Menengok Candi Badut, Peninggalan Kerajaan Hindu Tertua di Jatim

Malang - Dikenal sebagai destinasi wisata favorit, Malang memang menawarkan banyak pilihan: pemandangan alam menakjubkan, kuliner lezat nan unik, hingga tempat rekreasi keluarga modern. Namun, tahukah TemanBaik bahwa kawasan ini juga mempunyai banyak opsi wisata sejarah?

Salah satunya adalah Candi Badut. Bangunan kuno ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang tertuang dalam Prasasti Dinoyo.

Kerajaan Kanjuruhan sendiri diyakini sebagai kerajaan Hindu tertua yang ada di Jawa Timur. Periode berdirinya Kerajaan Kanjuruhan pun diduga sama dengan Kerajaan Tarumanegara yang berada di Jawa Barat (sekitar kawasan Bekasi dan Bogor), yakni sekitar abad ke-8 Masehi.

"Terkait pembangunan candi ini, bait keempat Prasasti Dinoyo menyatakan bahwa seorang raja, pembesar kerajaan, serta rakyatnya membangun sebuah kuil untuk memberantas penyakit yang menghilangkan semangat (di masyarakat pada saat itu). Adapun raja yang membangunnya adalah raja kedua Kerajaan Kanjuruhan, yakni Raja Gajayana," jelas jupel candi, Jayadi.

Bentuk bangunan Candi Badut terbilang cukup sederhana. Dindingnya bahkan tidak memiliki relief. Kendati begitu, ada yang cukup unik dari arsitektur peninggalan berusia lebih dari 1.000 tahun tersebut.

Jayadi menerangkan bahwa bentuk Candi Badut tidak menyerupai bentuk candi-candi Hindu lainnya yang berada di Jawa Timur. "Candi Badut justru mempunyai motif Jawa Tengah. Kalau candi-candi di Jawa Timur bentuknya ramping, Candi Badut tidak. Model atapnya menyerupai candi-candi yang ada di lereng Gunung Dieng. Termasuk juga bentuk pahatan kala di Candi Badut tidak mempunyai rahang bawah, sama seperti yang ada di Jawa Tengah."

Secara keseluruhan, kondisi Candi Badut terbilang sangat terawat. Pelatarannya pun dipenuhi dengan rerumputan dan tanaman yang asri. Kendati begitu, beberapa arca yang diyakini dan semestinya ada di tubuh Candi Badut kini tidak lagi ditemukan.

Satu-satunya arca yang tersisa adalah arca Durga Mahesasuramardhini pada ceruk di sisi kanan candi. Selain itu, di bagian dalam juga terdapat artefak lingga yoni.

"Seperti candi lainnya, kondisi Candi Badut saat ditemukan oleh Maureen Breceher pada tahun 1921 dulu dalam keadaan hancur. Restorasi pertama kemudian dilakukan pada tahun 1925-1926 di bawah pengawasan B. De Haan. Banyaknya batu yang hilang pun membuat De Haan hampir putus asa. Sisa-sisa bangunan tersebut kemudian dibongkar sama sekali dan kembali disusun dengan memilah batu-batu tersebut sesuai ukurannya.

Pekerjaan tersebut tidak menghasilkan bangunan candi yang utuh. Barulah di tahun 1990, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi jawa Timur bekerja sama dengan Dinas Purbakala Mojokerto sampai tahun 1993 melakukan pemugaran yang kedua kalinya hingga menghasilkan bangunan candi seperti sekarang."

Jika diperhatikan, terdapat beberapa tulisan dan pahatan di bebatuan andesit pada tubuh candi. Namun Jayadi menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan ulah tangan-tangan iseng terdahulu sebelum adanya aturan pemerintah mengenai pemeliharaan situs cagar budaya.

Di samping sebagai tempat wisata, Candi Badut hingga kini juga masih digunakan sebagai tempat peribadatan. Candi ini menjadi pusat kegiatan masyarakat Hindu di Malang saat perayaan Nyepi.

Lantas, bagaimana cara berkunjung ke Candi Badut?

Lokasi situs budaya ini berada tidak jauh dari pusat Kota Malang, yakni di kawasan Tidar. Aksesnya merupakan jalan beraspal dan mudah dijangkau baik menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Meski terbilang agak tersembunyi, terdapat papan penunjuk arah yang akan mempermudah pengunjung mencapai kawasan candi.

Waktu operasional Candi Badut adalah mulai pukul 08.00 sampai 15.00 WIB setiap harinya. Pengunjung hanya perlu menyiapkan dana sekitar 10 ribu untuk menyimak sejarah serta menikmati suasana di objek wisata ini. Bagian dalam candi ini pun boleh dimasuki oleh pengunjung. Namun  mengingat bangunan ini merupakan tempat suci, maka pengunjung wanita yang sedang berhalangan pun tidak sebaiknya memasuki area dalam Candi Badut.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler