Green Canyon, Tempat Indah yang Sempat Dicap Angker

Pangandaran - Tempat wisata Cukang Taneuh atau Green Canyon di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat memiliki suasana yang eksotis. Sungai berukuran besar ini memiliki air yang jernih, pepohonan rimbun yang terjaga, hingga deretan tebing karst yang unik.

Keasriannya ini membuat Green Canyon dijuluki miniatur Grand Canyon. Nama ini melekat setelah wisatawan asal Perancis, Bill John, berkunjung ke lokasi pada 1993. Keindahan Cukang Taneuh yang sepintas mirip Grand Canyon di Amerika Serikat membuat Bill John menyebutnya sebagai Green Canyon. Julukan itu pun akhirnya melekat sampai sekarang.

Wisata khas di tempat ini adalah naik perahu. Tapi, yang paling diandalkan dadalah body rafting. Jumlah pengunjung pun tergolong banyak. Tahun lalu misalnya, kunjungan ke tempat ini mencapai 15 ribu orang.

Di balik ramainya pengunjung, justru tempat ini memiliki cerita tersendiri. Green Canyon dulu dikenal warga sebagai tempat angker dan diselimuti banyak mitos. Bahkan, warga tak ada yang berani masuk ke area Green Canyon.

"Sebelum berkembang jadi tempat wisata, masyarakat di sini justru memandang Green Canyon sebagai tempat angker," kata Ketua BUMDes Guha Bau Teten Sutando.

Tapi, secara perlahan terbentuk kelompok yang mengelola wisata Green Canyon. Sejak dibuka untuk wisatawan pada 1993, berbagai cara dilakukan agar tempat ini dikenal publik dan tentunya dikunjungi.


Setelah terbentuk beberapa kelompok, akhirnya dibentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Guha Bau yang menjadi pengelola wisata Green Canyon pada 2013. Tempat itu pun semakin hari semakin ramai. Kesan angker pun seolah runtuh dengan sendirinya karena hadirnya pengunjung membuat suasana di lokasi menjadi hangat.

Kini, warga setempat tak lagi takut ke Green Canyon. Bahkan, mereka mendapat manfaat besar dari tempat tersebut. Sebab, dengan menjadi tempat wisata, perekonomian warga setempat menjadi bergeliat. Warga setempat kini tak perlu jauh-jauh pergi ke kota mencari pekerjaan.

Mereka bisa menjadi pemandu wisata, membuka tempat oleh-oleh, rumah makan, penginapan, serta beragam manfaat lain. "Alhamdulillah, setelah adanya BUMDes, wisata di sini lebih berkembang, terutama body rafting dan pemberdayaan masyarakatnya," ungkap Teten.

Pemasukan yang ada pun tergolong besar untuk sekelas BUMDes. Dalam setahun, perputaran uang khusus untuk body rafting saja mencapai Rp2 miliar. Ini belum termasuk pemasukan bagi warga sekitar dari aspek pendukung wisata.

Jumlah warga yang terdampak langsung dari hadirnya BUMDes dan wisata juga mencapai 1.000 orang. Ini tergolong banyak karena penduduk di Desa Kertayasa ini sekitar 4.000 orang.

Ke depan, berbagai pengembangan akan dilakukan agar Green Canyon semakin bergeliat lagi. Tapi, yang pasti akan dipertahankan di sini adalah pemberdayaan masyarakat.

Foto: Oris Riswan/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler