Kerajaan Burung & Eksotisnya Pulau Rambut

Jakarta - TemanBaik, tahu jika di Kepulauan Seribu ada kawasan bernama Pulau Rambut? Pulau ini begitu eksotis dan unik. Bahkan, di dalamnya terdapat 'kerajaan burung'.

Setiap tahunnya, pulau ini didatangi hingga 24 ribu ekor burung, termasuk burung migran yang melakukan migrasi. Simak ulasan lengkapnya, yuk!

Dilansir dari laman Indonesia.go.id, Pulau Rambut adalah satu di antara 108 gugus pulau yang ada di perairan Kepulauan Seribu, sebuah kabupaten di Teluk Jakarta. Pulau ini berdekatan dengan Untung Jawa, pulau berpenduduk terbanyak di Kabupaten Kepulauan Seribu.

Untuk menuju ke Pulau Rambut, hanya butuh waktu sekitar 10 menit menggunakan perahu motor kayu dari Untung Jawa. Sedangkan jika menggunakan moda transportasi sama dari Pantai Marina Ancol, Pantai Kamal, atau Muara Angke, butuh waktu sekitar 40-90 menit.

Selain itu, menuju Pulau Rambut juga bisa melalui dermaga Tanjung Pasir, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Banten. Dari sini, perjalanan akan memakan waktu 25-30 menit.

Foto: Dok. Istimewa/Asep Ayat - Flickr.com/L-RK

Kawasan Konservasi Sejak Zaman Hindia-Belanda
Pulau Rambut sendiri merupakan kawasan konservasi seluas 90 hektare, yaitu 45 hektare berupa daratan dan sisanya perairan dengan keindahan termbu karang alami. Di sini juga terdapat banyak aneka ikan yang cantik.

Penetapan status kawasan konservasi ini pertama kali dilakukan pada 1937. Ini berawal dari usulan Direktur Kebun Raya Bogor kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di Jakarta setahun sebelumnya.

Baca Ini Juga Yuk: Melacak Jejak Keluarga Italia Pertama di Indonesia

Pulau yang oleh pemerintah Hindia-Belanda disebut Nidelberg ini tercatat sejak 7 Mei 1937 menjadi cagar alam. Keputusan ini tercantum dalam Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Selanjutnya, keputusan itu dicatat dalam Staadblat aluas Lembaran Negara Nomor 245 Tahun 1939. Untuk pelaksanaannya, cagar alam ini diatur dalam Ordonnatie atau Peraturan Perlindungan Alam Tahun 1941 yang dimuat dalam Lembaran Negara Nomor 167 Tahun 1941.

Saat ditetapkan sebagai cagar alam, luas Pulau Rambut tak lebih dari 20 hektare. Pulau Rambut ini memiliki tiga tipe ekosistem, yaitu hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan sekunder campuran.

Dalam perjalanannya, kondisi dan vegetasi Pulau Rambut ini mengalami banyak perubahan. Pencemaran lingkungan di sekitar daratan perairan pulau akibat tumpahan minyak serta aneka sampah yang terseret gelombang laut mengancam ekosistem di dalamnya.

Sebagian tanaman di hutan mangrove seperti bakau, pasir-pasir, dan bola-bola banyak yang mati. Akibatnya, selain menimbulkan abrasi, luas daratan pulau juga menciut. Kematian pohon-pohon ekosistem mangrove pun jadi ancaman bagi habitat burung-burung yang menjadikan puncak pohon sebagai rumah mereka.

Demi menyelamatkannya, pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/Kpts-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999. Lewat surat keputusan itu, Pulau Rambut diubah statusnya yang semula cagar alam menjadi kawasan suaka margasatwa.


Foto: Istimewa

Jadi 'Kerajaan Burung'
Pulau Rambut sendiri memiliki kepadatan ekosistem burung. Bahkan, kepadatannya jadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Bahkan, Pulau Rambut ini menjadi 'kerajaan burung'. Ya, saking banyaknya jenis burung yang ada di sini!

Menurut dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara Onrizal, Pulau Rambut punya kelebihan tersendiri karena memiliki ekosistem hutan campuran. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai habitat yang nyaman bagi aneka jenis burung.

Tidak hanya untuk bersarsang, melainkan juga untuk kawin, berkembang biak, membesarkan anak, hingga berlindung dari serangan predator. Selain itu, tentu saja tempat ini jadi kawasan yang nyaman untuk beristirahat bagi burung.

Baca Ini Juga Yuk: Jejak Keluarga Jerman yang Melegenda di Bandung

Karena berbagai kondisi yang ada, tak heran Pulau Rambut menjadi tempat favorit bagi banyak burung. Bahkan, menurut peneliti dari Fakultas Kehutanan IPB University Asep Ayat, pada masa puncaknya, di pulau ini bisa terdapat 20-24 ribu ekor burung berkumpul.

Jika diukur dari kepadatannya dan luas area, setiap hektare wilayah di Pulau Rambut ini bisa diisi hingga 533 ekor burung. Wah, 'meriah' banget suasana di lokasi, apalagi disertai dengan aneka suara beragam jenis burung.

Ada dua kelompok besar burung yang hidup di sini, terdiri dari 22 jenis burung air dan 39 jenis burung darat. Mereka biasanya berkumpul di Pulau Rambut terutama ketika musim berbiak tiba, yakni antara Januari hingga Juni dengan puncaknya pada April.

Jumlah satwa bersayap di lokasi bakal makin bertambah banyak saat burung migran atau pendatang ikut singgah di sana. Burung migran ini biasanya ke lokasi karena di daerah asalnya sedang terjadi musim dingin, misalnya dari benua Australia, Arfika, Amerika, dan Asia.

Namun, di luar burung migran, ada juga berbagai jenis burung yang memang menetap di Pulau Rambut. Jika diibaratan, di Pulau Rambut ini ada 'warga' lokal dan pendatang. Ada yang sepanjang tahun di sana, ada juga yang sekadar singgah untuk sementara waktu.


Foto: Ilustrasi/Kelanaku.com

Baca Ini Juga Yuk: C.P. Wolff Schoemaker, Sang Arsitek Bangunan Ikonik di Bandung

Parade Unik Pagi dan Sore Hari
Pulau Rambut ini menjadi favorit banyak burung karena banyaknya pepohonan di daratan dan rapatnya hutan mangrove. Hal ini membuat di lokasi terdapat banyak ikan yang tentunya jadi pemikat bagi kawanan burung. Cangak abu, pecuk ular, kowak malam, kuntul besar, rokoroko, dan pelatuk besi adalah sebagian burung yang kerap hadir di pulau ini.

Salah satu keunikan dari kehadiran burung di sini adalah adanya kawanan burung yang terbang. Pagi hari, burung-burung ini meninggalkan sarang dan kembali serentak pada sore hari. Pemandangan ini sangat menarik untuk dilihat karena ada begitu banyak burung yang seolah menampilkan parade.

Ini jadi pemandangan indah tersendiri di lokasi. Bahkan, kondisi serupa belum tentu bisa didapatkan di tempat lain. Bahkan, parade ini seolah jadi pemandangan unik dan hiburan tersendiri bagi penduduk yang tinggal di pulau-pulau tetangganya.

Jelas, berada di sana akan jadi pengalaman unik. Sebab, suasana alam yang indah, baik daratan maupun perairannya, akan memberi sensasi tersendiri. Pemandangan yang ada juga disempurnakan dengan kehadiran burung-burung yang menghadirkan suasana khas ala Pulau Rambut.

Namun, enggak semua orang bisa berkunjung ke Pulau Rambut ini. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk, terutama yang mengantongi izin dan bertujuan melakukan penelitian atau kegiatan konservasi alam saja.


Foto: Ilustrasi Wetland International Indonesia
Ilustrasi: Agam Rachmawan/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler