Menjaga Data Pribadi untuk Berinternet Lebih Aman

Bandung - Kita semua tentu menyadari jika saat ini kita hidup di era yang serba digital. Apalagi sejak pandemi menghadang, rasa aman mungkin muncul untuk sebagian besar orang jika bisa berkegiatan dari rumah. Belanja daring, belajar daring, hingga mencari informasi pun bisa melalui internet. 

Belum lagi sebagian besar dari kita tidak lepas dari media sosial, entah untuk menunjukkan ekspresi diri hingga bersosialisasi. Berbagai kemudahan yang diberikan oleh dunia digital saat ini seringkali membuat kita lalai jika data diri pun perlu dilindungi.

TemanBaik tentu merasakan ya? Ketika mau membuat akun media sosial, atau di platform belanja online, yang pertama diminta adalah data diri kita. 

Lantas sepenting apa sih menjaga data diri saat menggunakan internet, apakah sudah diatur regulasinya oleh pemerintah? Memang, sesering apa masyarakat Indonesia menggunakan internet dan media sosial?

Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, Siberkreasi atau gerakan nasional untuk literasi digital menyelenggarakan webinar yang bertema 'Media Sosial VS Data Pribadi'.

Webinar yang diselenggarakan pada Sabtu (29/8/2020) lalu ini dihadiri oleh empat orang pembicara. Diantaranya Prof. Ahmad Ramli selaku Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika, Drs. H. Taufiq Abdullah selaku anggota Komisi 1 DPR RI, Gisella Anastasia selaku tokoh masyarakat yang tentu berkaitan erat dengan penggunaan media sosial, dan Enda Nasution selaku praktisi literasi digital.


Foto: Tangkapan layar webinar "Media Sosial VS Data Pribadi" bersama Siberkreasi/ Irsya Kireina

Baca Ini Juga Yuk: Fenomena Astronomi pada September Ini, Apa Saja?

TemanBaik, menurut data yang ditampilkan dalam webinar tersebut, saat ini pengguna ponsel di Indonesia mencapai 338,2 juta jiwa, pengguna internet 175,4 juta jiwa. Termasuk di dalamnya ada pengguna media sosial yang mencapai 160 juta jiwa. 

Jumlah yang tidak sedikit tersebut bisa menjadi gambaran soal data pribadi yang sama banyaknya yang telah dihimpun oleh berbagai jenis platform yang ada di era digital saat ini. 

Diakui Taufiq sebagai anggota Komisi 1 DPR RI, keberadaan internet saat ini memberikan berbagai dampak positif untuk masyarakat. Di antaranya membuat pikiran masyarakat semakin terbuka, kreatif dan produktif, serta respon yang cepat terhadap sebuah isu.  Namun, keberadaan internet pun memberikan dampak yang negatif salah satunya adalah informasi hoaks yang kerap kali tersebar. 

Bicara soal data pribadi masyarakat, menurut Taufiq saat ini keberadaan data tersebut sedang menjadi perbincangan dunia. Pertama dari segi data flow atau tentang dari dan disalurkan kemana data tersebut, atas kepentingan apa, hingga siapa yang berwenang untuk menyimpan dan mengaksesnya. 

Selain itu yang tak ketinggalan menjadi pembahasan adalah soal proteksi data. Hal ini penting untuk dilakukan guna melindungi data yang ada. Sedangkan saat ini, diakui Taufiq aturan soal perlindungan data di Indonesiamasih berserakan. Belum menjadi unit regulasi yang komprehensif untuk memberi perlindungan pada data pribadi. 

Karena itu, saat ini telah dibuat Rancangan Undang-Undang (RUU) yang membahas soal perlindungan data pribadi. Isu besar yang mendasari RUU tersebut adalah kejahatan siber, perlindungan data, kedaulatan privasi, dinamika relasi antar bangsa, dan perkembangan ekonomi digital. 

Masih bicara soal regulasi yang jelas soal perlindungan data pribadi, menurut Ahmad Ramli selaku Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika, RUU soal perlindungan data pribadi yang sudah dirancang merupakan hal yang baik.

"Kalau UU ini tidak ada maka pelanggaran akan semakin tinggi. Lalu akan membuat orang sulit mengerti mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan," ujar Ahmad Ramli.

Ada beberapa kejadian yang terjadi akibat data pribadi yang tidak terlindungi dengan baik. Salah satunya berbentuk penipuan dan pemalsuan data. Sehingga kita, sebagai pengguna, juga perlu menerapkan perlindungan berlapis terhadap data yang kita miliki. 

Tidak hanya bicara dari segi regulasi pemerintah soal perlindungan data pribadi, Enda Nasution selaku praktisi literasi digital juga sangat mendukung adanya aturan tersebut. 

Menurut Enda, kehadiran teknologi digital di Indonesia saat ini sudah banyak penggunanya yang menyebabkan adanya ledakan akumulasi data.

"Jika ada regulasi perlindungan data yang jelas maka aturan tersebut akan mengatur dan memberi rambu-rambu kepada para pengumpul data seperti e-commerce, media sosial, fintech dan ada sanksi jika terjadi kebocoran," ujar Enda. 

Selain regulasi yang perlu cepat disahkan, Enda berharap pengaplikasiannya nanti juga berjalan. Ketika terjadi kebocoran data atau kejahatan, maka harus ada pihak yang menindaklanjuti dan bisa memberi rasa aman dan nyaman kepada masyarakat selaku penggunanya. 


Foto: Tangkapan layar webinar "Media Sosial VS Data Pribadi" bersama Siberkreasi/ Irsya Kireina

Tapi, kita pun sebagai pengguna perlu menyadari soal pentingnya menjaga data pribadi ini ya, TemanBaik. Jangan hanya menyalahkan regulasi pemerintah atau para platform pengumpul data, tapi pada dasarnya keamanan berasal dari diri sendiri. 

Terkadang justru kelalaian dalam melindungi data pribadi justru muncul dari diri kita sendiri. Seperti pengalaman yang diceritakan oleh salah satu tokoh masyarakat di Indonesia, Gisella Anastashia. 

Saat itu, perempuan yang akrab disapa Gisel ini mendapat kiriman paket dari temannya. Gisel yang terlalu bersemangat untuk membantu mempromosikan barang tersebut tidak sadar jika ia langsung mengunggah video paket yang diterimanya beserta dengan alamat lengkap dan nomor teleponnya yang masih tercantum.

"Untung teman langsung mengingatkan kalau masih ada alamat lengkap aku disitu. Langsung hapus dan unggah ulang," ujar Gisel. 

Nah apakah kamu pernah mengalami hal serupa TemanBaik? Tingkatkan kejelian dan kewaspadaan ya! Karena tentu saja proteksi terbaik datang dari dalam diri.

Selain adanya andil pemerintah dan kesadaran diri sendiri soal menjaga data pribadi, Enda juga berharap ada kerjasama dari seluruh pihak untuk sama-sama mengkampanyekan perlindungan data pribadi ini. 

"Kalau berhenti di regulasi saja, nanti hanya diketahui dan dipahami orang-orang tertentu. Sedangkan perlindungan data pribadi itu menyentuh ribuan pengguna di Indonesia. Jadi semua harus paham bagaimana keamanan di dunia digital dan bagaimana menggunakan internet yang bijak," tegas Enda. 

Menurut Enda, jika regulasi sudah ada, dan sosialisasi sudah dilakukan, setidaknya kita semua sudah melakukan yang terbaik agar konsumen digital di Indonesia bisa menggunakannya dengan bijak.

Jadi ternyata perlindungan data diri ini penting untuk dibangun dan dilaksanakan oleh semua pihak ya TemanBaik. Perlu ada regulasi, edukasi, kolaborasi dari semua pihak, dan tentunya eksekusi. 

Nah mulai sekarang, hati-hati saat mengunggah atau menyebarkan data pribadi mu dan orang lain ya TemanBaik! Jangan sampai data pribadi kita dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk berbuat kejahatan. 

Foto: Ilustrasi Unsplash/Campaign Creator

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler