Jejak Keluarga Jerman yang Melegenda di Bandung

Bandung - Berbicara soal Hotel Savoy Homann di Kota Bandung, banyak yang mengenalnya sebagai salah satu hotel bersejarah dan legendaris. Namun, tahu enggak siapa sosok penting di balik hotel ini?

Adalah sosok keluarga Homann yang jadi bagian sejarah dari Hotel Savoy Homann. Sebab, keluarga Homann ini adalah pemilik awal dari hotel yang hingga kini masih berdiri megah tersebut.



Keluarga Homan ini berasal dari Jerman yang pindah ke Bandung pada 1870. Kebetulan, saat itu pemerintah kolonial Hindia-Belanda mengizinkan pihak swasta, baik perusahaan maupun perorangan, memiliki tanah garapan di kawasan Hindia-Belanda.

Singkat cerita, pada 1871, keluarga Homann ini membangun rumah di Bandung. Masih di area yang sama, dibangunlah sebuah penginapan.

"Dulu waktu zaman namanya Penginapan Homann, ini tuh bisa dibilang rumah panggung kalau zaman dulu, tapi rumah panggungnya juga mewah (jika dibandingkan dengan rumah panggung lain saat itu," kata Marketing Communication Manager Hotel Savoy Homann Fanny Karmarani.



Sosok paling sentral dari keluarga Homann ini adalah sepasang suami-istri bernama Adolf Homann dan Maria Homann. "Owner-nya itu keluarga Adolf Homann itu dan dia stay (rumahnya masih di area) di situ," ucapnya.

Jalur Kereta Api dan Perubahan Bangunan
Melajunya perkembangan zaman, jalur kereta api kemudian dibangun di Tatar Priangan pada 1884. Hal ini berdampak pada operasional Penginapan Homann.

"Seiring perkembangan jalan kereta api, Penginapan Homann juga (berkembang), karena mungkin saat itu Bandungnya juga jadi ramai, ya. Nah, penginapannya jadilah hotel, terus dibangun lagi, dibangun lagi. Pemiliknya sama, masih keluarga Homann," tutur Fanny.

Rumah panggung yang dijadikan area penginapan pun akhirnya dipoles sedemikian rupa. Bangunan yang dulunya semi-permanen berdinding papan, diubah jadi bergaya arsitektur kolonial. Bangunan lama pun tak ada yang tersisa.

"Sudah enggak ada sisa rumah panggungnya karena benar-benar sudah direnovasi jadi bangunan art deco, mengikuti perkembangan (saat itu) juga sih," ungkap Fanny.



Baca Ini Juga Yuk: C.P. Wolff Schoemaker, Sang Arsitek Bangunan Ikonik di Bandung

Penginapan Homann kemudian berubah wujud jadi lebih baik. Sosok penting di balik perubahan itu adalah arsitek berkebangsaan Belanda bernama A.F. Aalbers yang dibantu juru gambar R. de Waal. Selain merombak bangunan lama, area penginapan juga diperluas.

Selain itu, ada sosok lain yang tak kalah penting di balik kemajuan hotel ini, yakni Fr. J.A. Van Es. Ia jadi aktor yang membuat penginapan dan hotel ini berkembang pesat. Ia didaulat menjadi direktur.

Renovasi atau pembangunan hotel pun dimulai Februari 1937 dan tuntas pada akhir 1939. Namun, untuk merancangnya, butuh waktu sekitar setahun, yakni sepanjang kurun 1936.



Setelah renovasi rampung, Penginapan Homann berubah nama menjadi Hotel Homann seiring berubahnya bangunan. Nama Hotel Homann ini dipakai sejak 1939. Lalu, siapa sih orang-orang yang menginap di Hotel Homann ini?

Mayoritas tamu yang menginap adalah para pengusaha perkebunan. Hotel ini laris-manis mengingat saat itu keberadaan hotel maupun penginapan masih sangat langka. Sehingga, Hotel Homann jadi pilihan utama para pengusaha yang butuh tempat menginap di Bandung.

Hal ini tidak terlepas dari keberadaan jalur kereta api yang banyak dimanfaatkan untuk mengirim hasil perkebunan ke Batavia alias Jakarta. Sehingga, Bandung kerap dijadikan lokasi persinggahan para pengusaha dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain itu, ada banyak tokoh penting dunia hingga selebriti dunia yang pernah singgah dan menginap di hotel tersebut. Perdana Menteri Prancis George Clemenceau, musikus Godowsky dan Vera Janacopoulus, sutradara film Arthur Zimbalist, pianis Jose Iturbi, violis Heifetz, hingga aktor Charlie Chaplin.

Di zaman kolonial Jepang, tepatnya pada 1942-1945, hotel ini sempat berubah fungsi menjadi asrama opsir Jepang. Banyak peralayan dan kelengkapan hotel saat itu mengalami kerusakan berat.



Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, hotel ini sempat dijadikan markas Intercross alias Palang Merah Internasional. Pada 1946, hotel ini dikembalikan kepada pemiliknya, Fr. J.A. Van Es. Ia mengelola hotel itu hingga akhir hayatnya pada 1952.

Dari waktu ke waktu, hotel ini kemudian sempat mengalami beberapa renovasi dan berganti kepemilikan. Namun, hingga kini, bangunan hotel tetap diupayakan tetap sesuai dengan aslinya mengingat masuk kategori heritage alias bangunan cagar budaya.

Namanya pun dikenal publik dengan sebutan Hotel Savoy Homan. Savoy sendiri berarti mewah karena sejak dulu hingga sekarang merupakan hotel mewah. Sedangkan Homann diambil dari nama pemilik pertama hotel, yakni keluarga Homann.

"Dari tahun 2000 sampai sekarang ini kepemilikannya oleh Yayasan Kesejahteraan Bank Indonesia," tutur Fanny.



Minim Referensi
Sosok keluarga Homann sendiri sebenarnya sangat menarik untuk diulas. Namun, referensi tentang keluarga ini sangat sulit didapat. Informasi yang ada serba terbatas.

Bahkan, pihak pengelola hotel pun minim informasi soal sosok keluarga Homann ini. "Tentang Nyonya Homan (dan keluarganya) ini sih memang enggak banyak cerita (yang bisa didapatkan)," ungkap Fanny.

Tak diketahui juga kapan keluarga Homann ini meninggalkan Indonesia, termasuk mengalihkan kepemilikan Hotel Savoy Homan. Meski begitu, nama keluarga Homann ini bakal dikenang dalam sejarah. Apalagi, namanya abadi jadi bagian Hotel Savoy Homann. Jejak ini jadi peninggalan nyata sang keluarga berdarah Jerman itu di Bandung.



Rumah Keluarga Homann
Selain bangunan hotel yang kini jadi bangunan megah di Bandung, ada satu lagi peninggalan keluarga Homann, yakni rumah. Rumah keluarga Homann ini ada di area belakang hotel, tepatnya lebih dekat dengan Jalan Dalem Kaum.

Ini berbeda dengan hotel yang lebih dekat diakses dari Jalan Asia-Afrika. Rumah ini dibangun satu masa dengan renovasi rumah panggung menjadi bangunan permanen.

Gaya arsitektur rumah keluarga Homann ini khas banget dengan tema art deco. Jendela besar hingga struktur bangunan yang tinggi. Area di dalamnya juga adem.

"Kalau rumah ini enggak dijadikan penginapan, memang ini hanya difungsikan sebagai rumah saja," ujar Fanny.

Rumah ini pun dipertahankan keasliannya karena juga dikategorikan heritage. Secara fungsi, beberapa kali bangunan ini berubah kegunaan, mulai dari area kantor hingga sekarang menjadi gudang. Bangunan ini pun jadi saksi sejarah dan penginggalan sang keluarga Jerman selain hotelnya.

Sehingga, selain Konferensi Asia Afrika (KAA), Hotel Savoy Homann ini punya begitu banyak rentetan perjalanan sejarah yang mewarnai Kota Bandung.

Foto      : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout   : Agam Rachmawan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler