaikan secara detail mengenai rencana uji klinis tersebut.

Gayung bersambut, Pemkot Bandung memberi dukungan terhadap penelitian ini. Apalagi, ini merupakan proyek atau program pemerintah pusat.

"Kalau ini merupakan program untuk memberikan manfaat bagi warga Bandung dan Indonesia pada umumnya, kami sangat mendukung," ujar Oded.

Soal adanya pro dan kontra uji klinis itu, Oded mengaku memakluminya. Namun, yang perlu disadari publik, uji klinis vaksin merupakan hal biasa. Bahkan, di Bandung juga bukan hal aneh karena kerap dilakukan sejak sekitar 20 tahun.

"Cuma mungkin karena munculnya dari Pak Presiden (gagasannya) dan (vaksinnya untuk) virus korona sehingga ini ramai. Padahal dari dulu juga sudah biasa (uji vaksin di Bandung)," pungkas Oded.

TemanBaik, doakan saja ya semoga para peneliti dan uji klinis ini berjalan lancar!

Foto: Ilustrasi Unsplash/Centers Of Disease Control  
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler